Menumpuknya Sampah di Pasar Kemiri Muka Depok

Tumpukan sampah di Pasar Kemiri. (Foto Balggys)

DEPOK – Salah satu masalah yang sering dihadapi di pasar tradisional adalah masalah persampahan. Sampah merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat karena segala aktivitas masyarakat pasar menghasilkan sampah.

Jika sampah ditumpuk dan dibiarkan saja oleh warga di sebuah tempat pembuangan sampah maka akan menjadi sebuah masalah. Tidak hanya mengganggu pemandangan akan tetapi juga bau yang tak sedap dapat menimbulkan masalah kesehatan. Sehingga perlu kesadaran oleh warga untuk mengelola sampah dengan baik.

Bagi penumpang commuter line Jabodetabek dari arah Jakarta menuju Bogor pasti paham kondisi saat akan memasuki Stasiun Depok Baru. Selepas dari Stasiun Pondok Cina, sekitar 500 meter sudah tercium aroma tak sedap, apalagi saat musim hujan. Sumber aroma tak sedap itu berasal dari pasar tradisional Kemiri Muka, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Kota Depok.

Pasar kemiri yang luasnya 2,6 hektar dari mall Depok sampai batas arah flayover, tepatnya pasar itu berbatasan langsung dengan jalur kereta dan Stasiun Depok Baru. Kondisi pasar temboknya sudah nyaris roboh, tempat itu amatlah kumuh, dan cat ditemboknya mulai mengelupas. Kotor, bau, becek serta tumpukan sampah yang banyak menjadi pemandangan yang terjadi tiap hari.

Pemandangan yang terlihat pada bagian belakang pos penjagaan. Di sana tumpukan sampah menggunung. Sampah tersebut berasal dari aktifitas para pedagang yang diambil oleh para petugas persapuan kebersihan. Setelah mengambil semua sampah disimpan ke Tempat Penyimpanan Sampah (TPS) lalu dari Dinas Keamanan Kebersihan (DKP) yang pengakut armadanya langsung datang untuk mengangkut sampah tersebut.

Dalam pengambilan sampah sering terjadi pengahalang dan terlambatnya pembuangan sampah, yang mengakibatkan menumpukan di TPS. Dikarenakan Sumber Daya Manusia (SDM) tidak memadai dan juga truk pengangkut sampah yang terhalang oleh kemacetan.

Bukan hanya itu TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ditutup di hari minggu, sampah yang berada di TPS tidaklah berjalan, dan tidak bisa dioper ke TPA. Sedangkan aktifitas para pedagang terus berjalan, maka sampah menumpuk di hari itu. Sampai saat ini belum ada antisipasi dari pengeloa kebersihan ataupun pengelola pasar.

Lia seorang pedagang mengaku terganggu terhadap penumpukannya sampah, yang sering terjadi keterlambatan. “Ya, mba aku tuh udah bayar tapi tetep ajah telat, apalagi kalau gak di bayar”tutur Lia dengan nada kesal. Retribusi sampah yang sebenarnya tidaklah di pungut biaya, tetapi semua itu tidaklah sesuai dengan peraturan. Kenyataanya para pedagang dipungut biaya dari Rp. 1000,- hingga Rp. 2000,-.

Kepala unit pelaksana teknis (KUPT) mengarahkan dalam pengelola sampah pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kota Depok. “Tugas kami hanya mengatur pasar, jadi dalam sampah itu sudah diatur oleh dinas kebersihan”, Ujar Fahrudi sebagai staff UPT. Seakan melempar tanggung jawab masalah ini. (Balggys Maeshyntha/PNJ)

Comments

comments