Beranda Feature Anak Tunggal Selalu Merasa Terkekang?

Anak Tunggal Selalu Merasa Terkekang?

Ilustrasi. (Istimewa)

Pernah ngga sih kalian merasa dibatasi oleh orang tua kalian? Merasa tidak bebas karena apa2 dilarang? Seolah-olah mereka masih melihat kalian sebagai bocah yang gampang diculik.

Hal semacam itu masih kental kurasakan. Terlebih lagi orang tuaku tak bisa melarang orang lain kecuali aku, karena hanya aku satu-satunya anak yang mereka punya.

Usiaku yang sudah melewati kepala dua tidak berpengaruh bagi mereka untuk tetap memandangku sebagai anak kecil. Berbagai aturan yang sejak dulu ada seakan tidak akan pernah kadaluarsa.

Anggapan bahwa aku masih tidak bisa melihat mana yang baik dan buruk seolah menjadi alasan mengapa mereka bersikap seperti itu. Selalu “menuntun” anaknya seakan menjadi kewajiban abadi.

Mau kemana? Sama siapa? Ngapain aja? Pulang jam berapa? Kok bajunya begini? Kok bawa itu? Jangan begini. Jangan begitu. Ngga boleh kesini. Ngga boleh kesitu.

Terlalu sering kalimat itu terucap, sampai terkadang aku jabarkan dulu semua kegiatan yang akan aku lakukan seharian sebelum mereka sempat berkomentar. Kadang apa yang kujelaskan masih dianggap bohong dan mereka akan curiga padaku sepanjang hari.

Kuceritakan tentang perilaku kedua orang tuaku pada salah satu temanku. Ia menanggapinya dengan tawa. Membuatku kesal karena merasa terledek.

Ia berkata bahwa setiap hari tidak ada yang melarangnya untuk pergi kemanapun dan dengan siapapun.

Orang tuanya membebaskan dia untuk memakai apapun yang ia mau. Tak pernah sekalipun mereka melarangnya untuk pulang larut. Bahkan tak pulang juga tidak jadi masalah.

Tidak perlu laporan tiap detail kegiatannya kepada orang tuanya. Ia bebas melakukan hal apapun yang ia sukai. Tanpa kekang.

Perasaan iri sempat menyapaku, sebelum akhirnya temanku menjelaskan sebab dari kebabasannya. Keluarganya tidaklah utuh. Kedua orang tuanya berpisah sebelum pada akhirnya membuat temanku memiliki “dua ayah” dan “dua ibu”.

Terabaikan menurutnya sebuah ibarat yang tepat daripada menjadi orang dengan kebebasan. Keadannya justru membuat ia iri pada perilaku orang tuaku.

Hal itu membuatku sadar, bahwa apa yang kuterima semata-mata adalah bentuk nyata dari sebuah kasih sayang. Sebuah sikap spontan yang tercipta karena rasa takut kehilangan.

Perasaan beruntung sudah sepatutnya aku rasakan. Mengingat kedua orang tuaku tak pernah sedetikpun lepas memikirkan anak semata wayangnya.

Seharusnya aku merasa bangga, karena aku menjadi anak dengan kasih sayang utuh dari kedua orangtua.

Aku rasa aku akan menjadi egois sekarang. Tidak akan kubiarkan orang tuaku membagi rasa sayangnya terhadap anak lain selain diriku.

Terima kasih ayah dan ibu, senangnya memiliki kalian tanpa harus berbagi. (Nur Asti Fitriani/PNJ)

Komentar

komentar