Wujudkan Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Dunia

Ilustrasi.

Oleh: Salma Mardhiyah

Seorang yang beriman akan senantiasa mengkonsumsi apa saja yang dipandang oleh syariat sebagai perkara yang halal dan baik. Entah itu mengkonsumsi untuk dirinya sendiri, dinafkahkan kepada keluarga atau diperjual belikan kepada kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 168 dan 172, konsumsi produk halal tidak terbatas pada ummat muslim saja, tetapi mencakup seluruh manusia.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” ( QS Al Baqarah :168)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al Baqarah : 172)

Gaya hidup halal yang sedang merekah di sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia saat ini menjadi sebuah kesempatan emas bagi berbagai pelaku industri. Kalau kita terjemahkan secara umum halal lifestyle berarti gaya hidup halal. Dalam perspektif Islam kata halal disampaikan dengan thayyiban : “halalan thayyiban “ berarti halal dan baik yang bermakna secara akidah (spiritual) gaya hidup yang sesuai dengan ajaran Islam dan berarti juga sesuatu yang baik. H. Sapta Nirwandar Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center mengatakan alasan fenomena ini adalah karena munculnya peningkatan kesadaran komunitas Muslim yang ingin hidupnya lebih sesuai dengan syariah atau ajaran Islam. Karena itu,  tak mengherankan gaya hidup halal diadaptasi banyak negara karena saat ini saja umat Islam berjumlah 25 persen dari total populasi dunia atau mencapai 1,8 miliar jiwa dengan jumlah Gross Domestic Product mencapai US$7,740. Ini adalah jumlah yang sangat potensial sebagai pasar produk dan layanan halal.

Negara Indonesia, tidak hanya dikenal sebagai negara dengan populasi penduduk terbanyak keempat di dunia, namun juga sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim. Potensi tersebut pun membuat Indonesia menjadi kiblat untuk tiga sektor riil. Presiden Direktur Karim Business Consulting, Adiwarman A Karim, memaparkan Indonesia memiliki permintaan besar, namun di saat yang sama juga punya creative supply. “Karena dua hal ini Indonesia menjadi kiblat dunia sektor riil untuk tiga sektor penting yaitu kiblat dunia untuk pangan halal, fashion muslim dan islamic fun and entertainment (hiburan Islami),” kata Adiwarman dalam Seminar Ikatan Ahli Ekonomi Islam ‘Integrasi Keuangan Syariah Menuju Stabilitas Sistem Keuangan dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan’, Selasa (14/4). Di sektor busana muslim, Adiwarman mengatakan industri busana muslim Indonesia berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Beragam busana muslim mudah ditemui dimana-mana. Indonesia pun menargetkan menjadi kiblat busana muslim dunia pada 2020.

Keingingan menjadikan Indonesia sebagai kiblat mode busana muslim dunia sudah digadang-gadang sejak lama. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkannya, baik oleh pemrintah, desainer, dan berbagai pihak lainnya. Salah satunya melalui Indonesia International Halal Lifestyle Expo & Conference (IIHLEC) 2016. Ajang IIHLEC 2016 yang berlangsung di Ciputra Artpreneur 6-8 Oktober tersebut, menampilkan fashion show kreasi busana muslim yang kreatif dan inovatif dari sejumlah desainer. Mereka antara lain Dian Pelangi, Irna Mutiara, Deden Siswanto, Si.Se.Sa, El Hijab, dan L.Tru . Bukan tanpa alasan mengapa cita-cita ini dipilih dan diupayakan sukses. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim yang besar, Indonesia punya banyak peluang untuk menggarap sektor busanamuslim. Selain itu, desain-desain busana muslim Indonesia pun diakui punya keanekaragaman dan juga model yang tak berbeda dari busana muslim pada umumnya. Dengan kata lain, busana muslim Indonesia dikagumi muslimah lain di seluruh dunia. Busana muslim kreasi desainer Indonesia ini dianggap bisa tampil gaya tanpa harus ‘terbuka’.

Berbagai keuntungan dan kesempatan ini dimanfaatkan penggiat mode dan pemerintah untuk bisa sukses di dunia fesyen muslim.
Indonesia pun menggantungkan mimpi untuk jadi kiblat busana muslim dunia pada tahun 2020. Untuk mewujudkan cita-cita ini, beragam upaya dan strategi dilakukan. Beragam asosiasi fesyen dengan berbagai visi dan misi pun dikembangkan untuk mencapai cita-cita ini. Kolaborasi dijalin antara asosiasi, desainer, dan juga pemerintah.

Perlu peran dari pemerintah untuk menciptakan regulasi dan strategi yang komprehensif. Selain itu, terkait Masyarakat Ekonomi ASEAN, bukan hanya terkait kompetisi, tetapi juga kolaborasi dalam meningkatkan industri halal ini. Pada 17 Oktober 2016, UU Jaminan Produk Halal (JPH) No 33 Tahun 2014 memasuki usia dua tahun. Kelahiran UU ini memberi kepastian hukum dan perlindungan terhadap produk halal yang amat penting bagi penduduk Muslim dan pihak lain, apa pun agama dan kewarganegaraannya. Sebab, produk halal tidak sekadar memenuhi kaidah agama, tapi juga produk yang sehat, bersih, aman, dan higienis. Pendekatan perlu dilakukan dari semua aspek dan di semua jenjang mulai dari keluarga, institusi pendidikan, komunitas, dan negara. Ketegasan hukum oleh pemerintah sangat penting. Apalagi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal (UU JPH) sudah ada. Kemenperin akan mensosialisasikan industri yang memasarkan produk-produk halal sekaligus mendorong perusahaan yang memang sudah mendapatkan sertifikat untuk ikut berpartisipasi. Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Syarif Hidayat pun mengatakan “Kita merupakan negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar. Tentunya sudah menjadi kewajiban pemerintah memperhatikan kebijakan yang terkait dengan penyediaan produk-produk halal,” ungkap Syarif.

