[Rangkaian Acara Kegiatan Training Organization 2017] Amal Jama’i dan Qiyadah Wal Jundiyah

Dok. STEI SEBI

Depok – Dalam rangkaian acara Training Organization 2017 STEI SEBI Depok salah satu nya adalah amal jama’i dan qiyadah wal jundiyah dimana materi tersebut di sampaikan oleh Misbahuddin Mukhlis Mantan Presiden BEM KBM STEI SEBI. Beliau memaparkan terkait kepemimpinan dengan amal jama’i, dimana kita harus bisa memilih demi kemaslahatan semua orang. sehingga itu lah sikap yang harus di miliki oleh seorang pemimpin.

Misbahuddin juga memaparkan bagaimana sifat-sifat qiyadah itu. Pertama, Ikhlas dan kuat. Dimana bukan hanya kuat pikiran dan logika nya namun juga hati nya. Kedua, kasih sayang dan cinta. Seorang pemimpin juga harus memiliki sifat ini, dimana cinta disini seorang pemimpin yang harus mencintai anggota nya. Jika lau ada seorang pemimpin yang tidak cinta dan tidak sayang terhadap anggota maka sistem yang sudah di buat tidak akan sesuai dengan apa yang di sampaikan. Karena seorang pemimpin itu adalah seorang syeh. Guru, dll. Ketiga, amanah. Peran seorang pemimpin disini harus memiliki sifat amanah. Jika pemimpin lalai pada satu amanah, maka akan berdampak buruk bagi anggota nya. Maka dari itu sifat-sifat ini harus di miliki oleh pemimpin dalam mengambil peran amal jama’i dan qiyadah wal jundiyah.

Seorang pemimpin itu juga jangan melupakan raja dari maha raja segala raja yaitu Allah SWT. Dimana pemimpin yang sudah taat dan patuh terhadap aturan Allah maka akan menurunkan kebaikannya kepada jundiyah anggota nya. Tatkala amanah yang maha berat bahwa cita-cita yang besar karena menegakkan dirullah di bumi dengan mebangkitkan kembali khalifah islamiyah. Setelah kita mengetahui sifat-sifat dan amanah maka dalam sebuah organisasi ada nya “Tsiqah” yaitu “ketenangan”.

Menumbuhkan jiwa kepemimpinan jika tidak di landasi dengan kerja sama atau amal jama’i maka tidak akan tumbuh kepemimpinan yang mampu mengayomi anggota nya. pada hakikat nya bahwa amal jama’i itu merupakan kerja sama berjamaah.

Ibaratkan Berjama’ah seperti pohon pisang dalam memompa semangat kerja berjamaah, kita bisa belajar dari jalan hidup pohon pisang. Di antara keunikan pohon pisang, sebelum berbuah ia tak hentinya berkembang. Bahkan, jika ada yang memotongnya, ia akan terus tumbuh dengan tunas baru. Perjalanannya tidak akan berhenti sampai ia berbuah dan memberikan manfaat bagi orang lain. Nyaris seluruh “tubuh”nya bisa dimanfaatkan. Mulai dari batang pohonnya, daunya, gedebongnya, dan buahnya.

Begitu seharusnya hidup seorang Mukmin. Ia tak boleh mengenal henti. Seluruh hidupnya harus melahirkan karya. Karya yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Personal sebuah jamaah hendaknya selalu berprinsip, untuk selalu memberikan kontribusinya pada jamaah. Bukan sebaliknya, berpikir untuk mendapatkan sesuatu dari jamaah.

Maka dari itu urgensi dalam sebuah organisasi amal jama’i hubungan antara pemimpin dan anggota nya seperti :

  • Saling menghormati dan menghargai
  • Saling mempercayai dan berbaik sangka
  • Saling menasehati
  • Saling mencintai
  • Saling mempererat persaudaraan dan kedekatan
  • Saling menyiapkan diri bilamana terjadi pergantian kepemimpinan
  • Bersama-sama senantiasa mengkaji hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya serta perkembangan berbagai harakah dan musuh dakwah disekitarnya

Jadi, sebuah organisasi akan terwujud dengan baik apabila para jundi nya taat dan patuh pada apa yang di katakan oleh pemimpin. Sehingga dimana seorang pemimpin bukan hanya fokus pada hak-hak nya saja. Namun, juga pada aturan-aturan dan hak-hak nya kepada Allah swt.

Reni Marlina (Writer Executive Media)

Komentar

komentar