Tiga Kitab Wajib Untuk Calon Jurnalis

Ilustrasi. (Istimewa)

“Buku adalah jendela dunia.”
“Buku adalah jendela ilmu.”

Itulah kalimat-kalimat yang sering muncul di kepala ketika telingamu menangkap kata “buku”, benar tidak? Merujuk pada kalimat tersebut, buku pun dianggap sebagai sebuah “pintu ke mana saja” yang bisa membawa orang-orang ke berbagai tempat, tanpa harus mengangkat kaki sama sekali.

Misalnya, ketika seseorang membaca sebuah buku yang berlatar belakang kota New York, penulis buku tersebut akan membuatmu seolah-olah berada di tempat itu – padahal dia tidak benar-benar ada di sana. Orang tersebut hanya sedang duduk di rumah dengan sebuah buku di tangan.

Contoh lainnya, saat seorang murid SMA membaca buku yang membahas tentang kedalaman laut. Di dalam buku itu dijelaskan bagaimana ciri dari laut dalam dan laut dangkal. Siswa tersebut tidak harus mengukur sendiri kedalaman laut tersebut, tetapi dia mendapatkan informasi lewat data-data yang telah tertulis di dalam buku itu. Itulah mengapa buku disebut sebagai jendela dunia dan jendela ilmu.

Selain dianggap sebagai jendela dunia dan jendela ilmu, buku juga dapat menjadi teman setia yang dapat menemani seseorang di kala senang maupun sedih. Buku pun bisa mengisi waktu luang seseorang ataupun menjadi sebuah pelarian bagi mereka yang sedang sibuk. Hal ini sesuai dengan sebuah kutipan milik Ernest Hemingway yang berbunyi: There’s no loyal friend as loyal as a book.

Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang yang memilih membaca buku sebagai hobi mereka. Sebab, benda yang diartikan sebagai lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong ini memiliki banyak sekali manfaat di dalamnya.

Membaca buku tidak hanya bisa menghibur diri, tetapi masih banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan dari kegiatan ini. Selain menghibur, membaca buku juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan karena buku memuat berbagai informasi yang belum tentu diketahui semua orang. Kemudian, membaca juga dapat melatih keterampilan untuk berpikir dan menganalisis, serta meningkatkan kualitas mengingat seseorang. Yang paling penting, membaca dapat melatih kemampuan menulis seseorang.

“The book to read is not the one that thinks for you but the one which makes you think.” – Harper Lee.

Nah, hal-hal tersebut pun berlaku juga untuk seorang jurnalis. Mengapa demikian? Karena dengan membaca, seseorang akan mendapatkan banyak kosa kata baru. Ketika seorang jurnalis sudah memiliki banyak perbendaharaan kata maka akan semakin mudah pula pekerjaannya dalam menuliskan sebuah peristiwa.

Selain itu, wawasan-wawasan baru yang dia dapat pun akan membantunya dalam menganalisis fakta-fakta dari peristiwa yang telah dia dapatkan. Kemampuan menganalisis yang sudah terasah karena seringnya dia membaca juga semakin melancarkan proses penulisan berita.

Oleh karena itu, wajar sekali bukan jika seorang calon jurnalis wajib memiliki satu atau dua buku yang wajib dia baca sebelum dia turun langsung ke lapangan?

Karena itu, penulis sudah memilih tiga buku utama yang wajib dibaca oleh orang-orang yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang jurnalis. Buku-buku ini merupakan karya dari orang-orang yang pernah terjun ke dunia jurnalistik, baik dari internasional maupun nasional. Berikut judul dari tiga buku tersebut:

1. The Word (1982) oleh Rene J. Cappon

“Jabarkan secara rinci.”
“Buang kekacauan dari tulisanmu.”
“Pikat pembaca dan jangan biarkan mereka pergi.”

Kalimat-kalimat tersebut merupakan pesan sederhana yang ingin disampaikan oleh Cappon, mantan penyunting di Associated Press milik Amerika, dalam bukunya yang berjudul The Word: An Associated Press Guide to Good News Writing yang diterbitkan pada 1982.

Sudah seharusnya mahasiswa jurnalistik membaca buku ini untuk mempelajari cara mendapatkan berita dengan benar dan tepat. Selain mahasiswa, para jurnalis pun wajib memiliki dan memahami buku ini untuk dijadikan sarana ‘penyegaran’ agar dapat menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang mereka lakukan dalam pencarian berita.

2. On Writing Well (1976) oleh William Zinsser

William Zinsser merupakan seorang jurnalis, penulis nonfiksi dan juga seorang guru. Karirnya dimulai di New York Herald Tribune pada 1946. Salah satu karya terkenal miliknya, On Writing Well, dijadikan rujukan bagi tiga generasi penulis, wartawan, editor, pengajar dan murid-muridnya.

Lewat kalimat “rahasia menulis yang bagus adalah dengan mencopot setiap kalimat hingga tinggal komponen utamanya saja” yang terdapat di dalam bukunya itu, Zinsser seolah ingin menjelaskan betapa besar dampak sebuah kalimat ringkas dan kata yang tepat dalam sebuah tulisan. Dalam buku itu, Zinsser pun menyampaikan sebuah pesan yang berbunyi: buat pembaca mudah mengerti atau kamu akan kehilangan mereka.

3. Jurnalistik Teori dan Praktik oleh Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A.

Jika dua buku sebelumnya merupakan karya dari penulis mancanegara, maka buku ketiga ini adalah karya dari seorang dosen universitas ternama di Indonesia. Buku yang terbit pada 2014 ini ditulis oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A.

Menurut Budyatna, bukunya ini wajib dibaca bagi orang-orang yang ingin mendalami bidang jurnalistik lebih lanjut, bukan hanya sekadar ingin tahu saja. Wartawan senior harian Kompas, St. Sularto pun berkata, “Buku ini enak dicerna, bermanfaat, tidak terjerumus dalam penjelasan-penjelasan teoritis dan sangat berbobot.”

Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa sumber tulisan dalam buku tersebut berasal dari analisis yang dipadukan dengan pengalaman bekerja sebagai wartawan di lapangan sehingga cocok untuk dijadikan pedoman bagi para mahasiswa jurnalistik dan komunikasi massa.

Bagaimana, future journalists? Sudah memiliki dan membaca tiga buku di atas? Jika belum, segera cari buku-buku tersebut di toko buku terdekat, ya! Jangan sampai menyesal karena tidak sempat memiliki bahkan membaca buku itu. Selalu ingat kalau kunci dari tulisan yang baik adalah bacaan yang berkualitas.

Memang benar pengalaman adalah guru terbaik. Tetapi di dalam mencari pengalaman, seseorang pasti memerlukan sebuah petunjuk — buku diibaratkan sebagai petunjuk itu. Jadi, bacalah buku sebanyak-banyaknya; bukan hanya untuk calon jurnalis, tetapi untuk semua lapisan masyarakat.

“If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write. Simple as that.” – Stephen King.

Ditulis oleh: Tanayastri Dini – Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Comments

comments