Bagaimana Seharusnya Kecintaan Hamba pada Tuhannya

(Istimewa)

Oleh : Annisa Rizkiyah (Mahasiswa STEI SEBI)

Rasa cinta yang diliputi keimanan dalam hati seorang hamba, menjadi dasar keteguhan dalam ber-Islam. Amal dan ibadah yang dilakukan tanpa cinta yang melahirkan keikhlasan, akan berujung sia – sia dan mengurangi nilai ibadah dihadapan Tuhannya. Seperti yang kita ketahui hari ini, banyak dari kita yang mengaku memiliki kecintaan yang baik bahkan utuh untuk Allah SWT. Namun, apakah cinta tersebut telah sesuai dengan cinta yang seharusnya kita persembahkan untuk – Nya?. Mari melihat sejenak kecintaan kita pada Allah agar cinta kita menjadi cinta yang seutuhnya.

Definisi cinta secara umum ialah, “naluri yang tumbuh pada diri seseorang untuk memperhatikan, menyayangi, dan melindungi objek yang dicintainya”. Dalam definisi tersebut kita dapat melihat bahwa, cinta tak hanya sekedar naluri yang ada dan tumbuh namun juga menghasilkan realisasi dalam bentuk aksi nyata seperti penjagaan terhadap objek. Terdapat beberapa catatan yang harus diperhatikan dalam memaknai kata ‘cinta’. Cinta yang sehat bukanlah cinta yang berdasarkan perasaan semata, namun juga tumbuh dari iman (atas dasar kepercayaan) dan juga dapat diwujudkan dalam kenyataan / perbuatan.

Menurut Ustadz Ahmad Bisyri, Lc, MA. , klasifikasi cinta terbagi menjadi dua yaitu cinta syar’i (suci) dan cinta ghairu syar’i. Cinta Syar’i merupakan cinta yang mendapat dukungan dan sesuai syari’at. Sedangkan cinta ghairu syar’i adalah cinta yang tidak mendapat legitimasi dan dukungan dari syari’at. Cinta seperti ini bukan berarti haram, hanya saja tidak dianjurkan. Dijelaskan dalam QS : Ali – Imran : 14, bahwa dijadikan indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa perempuan – perempuan, anak – anak, harta benda yang bertumpuk dalam emas dan perak dan sebagainya. Sesungguhnya nikmat – nikmat tersebut hanyalah kesenangan di dunia yang sementara dan berasal dari hawa nafsu. Maka cinta yang seharusnya bersemayam di hati kita ialah cinta syar’i. Karena jika di hati kita dikuasai oleh hawa nafsu, maka kecintaan kita bukanlah kecintaan yang tulus dan hanya menghasilkan kesia – siaan di hari akhir kelak.

Agar cinta yang kita miliki merupakan cinta syar’i, maka kita perlu mengetahui bagaimana indikasi cinta yang syar’i. Di dalam Al – Qur’an terdapat beberapa indikasi cinta syar’i, yang pertama ialah kecenderungan selalu menyebut dan mengingat objek yang dicintainya. Dalam QS : Al – Anfal : 2, Allah memberi penjelasan bahwa orang – orang yang beriman kepada Allah, apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan bertambahlah keimananya. Kedua, mengagumi objek yang dicinta. Dalam QS : Al – Ali Imran : 190, Ia mengatakan bahwa orang – orang yang berakal akan senantiasa memerhatikan ciptaan Allah SWT. Dapat kita ketahui bahwa dalam proses memerhatikan sesuatu akan tumbuh rasa kagum dan kecintaan pada penciptannya atau Rabb – nya.

Ketiga, rela berkorban demi objek yang dicintainya. Dalam tafsir Ibnu Katsir QS : At – Taubah : 111 dijelaskan bahwa Allah SWT memberitahukan bahwa Ia membeli dari hamba – hamba – Nya yang mukmin, diri dan harta yang mereka korbankan di jalan Allah dengan syurga. Hal ini merupan karunia, kemurahan dan kebajikan – Nya kepada mereka (mukmin). Karena sesungguhnya Allah telah menerima apa yang dikorbankan hamba – Nya. Dari tafsir ayat ini kita dapat mengetahui bahwa cinta yang kita persembahkan pada Allah ialah cinta yang menghasilkan realisasi nyata, yaitu rela berkorban memperjuangkan agama ini. Seorang mukmin yang telah mengorbankan jiwa dan hartanya dengan niat yang lurus tidak akan mendapat suatu kesia –siaan. Namun layaknya jual beli, Allah akan membalasnya dengan syurga yang abadi.

Yang terakhir, seorang hamba yang memiliki cinta tulus pada Tuhan – nya akan selalu bersikap loyal. Allah SWT menjelaskan dalam QS : Al – Maidah : 54, bahwa Ia akan mendatangkan suatu kaum yang Ia cintai dan merekapun mencintai – Nya sebagai ganti orang – orang beriman yang murtad. Kaum tersebut merupakan kaum yang loyal, memiliki sikap yang lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir.

Begitulah cinta syar’i yang mendapat ridho dari Allah SWT. Maka, mari melihat sejenak sudahkan hati kita merawat cinta dengan benar sehingga dapat menghasilkan output yang baik terhadap Allah?. Dengan memiliki cinta yang sehat, sebagai mukmin kita akan mendapat kebahagiaan di dunia maupun di akhirat nanti. Semoga kita termasuk orang – orang yang selalu berinstropeksi dan menjaga keindahan cinta suci yang kita miliki untuk Allah SWT, Tuhan yang Rahmaan dan Rahiim. Amiin.
Wallahua’lam….

Comments

comments