Komite Audit dan Kualitas Laporan Keuangan di Singapura

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Darihan Mubarak (Ketua Umum Islamic Economics Forum STEI SEBI)

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan dampak komite audit terhadap kualitas laporan keuangan di Singapura. Tugas utama komite audit adalah mengawasi proses pelaporan keuangan untuk memastikan manajer melaporkan kinerja perusahaan mereka secara etis. Pelaporan oportunistik kinerja perusahaan dengan memanipulasi angka keuangan sangat merugikan pemegang saham karena pemegang saham akan mendapatkan informasi palsu yang dapat menyebabkan asimetri informasi dan biaya modal yang lebih tinggi. Efektivitas komite audit perusahaan dalam mengawasi proses pelaporan keuangan bergantung pada independensi anggota komite audit, keahlian anggota komite audit, dan keanggotaan yang tumpang tindih pada audit dan komite remunerasi.

Komposisi komite audit kurang ketat di Singapura dibanding negara maju lainnya seperti AS. Pada bulan Desember 1999, NYSE dan NASDAQ memodifikasi persyaratan mereka untuk komite audit di perusahaan yang terdaftar di bursa efek dan perusahaan yang dimandatkan untuk memiliki setidaknya tiga anggota komite audit dan semua anggota harus independen yang tidak memiliki hubungan dengan perusahaan yang dapat mengganggu pelaksanaan independensi mereka. Dari manajemen dan perusahaan (Klein 2002). Undang-undang Perusahaan Singapura memiliki persyaratan wajib yang sama namun hanya memerlukan mayoritas anggota komite audit untuk independen. Dalam prakteknya, komite audit di Singapura mungkin berisi direktur eksekutif (termasuk CEO) dan direktur non-independen non-eksekutif non-eksekutif (berafiliasi atau abu-abu) sebelum 2001. Kode Tata Kelola Perusahaan Singapura pada tahun 2001 dan versi revisi berikutnya pada tahun 2005 dan 2012 mewajibkan semua anggota komite audit untuk menjadi direktur non-eksekutif, namun tidak mengharuskan mereka untuk independen, meski mayoritas anggota komite audit dan Ketua harus independen. Selain itu, kepatuhan terhadap Kode Etik Singapura tidak wajib, namun perusahaan yang terdaftar diminta untuk mengungkapkan penyimpangan dari Kode Etik ini dalam laporan tahunan mereka.

BACA JUGA:  Telkomsel MyBusiness Tawarkan Solusi Bisnis untuk UKM

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yuanto Kusnadi, Kwong Sin Leong, Themin Suwardy, dan Jiwei Wang tentang Komite Audit menyimpulkan bahwa tiga karakteristik (independensi, keahlian, dan tumpang tindih keanggotaan) pada komite audit dan dampaknya terhadap kualitas pelaporan keuangan untuk perusahaan yang terdaftar di Singapura. Temuan utamanya adalah kualitas pelaporan keuangan akan lebih tinggi jika komite audit memiliki keahlian campuran dalam bidang akuntansi, keuangan, dan / atau pengawasan. Selain itu, penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa independensi komite audit tambahan akan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan karena komite audit telah memiliki mayoritas direksi independen. Namun, penelitian tersebut gagal menemukan adanya dampak keanggotaan yang tumpang tindih pada komite audit dan remunerasi mengenai kualitas pelaporan keuangan. Secara keseluruhan, hasilnya memiliki implikasi kebijakan dalam meningkatkan tata kelola perusahaan yang efektif dalam hal kualitas pelaporan keuangan.

BACA JUGA:  Hadapi Tantangan Dunia Kerja, Telkomsel Bekali Mahasiswa Jabotabek dengan Sertifikasi Bertaraf Internasional

Secara rinci tulisan ini mencoba menjelaskan tiga karakteristik komite audit (independensi, keahlian, dan keanggotaan yang tumpang tindih) mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan untuk perusahaan yang terdaftar di Singapura pada tahun fiskal 2010. Berdasrkan penelitian yang dilakukan oleh Yuanto Kusnadi dkk tentang Komite audit menemukan bahwa lebih dari 98% perusahaan sampel yang ada di Singapura memiliki komite audit dengan mayoritas Direksi independen dan independensi komite audit lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan perusahaan. Hasil penelitian tersebut meragukan perlunya mewajibkan semua anggota komite audit independen seperti yang dilakukan Sarbanes-Oxley Act di AS.

BACA JUGA:  Medina, Foodware Halal Pertama di Indonesia Ajak Buah Hati Asah Kreatifitas Melalui Lomba Mewarnai

Temuan penting lainnya yakni bahwa walaupun kualitas pelaporan keuangan dikaitkan secara positif dan signifikan dengan adanya keahlian akuntansi di komite audit, namun tidak terkait dengan kehadiran keahlian keuangan atau pengawasan di komite audit. Temuan ini melengkapi temuan sebelumnya oleh Dhaliwal et al. (2010) untuk perusahaan AS dan memberi sinyal akan pentingnya memiliki anggota komite audit dengan keahlian akuntansi (bukan keahlian keuangan atau pengawasan) dalam mengawasi proses pelaporan keuangan. Temuan tambahan menunjukkan bahwa komite audit dengan keahlian akuntansi tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan. Sebaliknya, komite audit dengan perpaduan antara akuntansi, keuangan, dan / atau pengawasan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Maka, semakin banyak keahlian komite audit akan semakin berdampak positif terhadap kualitas laporan keuangan.

Komentar

komentar