Si Penjual Perlengkapan Pemakaman

(Foto Anti Syaima Bahfein)

Bapak berusia 54 tahun ini berjualan perlengkapan pemakaman dan bunga makam. Ia bernama Sarbani dengan panggilan trennya Eko, walaupun bukan orang Jawa. Ia tinggal di Belakang Lenteng Agung.

Dengan memiliki 2 orang anak laki-laki yang sudah lulus sekolah dan satu perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Meneruskan usaha orang tuanyalah yang membuat dirinya menjadi memiliki pekerjaan. Dengan modal pas-pasan ia berjualan bunga makam di pasar tradisional Lenteng Agung, ia rela berjualan dari pagi hingga sore hari demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Meskipun mendapatkan penghasilan yang pas-pasan, ia tetap memiliki hati nurani yang tinggi, jika ada pembeli yang menawar dagangannya, dengan ikhlas ia memberikan potongan harga walau membuat keuntungannya yang ia dapat menjadi berkurang .

Bangun pagi-pagi sekali untuk melengkapi jualannya ke pasar Rawa Belong, hanya sedikit yang ia beli, tetapi ia berusaha untuk beli beraneka ragam, supaya pembeli tidak kecewa dengan dagangannya.

Untuk menuju ke tempat berjualan pun membutuhan banyak tenaga, ia berjalan kaki dengan jarak 20 KM, dengan semangat yang sangat tinggi ia lewati setapak demi setapak seolah perjalanan sangat dekat. “Keuntungan yang tidak seberapa hanya berjualan bunga makam, mana mungkin bisa beli motor,” ujarnya.

Keuntungan yang ia peroleh tidak lah banyak, dalam sehari ia dapat menghasilkan 40 ribu rupiah, hingga pernah sampai 200 ribu rupiah, tergantung dengan bagaimana keadaannya.

Sampai saat ini bunga makam tersebut kurang lebih memasuki tahun ke-20, yang dimana sering sekali penggusuran tempat atau lahan oleh salpol pp, hingga ia terus-menerus mencari tempat yang nyaman, saat ini ia mendapatkan tempat yang termasuk lebih minim dibandingkan dengan yang dulu. (Anti Syaima Bahfein/PNJ)

Komentar

komentar