Optimisme Ditengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Ilustrasi

Kondisi masyarakat global beberapa tahun ini mengalami ketidakpastian, dalam bidang ekonomi yaitu adanya resiko perlambatan. Resiko perlambatan tersebut dipengaruhi oleh terpilihnya Donald J. Trump sebagai presiden AS, dunia masih menebak-nebak arah kebijakan presiden, apakah akan menepati janji-janjinya pada saat kampanye atau tidak. Begitu pula dengan rencana bank central AS dalam menyesuaikan tingkat bunga acuan, rendahnya harga komoditas, menurunnya kucuran modal ke negara berkembang. Resiko lainnya juga berasal dari perlambatan ekonomi di tiongkok yang saat ini sangat sulit untuk mencapai pertumbuhan tinggi yang berdampak menurunkan kinerja sector perdagangan internasional melalui harga komoditas dan pertumbuhan perdagangan dunia.

Ditengah pertumbuhan ekonomi Indonesia, ketidakpastian global ini sangat mempengaruhi laju pergerakannya. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia banyak di pengaruhi oleh ekonomi global terutama ekonomi kapitalis dan sosialis. Secara tidak langsung Indonesia menggantungkan harapanya pada ekonomi global. Hal ini lebih disebabkan karena Indonesia merupakan negara berkembang yang menjadi sedikit lebih mudah mengalami guncangan eksternal, dan masalah fundamental ekonomi Indonesia yang belum begitu stabil. Diantaranya Indonesia masih ketergantungan terhadap barang impor, infrastruktur yang masih belum begitu baik, pendapatan yang belum merata, angka kemiskinan, produktivitas yang rendah, tingkat pengangguran yang semakin tinggi, ekspor melemah dan kesenjangan ekonomi yang semakin tinggi.

Namun ditengah melemahnya ekonomi global, Indonesia mempunyai modal optimisme yaitu laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menguat mencapai 5,1% pada tahun 2016 dengan inflasi yang terjaga pada angka 3,02%. Jika melihat sejarah pada tahun lalu Indonesia pernah mencapai 6% namun pada saat yang sama inflasi mencapai 9%. salah satu faktor utama menguatnya pertumbuhan perekonomian Indonesia adalah berkembangnya sistem ekonomi islam, pada saat ini sistem ekonomi islam telah menjadi alternatif, karena bukan saja menanamkan sistem baru dalam perekonomian, melainkan merubah sistem bunga dalam perekonomian konven kepada sistem bagi hasil. Ekonomi islam menghapuskan sistem bunga dalam perbankan yang sangat terpengaruhi oleh menurunya ekonomi global, karena bunga akan meningkat seiring tingkat pertumbuhan global menurun, dan otomatis harga komoditas barang akan naik. Dengan menghapuskan sistem bunga, tingkat inflasi akan menurun, dan harga yang stabil membuat perekonomian inonesia tumbuh.

Bila kita kilas balik sejarah, krisis tahun 1998 hampir meluluh lantahkan seluruh sektor perekonomian negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Namun Ekonomi Islam tetap berdiri kokoh, sebab itulah sampai saat ini Ekonomi Islam banyak dipercaya menjadi sistem yang paling ideal. Hingga saat ini ekonomi syariah tumbuh subur di Indonesia, Statistik Perbankan Syariah (SPS) menunjukan pada periode juli 2016 market share perbankan syariah berada pada angka 4,81% meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 4,60%. Selain dari market share terjadi juga peningkatan asset perbankan syariah (BUS dan UUS) senilai 18,49% pada 2016 angka yang cukup menjadi modal optimisme kebangkitan ekonomi syariah.

Selain itu kemenangan Indonesia pada 12 kategori dalam ajang perlombaan World Halal Tourism Award 2016 juga memeberikan angin segar bagi nafas ekonomi syariah di Indonesia, masyarakat lebih membuka mata terhadap perkembangan ekonomi syariah, karena Islam merupakan agama yang kaffah, segala sesuatunya diatur dalam Al-Qur’an termasuk berekonomi, sehingga islam menjadi way of life.

Situasi ketidakpastian perekonomian global justru harus jadi momentum bagi perekonomian Indonesia untuk matang dan maju, pemerintah pusat dan daerah harus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi untuk memberantas kemiskinan dan kesenjangan dan memperluas kesempatan kerja. Dengan lemahnya ekonomi global, Indonesia mempunyai kesempatan untuk menguatkan rupiah karena dollar yang sedang melemah.

Lina Herlina

Comments

comments