Syarah 10 Muwashafat

Fondasi bagi kejayaan masyarakat adalah kualitas individu pembentuknya. Seperti apa kualitas individu sebuah masyarakat, seperti itu pula kejayaan masyarakat. Untuk itu, islam sangat concern pada pembentukan pribadi (takwin fardi), karena dari pribadi-pribadi muslim itulah nilai dan kemuliaan islam dapat di terjemahkan kedalam realita.

Atas dasar itu pula, perbaikan diri (ishalul Frdi) menjadi prioritas pertama dalam rangkaian maratibul amal. Logikanya, tidak mungkin kita dapat melakukan pembentukan keluarga muslim (takwin bait al muslim), membimbing masyarakat (irsyadul mujtama’), sampai mengakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah (ustadziyatul alam) bila individu dan pelakunya belum terseentuh perbaikan. Di sinilah nilai strategis dari 10 muwashafat, karena merupakan parameter bagi suksesnya perbaikan diri (islahul fardi) yang sekaligus garansi bagi suksesnya tujuan tarbiyah secara umum.

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan sejumlah karakter dan mumwashafat yang harus dimiliki oleh setiap muslim, yaitu orang-orang yang sempurna keimanannya, yang berorientasi ketuhanan, berlapang dada, dan bersih hatinya yang didasarkan pada salah satu risalah Imam Hasan Al-Banna yang berjudul Shifat Al-Akh Al-Muslim (Sifat-sifat seorang aktivis muslim) diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, Salimul Aqidah (Akidah yang lurus). Akidah secara bahasa adalah mengikatkan hati pada sesuatu dan melekatkan kepadanya, melekat hingga seolah-olah terikat kepadanya. Meyakini sesuatu berarti membuat sesuatu itu menjadi kuat, kokoh dan tetap. Segala sesuatu yang dijadikan oleh sesoranng untuk mendapatkan kemantapan hati dan pegangan bagi dirinya disebut keyakinan. Jadi makana akidah adalah kemantapan, keteguhan, dan kekokohan terhadap pilar-pilar Islam yang dibangun diatasnya. Ia mengakar kuat dan tertancap kepadanya, senantiasa membersamai seorang hamba yang tidak surut dan tidak pula lenyap karena goncangan, kebimbangan maupun keraguan.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Kedua, Sahihul Ibadah (Ibadah yang benar). Ibadah adalah tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya dan perjanjian yang diambil oleh Allah atas makhluk-Nya. Ibadah adalah istilah yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT berupa ucapan dan perbuatan baik lahir maupun batin. Alasan dari adanya ibadah ialah sebagai puncak cinta dan ketundukan. Karena itulah dikatakan bahwa barang siapa beribadah kepada-Nya dengan cinta semata maka ia adalah seorang zindik, barang siapa beribadah kepada-Nya dengan harapam semata maka ia seorang murji’ah, barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa tajut semata maka ia adalah seorang khawarij, dan barang siapa beribadah kepada-Nya dengan cinta, rasa takut, dan harap maka ia adalah seorang mukmin yang bertauhid.

Ketiga, Matinul Khuluq (Akhlak yang kokoh). Secara bahasa, matin berarti tangguh dalam segala hal lagi kuat, sedangkan khuluq berarti tabiat. Ibnu Manzhur menuliskan di dalam kitab Lisan Al-Arab bahwa hakikat akhlak adalah karakter batin manusia, substansi, dan sifat khusus sebagai makhluk lahiriah yang tampak dari luar. Jadi kata matinul khuluq berarti sifat dan perangai baik manusia yang tangguh dan kuat yang tidak akan goyah oleh kejadian apapun.

