Renungan: Pelajaran Seumur Hidup

Ilustrasi. (Istimewa)

Seseorang akan tumbuh menjadi lebih kuat setelah dia mampu menahan rasa sakit. Jika ia mampu bertahan maka ia akan berhasil di ujian selanjutnya.

Desing mesin gerinda tiba-tiba berhenti diikuti ucapan istigfar seorang lelaki tua. Sumaryanto (65) sedang memotong kerangka besi ketika kabel mesin terbelit, membuat mata gerinda lepas dan terlempar merobek tangannya. Darah segar tak berhenti bercucuran.

Tak lama, anak sulungnya keluar dan terkejut mendapati tangan ayahnya berlumuran darah. Ia masuk kembali ke dalam rumah dan keluar membawa kain, tangannya gemetar membebat luka menganga sembari memberondong bapaknya dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana.

“Tolong ambil dompet Bapak!” ujarnya tenang. “Di obatin dulu Pak lukanya” tak hanya mengambil dompet, ia juga mengambil kotak P3K. “Nggak bisa, lukanya dalam, harus dijahit.”

Mereka pergi ke klinik tak jauh dari rumah dengan mobil Pak Anwar, tetangga mereka. Sesekali Pak Anwar menanyakan keadaan Bapak. Wajah Bapaknya pucat, kain yang dipakai untuk membalut luka sudah berubah menjadi merah. Dalam hati, Yas berdoa sungguh-sungguh. “Tuhan selamatkanlah Bapakku”. Ia sangat takut kehilangan Bapaknya.

Ingatan si anak melayang ke masa kecilnya, bapaknya selalu membacakan dongeng dan kisah- kisah hebat sebelum tidur, mengajaknya berkemah di alam bebas. Matanya basah tapi enggan menangis. Ia teringat kembali pesan Bapak dulu ketika mereka berkemah di kaki Gunung Bundar, Ia dan adiknya berbaring di dekat api unggun mendengar Bapak berkisah Mahabarata. “Jadilah perempuan tangguh seperti Srikandi. Ia kuat dan mandiri tetapi juga lembut dan baik hati.”

“Lha, Bapak yang kena gerinda kok malah kamu yang nangis?” Bapak tersenyum dari spion depan, bicaranya menenangkan. Ia tak tahan lagi, pandangannya dibuang ke jendela, lalu ia menangis, tanpa suara.

Bapak ditangani di UGD. Dokter membersihkan luka dan memberinya bius lokal. Mereka pulang ketika dokter selesai memberi Bapak 20 jahitan luar dalam.

Setibanya di rumah, Sumaryanto melanjutkan pekerjaannya. Ia mengabaikan perkataan dokter yang menyuruhnya istirahat. “Nggak papa kok, ini bukan pertama kali Bapak dapet luka jahit, lagipula uangnya buat sangu kuliahmu besok”. Si anak terdiam, tak bisa lagi mendebat. Sejak pensiun 5 tahun lalu, Bapaknya membuka bengkel mobil.

Hujan deras turun sejak sore. Petir yang menggelegar membuat listrik padam. Jam menunjukkan pukul 9 malam, namun listrik belum juga menyala. Dengkuran keras terdengar disela-sela ributnya air hujan yang jatuh menimpa asbes rumah. Sumaryanto tertidur setelah minum obat pereda nyeri. Dari pendar lilin di sudut kamar, Ia bisa melihat alis dan kumis bapaknya mengelabu. Wajahnya dipenuhi guratan, menyiratkan lelah yang tak pernah sekali pun terucap.

Ketika mengganti perban Bapaknya tadi sore, ia bertanya mengapa beliau begitu santai menghadapi situasi buruk itu, Bapaknya menjawab “Seseorang akan tumbuh menjadi lebih kuat, setelah dia mampu menahan rasa sakit. Jika ia mampu bertahan maka ia akan berhasil di ujian selanjutnya.”

Hari itu Bapaknya telah mengajarkan pelajaran berharga. Pelajaran yang akan diingat seumur hidupnya. (Griska Laras Widanti/PNJ)

Komentar

komentar