Dibalik Sosok Wanita Karier

Ilustrasi. (Istimewa)

“Dibalik kesibukan seorang Ibu, ada kesunyian yang terasa di dalam rumah.”

Di era globalisasi saat ini sudah banyak Ibu yang menjadi wanita karier. Para ibu yang disebut sebagai wanita karier itu selalu disibukkan dengan segala kegiatan di luar sana. Seperti memiliki jabatan yang tinggi di sebuah lembaga, perusahaan, atau yayasan. Ada juga yang diisi dengan segelintir kegiatan seperti arisan, PKK, pengajian, reunion, dan lain-lain. Macam-macam kegiatan itulah yang membuat mereka semakin jarang berada di rumah.

Ibu yang menjadi wanita karier sungguhlah hebat. Mereka bisa menafkahi keluarga dan memiliki wawasan yang luas. Namun, di balik itu semua, ada seorang anak yang menyimpan sejuta rasa cemburu kepadanya.

Yang seorang anak rasakan hanya cemburu, ia tidak marah atau pun benci. Ia merasakan kecemburuan kepada segelintir kesibukan yang ibu jalani. Ia merasa waktu yang diperlukannya bersama ibu, sudah termakan dengan kesibukannya.

Anak akan merasa cemburu kepada tugas yang sedang ibu kerjakan. Karena perhatian yang harusnya didapatkannya berkurang dan harus berbagi dengan tugas-tugasnya. Tak jarang pula anak itu merasakan kecemburuan kepada rekan-rekan ibu yang bisa menghabiskan waktunya bersama selama seharian penuh. Sedangkan waktu untuk berada di rumah tidaklah sebanyak itu.

Kecemburuan yang anak rasakan bukannya tidak beralasan. Ia menyimpan rasa khawatir di balik itu semua. Anak khawatir dengan kondisi ibu yang kelelahan, dan mengkhawatirkan fisiknya yang sering sakit-sakitan. Tapi anak lebih khawatir dengan kasih sayang ibu. anak khawatir kasih sayang Ibu berkurang dan lebih mementingkan karier daripada dirinya.

Kecemburuan yang anak rasakan bukannya tidak beralasan. Ia menyimpan rasa khawatir di balik itu semua. Anak khawatir dengan kondisi ibu yang kelelahan, dan mengkhawatirkan fisiknya yang sering sakit-sakitan. Tapi anak lebih khawatir dengan kasih sayang ibu. anak khawatir kasih sayang ibu berkurang dan lebih mementingkan karier daripada dirinya.

Rasa cemburu yang menimbulkan kekhawatiran membuat anak menjadi kecewa kepada ibu sebagai sosok wanita karier. Dia hanya kecewa tidak ada rasa benci di dalamnya. Sehingga kekecewaan itu membuat anak banyak melakukan aktivitas di luar sana yang membuat anak itu sendiri jarang berada di rumah dan pulang ke rumah pada malam menuju pagi.

Cara anak meluapkan rasa kekecewaannya dengan menyibukkan diri dengan segala aktivitas yang ada di luar sana. Seperti bermain bersama teman-temannya, menyalurkan hobi yang dia punya, bergabung dalam organisasi atau komunitas tertentu, dll. Semua itu ia ikuti demi menyenagkan diri sendiri dan terhindar dari rasa sepi dan amarah kepada ibu sebagai wanita karier.

Ternyata semua kegiatan itu cukup mengobatinya untuk menghilangkan rasa sepi dan rindu anak kepada sosok ibu di rumah namun tidak menyelesaikan semuanya. Kegiatan itu justru membuat anak menjadi lelah dan tidak bisa mengendalikan emosi ketika pulang ke rumah.

Walapun rumah menjadi tempat terbaik untuk pulang dan beristirahat dalam kedamaian tapi kali ini rumah mempersatukan ibu dan anak dalam pertikaian. Kedamaian yang dahulu terasa nikmat kini hilang tergantikan dengan adu mulut anatara ibu dan anak yang timbul karena kesibukkan dan kelelahan diantara keduanya.

Suasana rumah menjadi tegang. Ibu memarahi anak karena ia pulang ke rumah terlalu larut malam dan tidak bisa dihubungi sehingga membuat Ibu takut. Ibu takut terjadi kejadian yang tidak diinginkan menimpa pada anaknya. Sedangkan anak merasa lelah dan mewajarkan apa yang dia sendiri lakukan sekarang. Karena menurutnya apa yang dia lakukan sekarang adalah sama seperti apa yang Ibu lakukan.

Pertikaian adu mulut itu berujung pada tangisan dan diam. Dengan diam anak pun berpikir dan menangkan diri. Setelah itu anak tersadar apa yang ia lakukan dan pikirkan kepada seorang ibu sebagai sosok wanita karier itu adalah salah. Tidak seharusnya anak merasakan dan bepikir seperti itu kepada ibu.

Pada akhirnya anak mengerti, kecemburuan yang ia tanam pada segala kesibukkan tidak ada artinya dibandingkan dengan perjuangan seorang ibu kepadanya yang telah melahirkan dan mengurusnya hingga dewasa kini. Ia juga mengerti semua aktivitas yang ibu lakukan di luar sana adalah bukan semata untuk mengisi waktu luang tapi semua itu Ibu lakukan hanya semata-mata untuk keberlangsungan masa depan seorang anak.

Kata maaf pun terlontarkan dari bibir mungil anak kepada ibunya. Senyuman serta pelukkan kasih sayang seorang ibu langsung menentramkan jiwa. Keduanya pecah dalam tangis. Namun tangis ini adalah tangis bahagia dan terharu. Serta tangis ini pun menghangatkan suasana rumah yang dulu pernah pudar.

Sebenarnya, seorang anak tidak pernah menuntut apapun dari Ibu. Ia hanya meminta sedikit waktu di sela-sela kesibukannya. Anak hanya ingin sekadar berbagi kasih dan cerita bersama ibu dikala dia suka dan duka. Terlebih lagi ketika anak sedang terpuruk di dalam kejamnya dunia.

Seorang ibu berhak menjadi wanita karier sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Namun dengan syarat ibu bisa membagi waktu antara karier dan keluarganya seperti menyisihkan waktu tiga kali dalam seminggu berada di rumah bersama keluarga untuk berbagi kisah suka dan duka atau bertamasya untuk menghilaghkan penat. (Rifani Indrianti/PNJ)

Comments

comments