Merajut Asa dari Makanan Beku

(Foto Nur Aina Putri P)

Matahari belum menampakkan sinarnya. Namun, Ningsih (30) sudah bersiap untuk mencari rezeki. Setiap pukul 3 pagi, ia menempuh jarak 4 kilometer dari rumahnya menuju pasar yang terletak di Perumahan Pondok Ungu Permai, blok AM, Bekasi, untuk berjualan makanan olahan beku (frozen food).

“Saya berjualan mulai pukul 05.00 sampai 09.00,” ujarnya sambil melayani pembeli dengan cekatan. Dahulu Ningsih hanya berjualan tahu, namun kini dengan dibantu dua orang karyawan, ia mulai menjual makanan olahan beku berupa sosis, bakso, nugget, otak-otak, dan sebagainya.

Pagi itu, Ningsih yang merupakan seorang mantan peracik obat di apotik, baru saja melayani pelanggan yang membeli dalam jumlah banyak. “Buat untung mah sedikit. Paling sekitar Rp100.000 perhari. Kalo untuk Sabtu-Minggu alhamdulillah bisa dapat sekitar Rp500.000,” ujarnya dengan wajah berseri. Namun, tak selamanya usaha yang ia jalani menghasilkan untung. Ada saat di mana cuaca tidak menentu, seperti hujan atau banjir yang menyebabkan sepinya pembeli.

Merintis dan Berkembang

Pada 2006, bersama sang suami, Ningsih memulai usaha tersebut. Dengan usia yang tidak muda lagi, ia memilih untuk berjualan frozen food. “Dari awal usaha sih belum ada ganti jenis, pertama usaha jualannya tahu dan semakin bertambah aja variasinya. Alhamdulillah nambah ke barang sembako. Juga ya karena barangnya bisa lebih awet kalau masih ada sisa,” ucap Ningsih.

Tak mudah baginya untuk bisa seperti sekarang. Butuh waktu sekitar 2-3 tahun agar mendapatkan tempat dihati pelanggan. Kata-kata yang ramah serta tersenyum saat melayani pembeli, dan harga yang terjangkau dengan kisaran Rp2000-Rp50.000, membuat usahanya semakin berkembang.

Disaat pembeli sedang sepi, Ningsih menyiasatinya dengan mengurangi barang yang dipesan ke distributor untuk meminimalkan risiko rusaknya barang. Solusi lain yang dirinya lakukan ketika barang yang dijual tersisa, ialah memasukkan ke dalam freezer. Lalu, secara berkala memeriksa apakah kondisinya masih baik karena setiap barang mempunyai masa simpan yang berbeda.

Ningsih merasa bersyukur karena dengan berjualan makanan olahan beku, ia dapat menyekolahkan anaknya yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SD.

“Enak, kalo di pasar itu ngga jenuh. Ada hiburannya dan bisa bercanda bareng teman-teman pedagang lain,” selorohnya. (Nur Aina Putri P/PNJ)

Comments

comments