Kebahagian Dibalik Satu Kalimat

Ketika orang ditanya tentang kebahagiaan, maka mereka mempunyai paradigma atau cara pandang tersendiri dalam mengartikan kebahagian. Orang mengatakan “Kebahagian adalah suasana hati yang damai tanpa beban yang menggelayut.” Orang juga mengatakan ”Kebahagiaan adalah tercapainya harapan yang diimpikan.” Namun ketika saya ditanya arti kebahagian maka saya menjawab “kebahagiaan adalah kata yang abtraks yang dibatasi oleh satu kalimat.” Mengapa? Karena kalau orang membatasi bahagia dengan beban maka ketika beban menimpa ia tidak akan bahagia. Oleh karena itu, saya membatasi kebahagian dengan satu kalimat. Apa kalimat itu? Seorang ulama terdahulu bernama Sufyan Bin ‘Uyyina mengatakan “Tidaklah Allah memberikan nikmat yang paling agung kepada hambaNya kecuali Dia mengajarkan, memahamkan kepada mereka kalimat Lailahaillah.”

Mungkin masih terngiang dibenak kalian mengapa kalimat Lailahaillah harus menjadi batas kebahagian ? Kalimat Lailahaillah adalah kalimatuttaqwa, kalimatulikhlas, kalimat yang dengannya Allah menciptakan langit dan bumi, kalimat yang dengannya Allah menciptakan asstaqalain (jin dan manusia), kalimat yang dengannya Allah menciptakan syurga dan neraka, kalimat yang dengannya Allah mengutus Nabi dan Rasul untuk memerangi orang-orang kafir, kalimat yang dengannya seseorang bisa masuk islam. Lalu permasalahannya, mengapa masih banyak orang yang bersedih setelah mengucapkan kalimat Lailahaillah ? mengapa masih bannyak orang berputus asa setelah mengucapkan kalimat Lailahaillah ? Satu kata untuk mereka karena mereka yang bersedih dan berputus asa hanya menyimpan kalimat Lailahaillah dalam cibiran semata. Seandainya kalimat Lailahaillah hanya dibibir semata maka orang munafik tidak diancam masuk neraka, tidak dijadikan sebagai penghuni keraknya api neraka dan juga seandainya kalimat Lailahaillah hannya sekedar ucapan saja maka semua orang mungkin bisa mengakhiri hidupnya dengan kalimat itu dan masuk syurga. Akan tetapi kalimat Lailahaillah mengandung makna yang luas, yang wajib setiap memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari agar kebahagian itu melekat dalam diri di dunia maupun di akhirat.

Untuk mencapai kabahagian di dunia maka nama Allah harus selalu hadir dalam setiap aktivitas, tidak boleh menyempilkan nama-nama selain Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“ Maka ingatlah kepada-Ku,Niscaya Aku (Allah) akan ingat pula kepada kalian dan bersyukurlah kepada-Ku,serta janganlah kalian mengikari nikmat-Ku”.(QS. Al Baqarah : 152).

Selain kebahagiaan didunia kalimat Lailahaillah juga menunjukan kepada kebahagian yang abadi yaitu dengan menaati aturan/syarat-syarat dan rukunkalimat Lailahaillah dan menerima konsekuensi yang ada dalam kalimat tersebut. Maka Seorang Tabi’in yang bernama Wahb Ibnu Munabbih menyatakan ada 7 syarat kalimat Lailahaillah yang harus di amalkan oleh seorang muslim untuk mencapai kebahagiaan yang abadi, yaitu

1. Al–Ilmu, yaitu mengetahui maknakalimat Lailahaillah
2. Al–Yaqiin, yaitu meyakini makna kalimat Lailahaillahtanpa ada keraguan sedikit pun
3. Al-Ikhlas, Yaitu memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’la dan menjauhi kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil
4. Ash-Shidqu yaitu jujur, maksudnya adalah mengucapkan kalimat ini dengan pembenaran di dalam hati. Barang siapa yang mengucapkan kalimat ini dengan lisannya akan tetapi hatinya mendustakannya maka ia adalah seorang munafik dan pendusta
5. Al–Mahabbah (cinta), maksudnya mencintai kalimat ini dan apa yang dikandungnya
6. Al-Inqiyaad, yaitu tunduk dan patuh. Seorang muslim harus tunduk dan patuh terhadap isi kandungan kalimat ini
7. Al-Qobuul, yaitu menerima kandungan dan konsekuensi dari kalimat ini
Wallahu’alam bisshawaab. Semoga dengan memahamidan mengamalkan kalimat Lailahaillahkita semua bisa mendapatkan kebahagian yang Allah janjikan yaitu kebahagian yang terus menerus di dunia dan kebahagian yang abadi di akhirat kelak, aamiin.

Ditulis oleh : Nurwahid

Komentar

komentar