Beranda Feature Renungan; Ibu, Si Pemilik Hati Mulia

Renungan; Ibu, Si Pemilik Hati Mulia

Ilustrasi. (Istimewa)

Banyak orang mengibaratkan ibu sebagai sosok malaikat yang berwujud manusia. Ia tidak memiliki sayap, namun sebagai gantinya, ia dikaruniai hati yang begitu mulia. Kebaikan hati seorang Ibu tidak bisa dilihat, tapi dapat dirasakan oleh buah hatinya.

Bukan hanya tentang material yang ibu berikan kepada anaknya, tetapi juga hal yang lebih penting dari itu, yakni kasih sayang. Bahkan, ada lagu yang mengatakan, kasih sayang ibu sepanjang masa. Dimulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan, mendidik, dan seterusnya.

Perihal mengandung, tentu bukan hal yang mudah. Ibu harus merelakan waktunya selama sembilan bulan dengan perut yang membuncit. Bahkan, ibu tidak mengumpat dengan janin yang menyebabkan tubuhnya membesar. Ia justru mengelusnya, membelai dengan penuh kasih sayang. Belum lagi saat fase melahirkan, ibu mempertaruhkan nyawanya demi bayi yang ada di perut dapat keluar dengan selamat. Ketika tahap menyusui, ibu rela keheningan tidurnya diganggu oleh suara tangisan buah hatinya yang sedang haus dan lapar.

Kata orang, merawat lebih sulit daripada mendapatkan. Hal tersebut pula yang berlaku terhadap kasih sayang ibu kepada anaknya. Demi merawat, membesarkan, mendidik, dan menjaga buah hatinya, Ibu bisa menjadi apapun yang ia inginkan. Contohnya, ia bisa menjadi seorang koki andal meskipun tidak memiliki gelar di bidang ilmu pemasakan. Walau tanpa resep, masakan Ibu tetap terasa lezat, sampai-sampai restoran bintang lima pun dibuat kalah. Selain menjadi koki, ibu juga juara sebagai manajer keuangan. Ia mampu mengatur segala kebutuhan dengan uang yang tidak berlimpah. Ia juga bisa berubah menjadi dokter sekaligus perawat kala si buah hatinya sedang tidak berstamina. Tak cukup sampai di situ, ibu juga bisa menjadi pendidik yang baik meskipun ia sendiri bukan orang yang berpendidikan. Ia hanya ibu yang menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.

Meski telah dirawat, dibesarkan, dan dididik, terkadang si anak lupa diri terhadap jasa dan kasih sayang yang ibu berikan kepadanya. Tak jarang sang anak mengumpat karena kesalahan ibunya yang hanya sebesar biji jeruk, misalnya kejadian saat penulis begitu kesal karena diminta bantuan oleh sang ibu dalam mengaplikasikan telepon genggam.

Contoh kasus lain, yaitu tentu masih terekam di otak kita mengenai seorang anak yang menggugat ibunya sebesar miliaran rupiah karena pernah berhutang dengan nominal yang jauh lebih sedikit dari gugatannya beberapa tahun silam. Bagaimana bisa seorang anak menuntut orang tuanya sendiri mengenai uang, setelah apa yang orang tuanya berikan kepadanya? Padahal banyak anak yang tidak mendapatkan kesempatan membalas budi dan berbakti kepada ibunya karena telah tiada. Lantas, apakah kita sebagai anak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut lalu memilih “berduel” di pengadilan demi uang?

Apakah sang anak sudah lupa bahwa keberadaannya di dunia adalah berkat ibu?

Apakah ia juga tidak ingat bahwa yang merawat, membesarkan, dan mendidiknya sejak kecil adalah perbuatan ibu?

Sang Ibu sendiri menyikapinya dengan pasrah kepada Tuhan. Bahkan, ia tidak membenci anaknya yang telah menjadikannya pesakitan, ia hanya tidak menyangka. “Saya mah gak menyangka anak yang disayang itu malah menggugat ke pengadilan,” ungkap sang ibu. Pada dasarnya, tidak ada kata dendam di kamus ibu, ia akan selalu memberikan kasih sayang yang tulus kepada buah hatinya.

Kasih sayang dari seorang ibu memang tidak ada batasnya. Ibaratnya, seperti lingkaran yang tidak penah menemukan titik akhir. Jika kasih sayang bisa berwujud, maka jangan tercengang melihat betapa besar kasih sayang milik ibu yang ia curahkan kepada buah hatinya.

Hendaknyalah semua kita berterima kasih kepada ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, menjaga, mendidik, dan membesarkanku. Sekarung berlian pun belum cukup untuk membalas itu semua. (Maharani Sabillah/PNJ)

Komentar

komentar