Zakat Sebagai Solusi Permasalahan Ekonomi

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Afra Nadilla (STEI SEBI)

Ekonomi kerap kali dihiasi dengan berbagai metode cemerlang dalam perkembangannya. Zakat merupakan cara terbaik dalam mensejahterakan masyarakat. Zakat menjadi andil terpenting dalam pertumbuhan ekonomi. Terdapat dua dimensi dalam pembentukan zakat dalam perekonomian. Baik secara vertikal yang berartikan sikap ketaatan dan ibadah kepada Allah swt dan secara horizontal yang merupakan sikap sosialisasi sesama manusia.

Zakat merupakan salah satu ciri perekonomian didalam islam, sehingga ia memiliki azaz-azaz dalam penerapannya. Tingkat pentingnya zakat ini pula terdapat 82 ayat didalam Al-Quran yang menyerukan zakat selayaknya menyerukan sholat. Sehingga ia menjadi penting dalam penerapan ekonomi.

Orang yang membayar zakat merupakan bentuk manivestasi dalam beragama dan berkeyakinan, merupakan jembatan pemerataan dan keadilan yang menegaskan bahwasanya Allah memberikan harta kepada manusia secara merata. Dalam segi produktifitas, menanamkan moral dan etika bahwa pentingnya mengeluarkan zakat sesuai dengan pendapatan. Yang paling penting dari segi etika, zakat tidak diminta secara semena-mena.

Jika perkembangan ekonomi terus memuncak, seharusnya sistem zakat juga harus berkembang. Karena sejatinya zakat itu sendiri merupakan kunci kejayaan. Didalam zakat seseorang yang bersifat mampu (muzakki) memiliki kewajiban untuk mendistribusikan harta kepada 8 golongan penerimaan zakat (mustahik) yaitu fakir miskin, hamba sahaya, muallaf, dan sebagainya.

Dalam hal ini, jika semua orang menerapkan sistem zakat dalam perekonomian, tentulah dapat mengurangi kesenjangan sosial antara masyarakat mampu dan tidak mampu. Karena seperti yang kita lihat saat ini, begitu terlihat kesenjangan sosial dalam bermasyarakat yang disebabkan karena strata pendapatan.

Jika zakat ini diimplementasikan dalam perekonomian, dapat memperkecil jurang perekonomian, meminimalisir tingkat kemiskinan di indonesia. Menekan jumlah kriminalitas yang merajalela, pelacuran, gelandangan dan pengangguran. Karena telah tercipta pemerataan dan keadilan. Zakat menjadi konsumsi penjagaan beli masyarakat agar dapat memelihara sektor usaha. Selain itu juga memupuk semangat masyarakat dalam berinvestasi dan tidak terjadi penimbunan uang.

Bukankah telah disebutkan dalam sebuah hadist ? “merugilah hamba dinar, merugilah hamba dirham” maksud disini adalah, sungguh islam menekankan bahwa sangat meruginya orang-orang yang menimbun harta. Sebaliknya, dihadist tersebut terdapat makna tersirat, bahwasanya umat islam diperintahkan untuk mengelola serta mengembangkan harta yang dimiliki untuk kesejahteraan.

Zakat itu sendiri merupakan perkara wajib dalam sistem ekonomi islam. Sehingga ketentuan hukumnya berada dibawah naungan negara. Zakat dikumpulkan, dikelola, didistribusikan melalui Baitul Maal. Ketentuan atau instrumen yang telah Allah swt tetapkan dalam berbagai aspek memiliki keuntungan atau manfaat bagi pribadi (nafs) dan banyak orang (jama’i).

Begitu pula halnya dengan sistem ekonomi, memberi nilai ibadah bagi pembayar zakat (muzakki) dan memberi kemanfaatan individu (nafs) dan menjadi penggerak ekonomi bagi orang-orang dilingkungan yang menjalankan zakat ini, sehingga menjadi manfaat secara kolektif (jama’i).

Zakat tanpa disadari menjadi fasilitas dalam penyucian diri. Maksudnya adalah membersihkan diri dari perbuatan kekikiran dan cinta harta yang berlebihan, zakat menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati manusia, sedangkan manfaat kolektif dalam masyarakat adalah mengingatkan bahwa ada hak orang lain dalam hartanya. Sifat kebaikan inilah yang menjadi kebaikan kolektif (jama’i). Dengan kelembutan dan kebaikan hati, mansuia akan memberikan hartanya kepada manusia yang membutuhkan. Dengan kata lain zakat “memaksakan” manusia yang memiliki kecukupan harta untuk mau berbagi kepada yang kekurangan.

Selain itu eksistensi zakat dalam kehidupan menusia baik pribadi maupun kolektif pada hakikatnya memiliki makna ibadah dan ekonomi. Disatu sisi, zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang mampu dari kepermilikan harta dan menjadi suatu ukuran variabel utama dalam menjaga kestabilan sosial ekonomi agar selalu berada pada posisi aman untuk terus berlangsung.

Dalam perspektif kolektif dan ekonomi , zakat akan melipatgandakan harta masyarakat. Proses pelipatgandaan ini dimungkinkan di pasar yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Afra Nadilla/STEI SEBI)

Komentar

komentar