Dosen Asyik Vs Dosen Killer

Ilustrasi. (Istimewa)

Menjadi dosen bukan sekadar pekerjaan melainkan lebih dari sebuah pengabdian. Ia hadir dengan pengabdian yang tulus dalam memberi beragam ilmu pengetahuan hingga mengantarkan mahasiswa untuk menggapai cita-cita.

Ilmu pengetahuan sangat penting karena dengan ilmu pengetahuan kita akan lebih mudah dalam menjalani kehidupan. Kita juga akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ilmu pengetahuan juga merupakan hal yang lebih berharga dari harta yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Namun, bagaimana kita bisa menyerap ilmu yang telah diajarkan jika kita tidak menyukai dosen tersebut.

Karakteristik dosen memang berbeda-beda, ada yang disukai mahasiswa, ada juga yang tidak. Itu lah yang memengaruhi malas atau tidaknya mahasiswa untuk hadir dalam perkuliahan sehingga sangat jarang mahasiswa yang bisa menyerap ilmu pengetahuan yang telah diberikan dengan baik.

Jika kita mendapatkan dosen yang baik, penyabar, dan sistem mengajarnya enak maka mahasiswa pun akan semangat mengikuti mata kuliahnya. Sebaliknya, jika dosen yang didapat killer, sering menunjuk mahasiswanya untuk menjawab pertanyaan, sering mengadakan ulangan dadakan, dan cara mengajarnya tidak enak maka mahasiswa pun akan malas untuk hadir di mata kuliahnya.

Hal tersebut berimbas pada paham atau tidaknya mahasiswa tersebut pada mata kuliah tertentu, sehingga nilaipun dipertaruhkan.

Saat kepahaman mulai diuji oleh dosen killer, rasa malas pun muncul sehingga terkadang mahasiswa merasa takut dan menghindari mata kuliahnya. Ditambah lagi jika dosen tersebut pelit dalam memberikan nilai sehingga rasa tidak suka padanya semakin menjadi-jadi.

Jika dosen killer tersebut tidak hadir saat akan diadakan ulangan, semua mahasiswa bersorak-sorai merayakan ketidakhadirannya. Setiap jadwalnya ia mengajar, banyak mahasiswa yang mengharapkan ia ada kepentingan mendadak sehingga tidak bisa mengajar. Bahkan terkadang mereka malah merasa senang saat dosen tersebut sakit dan tidak bisa hadir dalam beberapa hari.

Sama halnya dengan dosen yang selalu memberikan tugas pada mahasiswanya. Terkadang rasa kesal pada dosen tersebut muncul. Entah apa yang ada di benak dosen tersebut, sampai-sampai mahasiswa dibuat kewalahan dengan tugasnya. Apa ia tidak tahu kalau tugas mahasiswa itu tidak hanya dari dia saja. Banyak dosen yang memberikan tugas seenaknya sampai mahasiswa rela begadang semalaman demi mengerjakan tugas tersebut. Para mahasiswa juga seringkali mengabaikan rasa laparnya hingga tidak makan seharian hanya hanya demi menyelesaikan tugasnya tersebut. Belum lagi untuk tugas yang mengharuskan mahasiswanya pergi ke suatu tempat. Itu membuat mahasiswa kelelahan bahkan tak jarang banyak mahasiswa yang sampai sakit karena kecapekan, kurangnya tidur, ditambah lagi tidak terjaganya pola makan gara-gara mengerjakan tugas.

Terlebih yang membuat mahasiswa jengkel adalah saat tugas telah dikerjakan mati-matian sampai begadang dan lupa makan, tapi keesokan harinya dosen itu malah mendadak tidak masuk dan tugas tersebut tidak dikumpulkan. Antara kesal pada dosen tersebut dan menyesal telah mengerjakan mati-matian bercampur aduk, walaupun di situ sedikit terselip juga rasa lega karena telah terbebas dari satu tugas.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan dosen yang membuat mahasiswa senang dengan kehadirannya. Ia disukai karena cara mengajarnya yang santai, humoris, juga sangat mengerti keadaan mahasiswanya. Misalkan, dosen yang memperbolehkan mahasiswanya membuka buku dan gadget saat ulangan, tidak pelit dalam memberikan nilai, dan ia sering mencampurkan lelucon saat mengajar sehingga tidak ada suasana tegang.

Dosen seperti ini membuat mahasiswanya juga semangat untuk belajar. Jika semua dosen seperti ini mungkin tidak akan ada yang namanya mahasiswa bolos kuliah, malas kuliah, dan mendapatkan nilai yang jelek. Karena mahasiswa tidak dibuat stres olehnya tapi malah dibuat happy dengan guyonannya. Itulah dosen idaman seluruh mahasiswa yang kehadirannya selalu dinanti-nanti.

Cara mengajar setiap dosen memang berbeda-beda tetapi semua tujuan dosen sama, mencerdaskan setiap mahasiswanya. Sebagai mahasiswa kita juga harus tahu bahwa para dosen pun telah mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mentransfer ilmu, mendidik mahasiswanya agar meraih masa depan yang cerah. Karena itu, bagaimanapun cara mengajarnya, para mahasiswa harus serius saat belajar, jangan karena ia galak kita jadi takut hingga menghindari mata kuliahnya, dan juga jangan karena ia baik malah kita sepelekan. (Elsa Farida/PNJ)

Comments

comments