Pada Januari-November 2014, nilai ekspor fashion Indonesia mencapai 12,51 miliar dolar atau meningkat 16,59 persen dari periode sama tahun 2013.  Nilai ekspor tersebut termasuk produk busana muslim karya para desainer Indonesia. Tujuan ekspor diantaranya Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Uni Emirat Arab. Bagi masyarakat Indonesia, kehadiran tren fashion muslim bukanlah hal yang baru. Bersamaan dengan antusiasme berhijab dalam satu dekade terakhir ini, berbagai macam gaya dan varian busana yang menunjang muslimah pun bermunculan, yang juga melabungkan nama para perancangnya. Pesatnya tren busana muslim di Indonesia juga telah menempatkan Indonesia di urutan ketiga sebagai negara dengan nilai konsumsi fashion muslim terbesar pada 2013, dengan nilai 18,8 miliar. Turki memimpin di posisi pertama dengan $39,3 miliar, disusul Uni Emirat Arab USD 22,5 miliar. Data dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) mencatat pada 2015 ekspor fashion muslim Indonesia berada di peringkat ketiga dengan nilai $7.18 miliar setelah Bangladesh senilai $22 miliar dan Turki sebesar $14 miliar. Sektor fashion juga menyumbang cukup signifikan bagi perekonomian. “Kuliner [menyumbang] 32 persen yaitu sebanyak 220 Triliun, fashion [menyumbang] 30 persen, 200 Triliun. Nomor tiga kerajinan, keempat printing, kemudian desain, termasuk arsitektur di dalamnya,” Menteri Pariwisata Arief Yahya membeberkan sektor-sektor yang menyumbang PDB Indonesia pada 2015, seperti dipetik Antara. Global Islamic Economy juga mencatat angkanya sama sekali tak kecil. Pada 2013, kontribusi belanja fashion muslim terhadap belanja fashion dunia besarnya 11 persen, dengan nilai $266 miliar, tumbuh 9,95 persen dari tahun sebelumnya. Pada 2019 nanti, diperkirakan nilainya akan mencapai $484 miliar atau sebesar 14,4 persen terhadap belanja fashion dunia.

Dihadapkan perkembangan industri halal global, State of the Global Islamic Economic melaporkan pada 2018 nantinya industri pakaian muslim akan berkontribusi sebesar $320 miliar. Ia berada di ranking ketiga setelah yang sumbangan dunia keuangan Islam sebesar $3.91 triliun dan makanan halal $1,6 triliun. Jika belanja fashion di beberapa negara berpenduduk muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi digabung, ia akan pada 2013 akan menempati urutan ketiga di dunia. Nilainya mencapai $266 miliar. Urutan pertama diduduki masyarakat Amerika Serikat yang membelanjakan uangnya senilai $395 untuk sektor fashion, disusul Cina dengan nilai $285 miliar dan Rusia yang mencatat $111 miliar berada di urutan keempat. Dalam dunia e-commerce, gairah industri fashion muslim dunia juga mencatatkan nilai transaksi yang cukup tinggi. Turki memimpin dengan nilai belanja online sebesar $474 juta, UEA sebesar $428 juta, Amerika Serikat dengan $422 juta, Arab Saudi sebesar $366 juta dan Indonesia sendiri menempati urutan ke-13 dengan nilai $111 juta.

CEO Islamic fashion e-commerce HijUp.com, Diajeng Lestari mengaku optimistis Indonesia bisa menjadi kiblat fashion muslim atau modest fashion dunia yang ditargetkan akan tercapai di tahun 2020. Ini bisa terlihat dari banyaknya pembeli dari luar negeri yang mencari busana muslim di online mall HijUp.com. “Pembeli HijUp.com banyak sekali yang berasal dari luar negeri seperti dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Inggris, dan negara-negara Timur Tengah. Ini menunjukkan kalau busana muslim yang dirancang desainer Indonesia memang sudah diakui dunia,” kata Diajeng Lestari, di Jakarta, Sabtu (11/7). Keyakinan Diajeng juga semakin kuat karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

“Kita juga punya DNA yang sangat bagus, yaitu kreativitas dan seni. Saya yakin sekali ke depannya Indonesia bisa menjadi kiblat fashion muslim dunia, jadi the next Paris dan Milan,” tambah Diajeng, yang sudah mulai mengelola HijUp.com sejak 2011 dan berhasil menggaet lebih dari 200 desainer busana muslim.

Industri fashion muslim dunia tampaknya masih akan terus melesat, seiring semakin populernya busana muslim dan meningkatnya kelas menengah di negara-negara berpenduduk muslim. Tampilnya busana muslim Indonesia di ajang pagelaran-pagelaran busana berkelas di dunia jadi tak mengherankan, mengingat pasarnya yang juga meluas. Bahkan, jauh-jauh hari Islamic Fashion Consortium (IIFC) memprediksi Indonesia akan menjadi kiblat fashion muslim dunia pada 2020 nanti.

Oleh karena itu, besar harapannya agar produk halal harus menjadi gaya hidup, marak dijadikan budaya keseharian bagi setiap keluarga di lingkungan masyarakat. Sebab, dengan dijadikannya Indonesia sebagai kiblat dunia dalam hal proses sertifikasi halal, maka wajib diikuti dengan budaya konsumsinya yang mendarahdaging dan konsisten.

Comments

comments