Parameter Suksesnya Ibadah

Ilustrasi.

Oleh: Annisa Rizkiyah – STEI SEBI

Dr. Fathi Yakan mengatakan dalam buku “Apa Bentuk Komitmen Saya kepada Islam”, ibadah dalam perspektif Islam adalah kepasrahan yang total dan merasakan keagungan Dzat yang disembah (Allah). Dalam Qur’an surat Az – Dzariat ayat 56, dijelaskan bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun yang terjadi pada hari ini kita telah disibukkan dengan perkara – perkara dunia yang tak abadi, sehingga menjadikan kita lupa akan tugas utama kita sebagai hamba.

Banyak dari kita yang masih meniatkan ibadah yang dilakukan hanya untuk mengugurkan kewajiban, padahal ibadah merpakan asupan utama rukhiyah muslim. Rukhiyah yang baik akan melahirkan hati yang sehat dan prilaku yang mulia, yang menjadi penunjang manusia bermuamalah dan bekal amal yang dibawa untuk keselamatan ukhrawi manusia.Maka mulai hari ini pula, kita harus mulai untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal terbaik, dengan cara memperbaiki ibadah kita.

Dalam melaksanakan ibadah, seringkali muncul pertanyaan tentang seperti apa ibadah yang sukses? Apa parameter untuk mengukur kesuksesan tersebut?. Kesuksesan dalam beribadah dapat diukur melalui landasan dan praktek yang kita lakukan.

Landasan yang harus dimiliki muslim dalam beribadah ialah keikhlasan dalam melaksanakannya.Ikhlas adalah kemurnian hati seseorang untuk meraih ridho Allah dalam setiap aktivitas. Maka sebelum menunaikan ibadah, yang harus dilakukan adalah meluruskan niat hanya semata ingin mendapat ridha Allah SWT. Ibadah yang dilakukan harus didasari dengan ketaatan yang sempurna dan kecintaan yang penuh kepada Sang Maha Pencipta. Inilah yang menjadi dasar yang kemudian bertumbuh menjadi keikhlasan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah terdapat pada Surat Az Zumar ayat 2,

إِنَّاأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“sesungguhnya kami menurunkan kitab (Al – Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan (memberi) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepadaNya.”

Dalam tafsir jalalain dijelaskan bahwa ibadah harus dimurnikan ketaatannya dari kemusyrikan, dengan maksud lain adalah mentauhidkannya.

Terkadang hati manusia lengah terhadap godaan syaitan. Keinginan ingin dipuji dan mendapat imbalan berupa materi kerap menjadi penyakit dalam hati manusia. Tak jarang hati yang sakit ingin dilihat dan mendapat pujian serta image yang baik dari kaca mata manusia dengan ibadah yang dilakukannya. Hal ini dapat merusak keikhlasan dan ibadah itu sendiri. Kecuali pujian dan imbalan yang kita dapat merupakan konsekuensi dari ibadah. Pujian tersebut merupakan nilai plus atau bonus yang Allah berikan kepada hambaNya sebagai imbalan selain pahala disisiNya. Maka kembali lagi, yang harus menjadi tujuan utama ibadah ialah mengharap ridho Allah SWT.

Selain keikhlasan, kesuksesan ibadah akan diraih apabila praktek yang dilakukan sesuai dengan syari’at. Dalam kaidah fiqh hukum asal ibadah adalah haram, maka suatu ibadah tidak boleh dilaksanakan kecuali ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Praktek ibadah yang tak sesuai dengan syari’at tidak akan diterima bahkan dapat merusak aqidah kita. Seperti orang – orang yang mengakui adanya Allah tetapi tidak beribadah sesuai dengan apa yang diperintahkan. Allah berfirman dalam QS : Ali – Imran : 31,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Semua tata cara ibadah telah Allah tuliskan dalam Al – Qur’an dan dijelaskan melalui hadist – hadist Rasulullah SAW. Ayat di atas Nabi Muhammad diperintahkan Allah, berkata untuk menekankan apabila kita mengaku sebagai hamba yang mencintai tuhannya, maka ikutilah RasulNya. Dalam perkara apapun seharusnya kita mengikuti sunnah Rasul, terlebih dalam ibadah yang diwajibkan dalam Al – Qur’anul Karim.

Keikhlasan dan kesesuaian dengan syari’at ketika beribadah merupakan sesuatu yang mutlak dipenuhi oleh muslim. Dan menjadi acuan dalam mengukur kesuksesan dalam beribadah. Apabila dua hal tersebut telah terpenuhi, maka ibadah akan menghasilkan dampak positf kepada orang yang beribadah terlebih dalam segi rukhiyah.

Pertama, dapat meningkatkan keimanan. Dalam surat Al – Anfal ayat 2, Allah berfirman bahwa orang – orang mukmin ialah orang yang bertambah keimanannya ketika di bacakan ayat – ayat Allah.

Kedua, diri seorang muslim akan memiliki rasa penyerahan diri kepada Allah yang kuat. Seperti yang kemenangan pasukan muslimin ketika perang Ahzab yang serba kekurangan dalam materi, mereka menjadikan perjuangan mereka sebagai ibadah demi menjayakan Islam. Dengan berserah diri mereka mendapat pertolongan Allah berupa ide membuat parit dan angin topan yang mengalahkan kaum kafir.

Yang ketiga, ibadah yang sempurna akan melahirkan ihsan. Ihsan merupakan tingkatan tertinggi Islam. Dijelaskan di Hadist Arba’in no 2 mengenai iman, islam, dan ihsan. Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.

Dengan mengetahui parameter kesuksesan dalam ibadah kita dapat menilai sudahkah ibadah kita bernilai disisi Allah. Mengukur semurni apa keikhlasan ibadah dan mulai mengoreksi kembali kesesuaian dengan syari’at ibadahyang selama ini telah dilakukan. Semoga kita termasuk golongan orang – orang yang selalu memperbaiki diri dan mendapat rahmat Allah SWT. Wallahua’lam bishwab.

Sumber rujukan : Modul Tarbiah Islamiyah, Hadist Arba’in An Nawawi, Apa Bentuk Komitmen Saya kepada Islam (Dr. Fathi Yakan).

Comments

comments