Ibu dan Takdir yang Tak Bersahabat

Ilustrasi. (Istimewa)

Ibu memiliki citra yang kuat dan memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Apapun akan ia lakukan demi masa depan yang ia harapkan pada anaknya. Setiap Ibu pasti menginginkan pertumbuhan yang baik pada anaknya, sebisa mungkin ia menjaga anaknya agar terhindar dari segala hal yang membuat anaknya menderita.

Ibuku berumur 48 tahun bernama Armayeni mempunyai 4 orang anak termasuk aku. Dia ibuku, wanita paling hebat dibanding wanita manapun. Patah hati terbesar seorang istri ialah berpisah dengan suaminya yang pergi ke dimensi yang berbeda, kerapuhan pasti ia rasakan, hilang arah pasti ia alami, kehampaan pasti memenuhi relung hatinya. Saat itu Ibu memeluk kami dan dengan nada lirih ia berkata “Jangan putus asa, kehidupan dengan ayah memang berhenti, tapi kehidupan kita masih berlanjut. Bantu ibu ya”. Dari kalimat itu aku sadar hatinya sekuat baja, ia berusaha bangkit saat ia terjatuh. Sungguh kuasa sang Pencipta tidak main-main, ia menciptakan sosok yang terlihat lemah namun mempunyai ketangguhan yang luar biasa.

Ditambah dengan keadaan keluarga kami yang tidak sempurna. Kakakku mengalami kelumpuhan sehingga apapun kegiatannya harus dibantu, adik bungsuku mengalami gangguan gerakan, otot atau postur yang disebabkan oleh cedera dan menyebabkan perkembangan abnormal pada otak atau biasa disebut Cerebral Palsy ditambah lagi ia memiliki trauma berlebih pada kakinya sehingga untuk berjalan saja harus dipapah. Rintangan yang dihadapi tentu membutuhkan tenaga lebih. Faktanya badan Ibu terlalu mungil, penampilannya terlihat begitu rapuh, tapi entah dari mana ia mendapat kekuatan untuk mengerjakan setiap pekerjaan yang ada, entah dari mana ia mendapat kekuatan memainkan perannya sebagai Ibu sekaligus Ayah.

Kehidupan terus berlanjut, waktu tidak akan sudi berbalik ke masa lalu. Takdir tetaplah takdir, yang harus dilakukan manusia adalah bertahan hidup. Setiap kehidupan pasti punya ceritanya sendiri. Ibuku sedang menjalani takdirnya bahkan secara tidak kasat mata ia menyisipkan sandiwara. Membesarkan anak-anaknya tanpa dibantu seorang suami, membesarkan anak yang memiliki kekurangan bukanlah semudah mengedipkan mata. Ibu tahu itu, tapi yang ia tunjukan adalah senyuman dan tawa sandiwara. Ia benar, tidak perlu membawa masalah sebagai beban, cukup tersenyum agar perlahan beban itu menjadi ringan.

Merasa kesepian karena pendamping hidup telah tiada itu pasti, karena kesepian dan merasa hampa, bisa saja ia meninggalkan aku dan saudara-saudaraku, kabur dari penderitaan. Tapi, Ibuku tidak begitu, ia masih bertahan meski paham cobaan akan terus singgah namun ia yakin cobaan akan pergi.

Tidak salah jika Ibu dijadikan sebagai panutan. “Hebat” adalah satu kata yang aku pikirkan tentang dirinya. Aku ingin seperti dia yang begitu tangguh menjalani hidup penuh duri. Aku ingin membalas semua keringat yang ia teteskan dengan membuatnya bahagia, sungguh. Salah satu hal paling bahagia di dunia ini adalah melihat ibuku tersenyum, dan lebih bahagia lagi ketika tahu akulah alasannya. (Raudha Sakina/PNJ)

Comments

comments