Beranda Bisnis & Ekonomi Efisiensi Asuransi di Indonesia

Efisiensi Asuransi di Indonesia

Ilustrasi.

Akhir-akhir ini sering terjadi kecelakaan kendaraan, baik yang diakibatkan human eror maupun yang disebabkan kendaraan sendiri. Misalnya saja kecelakaan yang terjadi di Tol Cipularang beberapa waktu yang lalu, kecelakaan ini mengakibatkan korban jiwa sebanyak 4 orang dinyatakan meninggal dunia, 2 orang luka berat dan 26 orang luka ringan. Dimana keluarga yang kehilangan mendapatkan santunan berupa premi asuransi jiwa dari pihak jasa marga. Dan pentingnya asuransi jiwa bagi para keluarga sehinga dapat meringnkan beban yang harus di tanggung, walau pada hakikatnya tidak bisa mengganti keluarga yang ditinggalkan.

Dari kejadian tersebut dapat diketahui bahwa pentingnya memiliki asuransi, adapun beberapa hal tersebut :
1. Membuat diri lebih disiplin
2. Memberi proteksi pada diri sendiri dan keluarga
3. Terhindar dari kemungkinan harta habis karena gangguan kesehatan

Berdasarkan dari pemaparan pentingnya memiliki asuransi dapat disimpulkan bahwa mengikuti program asuransi menjadi sebuah kebutuhan.

Sesuai dengan perkembangan zaman, asuransi juga mengalami perkembangan yang cepat dan semakin baik setiap harinya. Berdasarkan data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), diketahui bahwa perkembangan industri perasuransian di Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam mendukung terjadinya proses pembangunan nasional. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas IKNB Firdaus Djaelani, perkembangan industri perasuransian bisa dilihat selama empat tahun belakangan ini, tepatnya tahun 2011 hingga 2014, di mana aset industri asuransi konvensional mengalami pertumbuhan rata-rata yang mencapai lebih dari 16%. Hal ini juga terlihat dari pertumbuhan rata-rata yang terjadi di dalam nilai investasi dan premi yang masing-masing mengalami peningkatan sebesar 14,4% dan juga 21,0%. Untuk pertumbuhan kontribusi bruto dari tahun 2009 hingga 2011 mencapai sekitar 27% sedangkan dari tahun 2012 hingga 2014 tingkat pertumbuhan kontribusi brutonya sekitar 25%.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menguatkan adanya perkembangan pada sektor asuransi syariah. Yaitu dibuktikan dengan hingga saat ini, aset industri asuransi syariah masih menyumbangkan kenaikan sekitar 29%. Aset asuransi syariah hingga tahun 2013 mengalami pertumbuhan sebesar 15.65%. Investasi perusahaan asuransi syariah ditahun 2013 tumbuh sebesar 13.32%. Sedangkan pertumbuhan premi bruto hingga tahun 2013 baru mencapai 8%. Dari sisi premi bruto, market share asuransi syariah tahun 2013 baru sebesar 5.6% dibanding total premi asuransi nasional. Sedangkan pertumbuhan premi bruto tahun 2013 pada perusahaan asuransi kovensional mencapai 9,8% (Otoritas Jasa Keuangan, 2014).

Ditemukannya data pertumbuhan premi bruto yang melambat pada perusahaan asuransi syariah di Indonesia dibandingkan dengan asuransi konvensional, tingkat efisiensi pengelolaan dana tabarru pun menjadi sorotan. Menurut Karim Consulting Indonesia dalam Islamic Finance Outlook 2015 menyebutkan bahwa kinerja perusahaan asuransi Syariah dalam mengelola dana tabarru di tahun 2013 masih kurang optimal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hanya 6 asuransi jiwa yang meraih surplus di tahun tersebut, sementara pada asuransi umum masih terdapat 7 perusahaan yang mengalami defisit di tahun tersebut. (Karim Consulting Indonesia, 2015)

Efisiensi merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam menilai pencapaian kinerja pada suatu perusahaan. Efisiensi menurut Pareto dan Koopmans (1950) adalah efisiensi bila dapat menghasilkan lebih banyak output dengan sejumlah input yang sama atau menurunkan penggunaan input dapat hasilkan output yang sama.  (Rahman, 2012) Pendapat lainnya terkait efisiensi yaitu untuk dapat bersaing setiap organisasi harus dapat meningkatkan efisiensinya. (Mowen, 2001, p. 1009) Secara umum setiap perusahaan pasti bertujuan untuk memaksimalkan laba dan meminimalisasi biaya, ini berarti tingkat efisiensi dalam perusahaan menjadi faktor penting dalam menjalankan aktivitas perusahaan. (Taylor, 2005)

Fakta yang terjadi pada asuransi syariah di Indonesia saat ini yang memiliki perlambatan pertumbuhan terutama dari segi premi brutonya. Selain itu, tingkat pertumbuhan premi bruto perusahaan asuransi syariah masih berada dibawah asuransi konvensional pada tahun 2013. Hal ini dapat dimungkinkan karena belum optimalnya efisiensi pengelolaan dana tabarru asuransi syariah di Indonesia. Jadi dengan adanya fakta atas kondisi perusahaan asuransi syariah Indonesia saat ini serta teori efisiensi yang telah dipaparkan diatas, menunjukkan bahwa fakta sama dengan teori. Yaitu jika tingkat efisiensi perusahaan masih rendah maka pertumbuhannya akan lambat serta kemampuan bersaingnya juga akan rendah.

Berdasarkan penelitian Hulwah Tuffahati, Sepky Mardian dan Edy Suprapto yang berjudul “Pengukuran Efisiensi Asuransi Syariah Dengan Data Envelopment Analysis (DEA)”. Sumber inefisiensi pada Perusahaan Asuransi Syariah di Indonesia terdapat pada 4 variabel yaitu total aset, biaya komisi, kontribusi bruto dan pendapatan investasi. Sehingga menurut pandangan kami keempat variabel tersebut harus lebih mendapatkan prioritas perbaikan agar efisiensi perusahaan asuransi di Indonesia lebih efisiensi. (Dyan Farid Fauzi)

Komentar

komentar