Ketika Harta Menjadi Segalanya

Ilustrasi.

Kalau yang terpenting dalam hidup kita adalah meneruskan hidup,maka apapun pekerjaan dan kegiatan yang kita lakukan , semata-mata tertuju untuk menghiasi dan mencukupi hidup. Lebih lugas lagi , mengumpulkan materi untuk menyambung hidup. Padahal hidup bukanlah yang terpenting tetapi yang terpenting adalah menyiapkan bekal bagi kehidupan abadi kelak setelah mati.

Kesenjangan ekonomi dan kesejahtraan menganga. Kesenjangan semakin lebar ketika krisis ekonomi datang bertubu-tubi.bencana ekonomi sudahlah menjadi kemestian. Era baru ekonomi dan keuangan dunia yang ditandai oleh kemapanan sistem ekonomi.disebut era baru karena penggandaan uang begitu dahsyatnya sehingga pertumbuhan sector riil akan selalu tertinggal dari lompatan pertumbuhan sector moneter.

Selama sistem yang sama masih dipergunakan , problem yang sekarang menghantui peradaban manusia tak akan pernah bisa diselesaikan. Selalu akan muncul korban dan tumbal. Kata salah seorang pakar dunia, beliau mengatakan “ problems can not solved at the same level of awareness that created them” ( Albert Einstein ).

Di luar control orang-orang, moralitas terkadang di kampanyekan, sistem keuangan yang saat ini mencengkram dan menodai keadilan ekonomi , di anggap sebagai solusi. Para ekonom mengatakan “ perkembangan ekonomi yang di raih oleh macam-macam asia itu hanya perkembangan semu. Di sebut demikian karena pertumbuhan ekonomi yang di capai tidak di topang dengan fundamental ekonomi yang kuat . lebih bersumber ri memeras keringat ( perspiring ) seperti di tunjukan oleh ekspor yang di dominasi pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi atau setengah jadi dengan nilai rendah.fakta yang ada, ekonom Indonesia yang semula di prediksi lebih memiliki fundamentalekonom yang kuat, kenyataanya rupiah yang paling babak belur diantara mata uang kawasan yang terdepresiasi.

Kehancuran ekonomi ialah dikarenakan oleh sistem ekonominya sendiri yang salah. Allah swt berfirman dalam surot Al-Baqarah : 275, yang artinya, “ orang –orang yang makan ( mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran ( tekanan penyakit gila ). Jiwa manusia pula ketika ekonoom kapitalis yang dimotori riba sabagai dasarnya. Maka dari itu kerusakan Negara ini di akibatkan oleh orang-orang yang tidak punya pemikiran yang jernih, dirinya tak punya lagi hati nurani, fikiranmereka hanyalah uang dan uang, maka apa yang mau di harapkan jika Negara sudah seperti ini, tak ada pilihan lain maka tunggulah kehancuran yang besar, kelaparan dimana-mana,kemiskinan merajlela, gelandangan, pengangguran dan lain sebagainya, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Sedikit cerita, ketika Nabi Nuh as memeriksa setiap mahkluk yang berpasangan yang memasuki perahu nya, tiba-tiba dilihatnya seorang tua. Ia sendirian . nabi Nuh bertany a” untuk apa kamu masuk kesini ?” lalu iblis itu menjawab “ Aku kesini untuk mempengaruhi sahabat-sahabatmu , tubuh mereka boleh bersam mu , tapi hati mereka supaya bersamaku “.lalu Nabi Nuh berkata “ keluarlah kau dari sini wahai musuh Allah! Kamu terkutuk!!”.merasa di hardik si iblis pun mencoba menawar Nuh dengan membujuk akan mengungkapkan sebuah rahasia, rahasia itu ialah ada dua hal yang akan membinasakan manusia yaitu keinginan yang sangat dan kedengkian”.dari cerita Nabi Nuh di atas dapat disimpulkan bahwa yang membuat manusia mempunyai keinginan yang sangat atau kata lainya sebuah obsesi yang tinggi maka ia akan menghalalkan segala secara dengan bantuan iblis.

Kita review lagi kebelakang , ketika krisi menyapu kawasan Asia tenggara , mantan presiden soeharto terpaksa membungkuk di hadapan Mitchel Camdessus . soeharto , sang jenderal yang lebih dari 30 tahun Berjaya, tiba-tiba tertunduk di hadapan komprador asing dan di paksa untuk menandatangani letter of intens (Lol ).

Krisis ekonomi terjadi mulai dari para penguasa yang tergila-gila untuk terus mempertahankan kekuasaanya, untuk bisa senang-senang, apalagi memperluas pengaruh, mereka harus menguasai sumber daya dan harta.

Keselamatan manusia ditentukan oleh dua rambu utama, yaitu larangan dan perintah. Meninggalkan larangan Alllah ( munkar ) dan menjalankan perintahnya ( amar ) menjadi kunci keselamatan . maka tidak heran jika Allah swt menjanjikan siapapun yang konsisten menjaga dua hal ini bisa meraih derajat kemuliaan tertinggi ( takwa ).

Tanpa kita sadari semua misi syetan sudah mencapai titik 90% berhasil, dilihat dari banyaknya perubahan zaman pada saat ini. Cara syetan menjurumuskan manusia bukan cuman dalam hal ibadah, tapi juga sekarang sudah merambah pada sector perekonomian juga. Dan sampai akhirnya para syetan menemukan bahwa uang yang menjadi fungsi perantara media tukar diantara manusia , bisa menjadi pintu perjuangan bagi para syetan, untuk mengelabuhi manusia.

Setelah syetan berhasil mengkelabuhi manusia, maka alhasil adalah membalikan nasib sebuah negeri. Dalam waktu singkat, penduduk negeri banyak yang menjadi gelandangan. Kekayaan mereka disita. Utang mereka menumpuk. Kehormatan mereka tergadai. Akhirnya , mereka menjadi kuli di negerinya sendiri. Kalau keadialan ekonomi hilang , maka tinggal saatnya menunggu kerusakan manusia, maka saat itulah pesta syetan digelar.

Nabi Muhammad saw bersabda “ Berhati-hatilah dari berbuat ketidakadilan, karena ketidak adilan bisa membawamu kepada kegelapan ( dzulumat ) pada hari pembalasan.” Disebut kegelapan (absolute darkness) karena ketidakadilan memancing disharmoni. Ia merusakan tali persaudaraan, dan sebaliknya akan mendukung konflik, tension, kejahatan, menciptakan masalah yang ujung-ujungnya penderitaan manusia.

Ibnu Taimiyah pun berkata “ Tuhan menegakan negeri yang menjamin keadilan, meskipun mereka bukan orang yang beriman, tapi tidak akan menegakan keadialn negeri yang membiarkan ketidakadilan , meskipun mereka muslim. Maka jelaslah, menjaga eksistensi keadialn berekonomi akan sangat erat kaitanya dengan menegakan perekonomian yang di dukung oleh mata uang yang sehat dan kuat. Semampang ekonomi masih di fasilitasi fiat money, maka keadilan tidak akan pernah tegak. (Deudeu Maryani/STEI SEBI)

Comments

comments