Sosok Ibu Sebagai Panutan Keluarga

Ilustrasi. (Istimewa)

Waktu ku kecil hidupku amatlah senang
Senang dipangku dipangku dipeluknya
Serta dicium dicium dimanjakan,
namanya kesayangan

Begitulah lirik lagu yang masih terngiang di kepala hampir setiap orang. Lagu yang membawa seseorang menyelami kenangan masa kecil, momen tak terlupakan saat orang tua yang selalu menemani dan berada di samping kita, memberikan kasih dan sayang yang tiada tara. Serta terhanyut membayangkan sesosok mahluk yang memeluk untuk pertama kalinya kita bernafas di dunia ini. Ada yang memanggilnya mama, mami, umi, bunda, bundo, emak hingga ibu. Apapun panggilan yang digunakan tetap akan mengartikan satu yakni seseorang yang diciptakan Tuhan yang menjaga anak dan keluarganya, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi dengan seluruh kekuatan yang ia punya, meski harus menyakiti ataupun menyusahkan diri sendiri, sosok ini tetap setia mengerahkan seluruh keringatnya demi anak tercinta.

Pernahkah terbesit dalam benak kalian, para anak perempuan tentang bagaimana memahami perasaan ibu kalian?, serta bagaimana kelak kalian akan menjadi seorang ibu? Siapakah yang menjadi role model seorang ibu bagi kalian? Ibu kalian sendirikah? Selain itu, bagaimanakah kalian memahami perasaan ibu kalian sehingga menjadi role model yang baik dan dapat kalian tiru dikemudian hari?

Lihatlah ke dalam hati, diam sejenak dan pikirkanlah bagaimana seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah, serta berjuang membeli sekotak susu di tengah – tengah sulitnya ekonomi yang menghadang. Tak perduli berapapun yang didapatkannya dari hasil keringat di kantor, ia tetap menyisihkan uang demi anaknya yang merengek meminta seteguk susu. Miris dan sedih rasanya membayangkan perjuangan yang tak henti hingga anaknya tumbuh dewasa dengan sehat.

Tak berhenti sampai disitu, ibu masih harus berjuang keras ketika anak mereka dilanda penyakit yang seiring waktu berdatangan. Saat jerit kesakitan sang anak terdengar karena sakit yang dirasakannya tidak tertahankan, Ibu dengan sigap dan setia menghampirinya, dan menemaninya menuju ke rumah sakit.

Ibu sibuk mondar – mandir mengurus pengobatan anaknya. Ibu juga masih harus menemani anaknya yang tak ingin ditinggal di ruang rawat inap sendirian. Ibu memeluknya penuh cinta, sayang, dan kecemasan, sambil berdoa dengan berbisik agar cepat disembuhkan oleh Tuhan, hingga ibu tertidur lelap mendekap anak tercintanya.

Terus berlanjut, sang ibu masih harus berteguh hati ketika anak tercintanya terserang penyakit yang cukup serius dan mengharuskannya memberi perhatian ekstra, di samping mengerjakan setumpuk tugas kantor yang juga menunggunya. Berbulan – bulan sudah perjuangan sang ibu mengurus anaknya menjalani pengobatan telah terlaksana. Setia menemani, menghibur, dan mengeluarkan auang yang tidak sedikit. Ya, lagi dan lagi sang ibu harus bertahan demi anak tercintanya di tengah kehidupan ekonomi yang cukup mencekik.

Saat itu, anaknya masih sangat belia, untuk memahami kenyataan hidup yang terjadi, masih terlalu dini membantu ekonomi sang ibu. Namun, anaknya tidak terlalu kecil untuk menghibur sang ibu dan sedikit membantu meringankan beban kerja rumah yang harus dijalani ibunya.

Begitu hebat luar biasanya kesetian sang ibu, tak hanya menjaga, dan menemi sang anak, ibu juga melindungi anaknya dari kemarahan sang ayah yang menyeramkan dan di luar batas. Dengan tubuh yang tidak sekuat pria, ibu berusaha melindungi anaknya dan meredam emosi sang ayah. Setangguh itulah sang ibu disaat Ia harus melindungi anaknya ia juga harus memberanikan diri menyadarkan sang ayah dari gelapnya emosi yang tidak terkendali.

Disamping itu, ibu masih harus berjuang dengan teguh menghadapi anak perempuannya yang seiring waktu tumbuh menjadi gadis dewasa. Mengawasi dan menjaga anaknya atas kekhawatirannya akan perkembangan pergaulan muda yang semakin mencemaskan. Sang Ibu sangat mengkhawatirkan kejahatan yang kian bertebaran dan tak kenal batas, seta keselamatan dan kesehatan puterinya yang membuatnya tak berhenti berdoa. Sinyal peringatan dan pesan yang terus berdatangan selalu diberikan untuk puterinya menjadi pembatas bagi sang anak agar kekhawatiran sang ibu dapat berkurang.

Terkadang, kemarahan dan kekesalan menghadang sang ibu di saat anaknya, tidak mendengarkan nasihat yang ia berikan. Hal ini membuat sang ibu kecewa namun khawatir dan sedih. Sebaliknya, terkadang sang anak juga merasa bahwa sang ibu tidak dapat mengerti dirinya sehingga membuatnya kesal, sedih dan marah.

Meski begitu, sang ibu tetap tidak berhenti memberikan perhatiannya dan mencoba untuk lebih memahami perasaan puterinya. Sang aanak juga merasa luluh dan sedih hingga tidak sanggup untuk marah dan merasa sebal terlalu lama dengan ibunya karena ia merasa bahwa hatinya tidak tenang, dan tidak ingin membuat ibunya kecewa dan sedih terlalu lama.

Ada begitu banyak perjuangan yang dikerahkan sang ibu dengan keringat, pengorbanan, kekuatan dan kasih sayang serta air mata. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi kekuatannya yang tidak dapat terkalahkan yakni, doa sang ibu. Doanya selalu menjadi sumber kekuatan terbesar untuk anaknya. Meski hanya berbisik sekalipun doanya mampu menjadi obat dari segala penyakit yang diderita anaknya. Doanya mamapu mengantarkan sang anak meraih sekolah negeri dan perguan tinggi negeri yang menjadi mimpi bagi ia dan anaknya. Doa dan pengajarannya mampu membimbing anaknya dalam menimba ilmu keagaaman maupun moral. Begitulah sosok yang sabar, membimbing dan teguh dari diri seorang ibu.

Kelak seorang anak mencintai ibunya dengan caranya sendiri baik dari sisi positif dan terlepas dari tindakan yang membuatnya kesal karena kelak Ibunya hanya memberikan kasih dan sayangnya serta tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada puterinya. Dan ingatlah kelak kita para perempuan juga akan menjadi seorang ibu, oleh karena itu jadikanlah ibumu sebagai role model dengan segala sisi postifnya dan kasih sayangnya. (Fikriah Nurjannah/PNJ)

Comments

comments