Terima Kasih Ayah

Ilustrasi. (Istimewa)

Teringat masa kecilku,
Kau peluk dan kau manja..
Indahnya saat itu,
Buatku melambung..
Disisimu terngiang,
Hangat napas segar harum tubuhmu..
Kau tuturkan segala, mimpi mimpi serta harapanmu..

Sepenggal lagu tersebut menggambarkan orang tua yang sangat menyayangi anaknya. Sosok ayah mungkin berbeda dengan ibu, ayah memang tak pernah menyusui. Tapi dengan curahan keringatlah ayah mampu menghidupi keluarganya.

Umumnya, bagi seorang anak terutama anak perempuan, sosok ayah adalah segalanya, didarahnya mengalir darahnya. Disetiap langkah kakinya tersirat do’anya. Pengorbanan yang sudah dilakukan seorang ayah. baginya tidak ada tandingannya. Seorang ayah akan selalu menjadi figur idola putrinya.

Ayah memang tak merasakan mengandung, tapi tanpanya tidak akan pernah ada seseorang yang mengkumandangkan azan di telinga anak-anaknya,  ia adalah malaikat kedua setelah ibu, dan ayah selalu berusaha menjaga anak-anak dan keluarganya.

Ada kejadian semasa kecil dimana penulis pernah lalai dalam menggunakan sepeda, ketika itu tidak berhati-hati mengendarai sepeda. Akibatnya penulis tersungkur dan menabrak pohon yang berada di depannya. Hal kecil tersebut bisa membuat ayah tidak bisa tidur karena benturan ringan pada anaknya.

Ada juga kejadian dimana penulis mendapatkan nilai buruk semasa sekolah saat itu. Saat itu takut sekali jika ayah marah besar, namun saat itu Ayah menghampiri dan memberikan dukungan agar kedepannya bisa lebih baik.

Waktu yang diberikan seorang ayah memang tidak sebanyak waktu ibu merawat anaknya. Karena waktu mereka berbeda, tetapi perhatian Ayah kepada anaknya tidak pernah hilang. Acapkali ayah masuk ke kamar anaknya dan mencium keningnya ketika ia sudah terlelap tidur.

Pun ketika seorang anak gagal melangkah ke depan, Ayah akan selalu mendukungnya dengan keadaaan apapapun. Ia yakin dengan dukungan yang ia berikanm ia mampu mengembalikan semangat anaknya “ayah yakin, kami pasti bisa”.

Sosok ayah adalah peberi teladan yang baik untuk anak-anaknya. Terlebih dimana dalam taraf perkembangan sang anak, ia akan terus mencontoh suri tauladan ayahnya.

Ia tak pernah henti-hentinya mengajari banyak hal. Disaat diri ini belum mengenal tentang dunia. Ayah lah yang berjasa dengan kasih sayangnya membuat anak-anaknya mampu melangkah untuk mengenal jauh lebih dekat tentang dunia.

“Terimakasih atas semua yang telah Ayah berikan. Tanpamu mungkin aku tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Ayah, mungkin sejuta terimakasih ini belum tentu bisa membalas semua jasa-jasa mu, tapi ketahuilah ayah, bahwa engkau selalu ada di hatiku.”

(Annisa Ramadhanni/PNJ)

Komentar

komentar