Wisata Halal, Tren Gaya Hidup Halal

Ilustrasi wisata halal. (Istimewa)

Melakukan perjalanan atau wisata merupakan kegiatan yang dilakukan hampir setiap orang. Entah bertujuan untuk studi, bisnis, ibadah ataupun sekedar untuk liburan. Hakikat hidup adalah untuk melakukan perjalanan. Islam tidak melarang umatnya untuk melakukan perjalanan, selama masih dalam koridor syariah. Petunjuk dalam Al-Quran terkait perjalanan terdapat dalam surat Al-Qof ayat 7: “Dan kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)”.

Dewasa ini sedang gencarnya istilah gaya hidup halal atau halal lifestyle. Tren gaya hidup ini mencakup semua sektor, salah satunya adalah wisata halal (halal tourism). Shakiry (2006) mengungkapkan bahwa “konsep dari halal tourism tidak hanya terbatas pada pariwisata religius, tapi diperluas pada seluruh bentuk pariwisata kecuali yang melanggar nilai-nilai islam”. Sehingga, konsep wisata halal meluas ke berbagai sisi; ibadah, makanan, penginapan, destinasi sampai transaksi.

Dalam membumikan gaya hidup halal, umat Islam harus saling mendukung dengan tujuan utama untuk berdakwah. Rasulullah pun berdakwah diawali dengan perjalanan (berhijrah) untuk penyebaran agama Islam. Kemudian Ibnu Batutah melakukan perjalanan bertahun-tahun yang pada akhirnya menciptakan karya yang luar biasa.

Tidak ada yang dirugikan dalam melakukan sebuah perjalanan. Memang tidak sedikit uang yang akan dikeluarkan, namun rezeki dapat dicari tetapi kesempatan yang sulit untuk didapat kembali. Bagi muslim, tidak perlu khawatir akan terganggunya ibadah saat dalam perjalanan. Karena Islam sendiri memberi keistimewaan bagi orang yang sedang dalam perjalanan untuk melakukan ibadah, seperti; Shalat (jamak dan qashar), tayamum dan puasa qadha’.

Perjalanan mengajarkan untuk melihat betapa indahnya ciptaan Allah SWT. Betapa luasnya bumi dan dapat meningkatkan keimanan kepada Sang Khaliq. Perjalanan akan membukakan mata dan hati untuk melihat apa yang ada diluar sesungguhnya. Perjalanan pula yang mengantarkan kepada hal-hal baru yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Dengan melakukan perjalanan banyak ibroh yang akan didapat. Ada sebuah ungkapan: “hakikat sebuah perjalanan adalah menumbuhkan cinta kepada yang ditinggalkan”. Karena itu: Berjalanlah! (Maesya’bani/STEI SEBI)

Komentar

komentar