Abellia Si Pencari Beasiswa, “Saya Bisa Karena Apply”

(Foto Dok. Pribadi)

Mimpi di dunia dongeng bak kenyataan. Hal yang tidak disangka terjadi. Wujud yang nyata bisa jadi tinggal menghitung hari bila sehabis bermimpi. Bunga tidur yang biasanya hanya angan-angan saja tetap bisa diwujudkan oleh mahasiswi satu ini.

Mahasiswi di salah satu universitas ternama di Jakarta, pernah mengalami kebingungan karena di terima di dua universitas berbeda. Namun ia tetap memilih Jakarta sebagai salah satu tempat yang digunakan untuk menimba ilmunya.

Kehidupan Abellia sama seperti mahasiswi lainnya. Terkadang, ia harus kehilangan semangat belajar dan mengalami masa jatuh cinta selayaknya remaja menuju dewasa.

“Kebiasaan yang tetap saya aku jalankan yaitu membaca buku. Apapun buku itu aku pasti selalu membacanya. Cita-citaku sebagai penulis semakin membuat hobi tersebut berkembang,” jelas gadis yang biasa disapa Abel ini.

Motivasi bak datang kepadanya. Tak henti-hentinya ia menjadi internship hunter (pencari kerja magang). Dari setiap kegiatan magang, relasi Abel mulai berdatangan. Perusahaan swasta maupun kementerian mulai didatanginya.

BACA JUGA:  Minat Membayar Zakat pada Lemabaga Amil Zakat

Pekerjaan di kantor kementerian maupun lembaga dikerjakannya penuh dengan semangat. Rasa lelah yang ada tak pernah dihiraukan. Berbekal semangat yang diberikan orang tuanya membuat ia selalu mengingat jerih payah ketika merawatnya.

Di tengah kesibukkan magang ia mencoba mencari beasiswa agar bisa melanjutkan S2 nya ke luar negeri. Keinginannya kuat untuk menggapai ilmu. Bermula dari rasa sakit hati karena diduakan sang kekasih. Perasaan itu ia buat sebagai cambuk motivasi.

Berbagai macam test mulai dilakukan. Tes kemahiran bahasa dan kecerdasan logika mulai diikutinya. Dengan ketekunan belajar setiap harinya, nilainya memuaskan di tes tersebut.

Semua persyaratan dikirimkan ke berbagai negara. Hingga Abelia mendapatkan beasiswa LPDP dari kementerian keuangan. Kelanjutan Magister jurusan pariwisata ia raih dengan beasiswa penuh. Usaha memang tidak mengkhianati hasil. Disaat ia tesis, para atasan di tempat magang perusahaan membantunya. Itu juga yang membuatnya melanjutkan studi doktoral kembali di bidang yang sama.

BACA JUGA:  Laporan Pansus 5 Soal Raperda Kota Depok tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD

Tidak hanya program doktoral saja yang diraih. Ia aktif menjadi konsultan kemanusiaan di berbagai negara , seperti Singapura dan Belanda. Serta, ia juga menjadi pembicara di acara motivasi mahasiswa. Cita-citanya menjadi penulis sudah dibuktikan dengan launching buku pertamanya yang berjudul “Meraih Mimpi dengan Beasiswa” pada Oktober 2016 lalu di Jakarta.

Tidak selamanya motivasi didapatkan hanya dengan hal yang positif. Semua motivasi akan datang dari hal apapun. Menurutnya, segala sesuatu tidak ada yang sulit jika mau mencoba. Berbekal ilmu yang didapat, ia senang akan berbagi. Tak jarang semua adik kelasnya diajarkan olehnya. Penelitian yang diambil semasa menempuh magister dan doktoralnya banyak menghasilkan karya. Karya tersebut didedikasikan khusus untuk Indonesia. Contohnya mengupas tentang seluk beluk Ambon Poso bertengkar. Kunjungan di berbagai kota yang penuh konflik dilakukan dengan pendekatan ke masyarakat. Bergabung dengan sejumlah organisasi pemuda, membuat mudah untuk masuk ke dalam lingkungan.

BACA JUGA:  Wanita Era 45 Hingga Milenia

Penelitian konflik Ambon Poso mendapatkan predikat terbaik dan mendapatkan predikat cumlaude. Dari penelitian tersebut, mahasiswa lain menanyakan cara Abelia belajar. Kepintaran Abelia digunakan olehnya untuk membangun bisnis di Perancis. Walaupun tidak bertahan lama usahanya, ia selalu yakin pasti ada amanat yang bisa dipetik.

Keluarga merupakan faktor utama yang mendukungnya. Bila kehilangan sifat rajinnya, pasti akan menelepon keluarganya di Indonesia. Suara dari telepon tersebut merupakan suara rindu yang bisa berubah menjadi motivasi untuknya.

“Saya bisa karena saya apply, itu merupakan kata-kata yang saya gunakan untuk mendoktrin orang-orang yang selalu bertanya mengapa mendapat beasiswa,” ujar Abel. (Hanna Pratiwi/PNJ)

Komentar

komentar