Keempat, Qawwiyul Jismi (Jasmani yang kuat). Imam Hasan Al-Banna ketika menjelaskan tentang rukun amal dalam Risalah Ta’alim mengatakan bahwa tahapan aksi yang dituntut dari seorang al-akh yang ikhlas adalah memperbaiki dahuku dirinya supaya menjadi pribadi yang prima jasmaninya (qawiyyul jismi), barulah disebutkan tahapan-tahapan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap akh selanjutnya. Setelah semua itu barulah beliau menjelaskan tujuan-tujuan pergerakan Islam demi mengembalikan kejayaan Islam yang telah lenyap dari negeri-negeri muslim. Beliau memulai penjelasannya dengan keharusan untuk merestorasi pribadi muslim yang paling pertama adalah mumulai dengan sifat qawiyyul jismi. Karena bagaimana mungkin kita dapat berdakwah dengan keadaan fisik yang lemah. Jadi jasmani yang kuat adalah priotitas.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Kelima, Mutsaqqaful Fikri (Wawasan yang luas). Mutsaqqaful fikri secara umum maknanya adalah kecakapan yang dimiliki seseorang yang menjadikannya mengetahui kebenaran segala sesuatu dan memanfaatkannya. Kecakapan seperti ini merupakan slah satu produk akal dalam kapasitasnya sebagai garizah yang denngannya seseorang mapu memahami ilmu-ilmu teoritis. Akal laksana cahaya yang dilemparkan ke dalam hati sehingga hati memiliki kesiapan untuk memahami segala sesuatu. Di antara buah dari akal adalah ilmu, puncak dari kecakapan itu adalah ketika seseorang mengetahui dampak dari segala hal dan mampu mengendalikan syahwat yang mendorong pada kesenangan instan.

Keenam, Qadirun Alal Kasbi (Mandiri dalam penghasilan). Maanusia memiliki keunggulan disbanding makhluk lain karena bisa mengerjakan bermacam pekerjaan yang mampu mengubah lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai seorang muslim kita diharapkan menjadi orang yang berkelebihan harta, terlebih lagi jika menjadi orang yang kaya. Karena tidak dapat dipungkiri harta adalah hal sangat sensitive dan ada beberapa bentuk ibadah yang dapat dilakukan dengan menggunakan harata seperti zakat, infaq, sedekah, umroh, haji, dll. Maka dari itu sebagai seorang muslim kita diharapakan mandiri dalam penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan membantu saudaranya dengan harta yyang dimiliki.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Ketujuh dan kedelapan, Munazzamun Fi Syu’uunihi Harishun Ala Waqtihi (Teratur urusannya & pandai menjaga waktu). Satuan dari waktu adalah jam yang terus terulang sebanyak 24 jam perhari dan pekan yang terus terulang dalamtujuh hari. Apabila jam demi jam dipenuhi kesibukan hingga berganti hari, kemudian berlanjut terus maka berarti seseorang seumur hidup dalam kesibukan.Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Jadi sebagai seorang muslim hendaknya pandai dalam mengatur urusan dengan tetap memperhatikan dimensi waktu didalamnya.

Kesembilan, Nafiun Lighairihi (Bermanfaat bagi orang lain). Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a bawa Raulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya sahabat di sisi Allah adalah sahabat yang paling baik terhadap sahabat yang lain, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah tetangga yang paling baik terhadap tengga lain.”

Kesepuluh, Mujahidun Linafsihi (Terjaga hawa nafsunya). Mengendalikan jiwa termasuk amal saleh terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah yang mengantarkan seseorang mencapai derajat tinggi di syurga dan masuk kedalam golongan orang-orang yang berbuat baik. Syariat agama yang lurus ini banyak menyebutkan tentang jiwa dan pentingnya menyucikan serta membersihkan jiwa dari keburukan-keburkan.

Jadi, 10 muwashafat diatas itulah karakter yang semestinya dimiliki seorang muslim. Semoga kita dapat merealisasikan dalam diri kita, serta bisa membawa keluarga kita, orang-orang disekitar kita, dan orang-orang yang kita cintai untuk ikut merealisasikannya dalam diri mereka. (HARYATI/STEI SEBI)

Komentar

komentar