Beranda Feature Teruslah Menulis

Teruslah Menulis

Ilustrasi. (Istimewa)

Dalam dunia perkuliahan, pasti sering mendengar kata lelah dengan tugas. Semakin ingin lulus rasanya ada saja hambatan. Entah dari segi tugas atau ujiannya. Semester demi semester dilalui. Dari yang awalnya tugas biasa saja hingga luar biasa.

Hal inilah yang aku alami di semester 4 ini, cukup memberatkan karena tugas ini harus dimuat ke media. Seketika aku termenung memikirkan media mana yang mau menerima tulisanku. Tulisanku saja sudah tidak enak dibaca pikirku. Mungkin konsekuensi ini yang harus diterima sebagai mahasiswa program studi jurnalistik.

Mengapa harus di media? Menurut pak dosen jika tulisan dimuat di media maka mahasiswanya diakui sebagai penulis oleh semua orang. Dari ucapan tersebut mau tidak mau aku berusaha agar dimuat di media tulisanku.

Aku mulai mengirimkan tulisan ke redaksi, seketika senang mendapatkan balasan dari redaksi. Ternyata balasan tersebut malah mengharuskan tulisanku direvisi ulang. Malah wartawan tersebut menyangka aku sedang curhat. Bingung campur aduk ingin menulis apa. Kadang terpikir, ini wartawan apa tidak mengetahui kalau aku menulis susah.

Semangatku tumbuh kembali setelah wartawan tersebut menceritakan kehidupannya, yaitu membuat delapan berita dalam sehari. Menakjubkan dalam hatiku, sedangkan aku seminggu belum tentu satu berita dapat. Menjadi wartawan juga kesana kemari diberikan tenggang waktu.

Pintar manajemen waktu saja tidak cukup untuk menjadi wartawan. Sistematika penulisan dan ketelitian dibutuhkan sekali di dunia wartawan. Cerita dari wartawan tersebut membuat aku termotivasi agar membuat tulisan tidak perlu patah semangat kuncinya hanya mau saja sudah membuat kemauan lain mengikuti ilmu wartawan.

Dari perasaan kesal kepada pak dosen aku pun sadar betapa menakjubkannya profesi wartawan. Menggunakan seluruh indranya bekerja, hingga berita yang dihasilkan berguna bagi masyarakat. Terima kasih pak dosenku.

Dibalik perintah dosen yang menegaskan, sebenarnya juga mengajarkan kehidupan di dunia selanjutnya nanti. Kehidupan yang benar-benar akan kuhadapi. Mengajarkan agar tidak mudah menyerah menjadi wartawan dan dituntut untuk skeptis.

Aku pun menjadi menyesal telah berburuk sangka kepada pak dosen yang jelas-jelas dengan sabar membimbing mahasiswanya. Tak pernah kenal lelah selalu berbagi pengalaman yang banyak ia miliki. (Hanna Pratiwi/PNJ)

Komentar

komentar