Meneladani Keistimewaan Khadijah, Cinta sejati Rasulullah.

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Lia herlianti STEI SEBI

“… demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku mempeoleh keturunan-sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istrikku yang lain.” (HR Ahmad)

Hal pertama yang perlu kita ketahui tentang sosok ibunda Khadijah adalah bahwa Ia mendapat pemeliharaan dan bimbingan langsung dari Allah di sepanjang hidupnya. Allahlah yang mengarahkan Khadijah untuk menjadi teman hidup Rasulullah. Allah pulalah yang memunculkan tekad dihatinya untuk senantiasa membela dan mengobarkan semangat Rasulullah dalam berdakwah. Allah yang menganugerahkan kecerdasan berfikir dan akhlak yang mulia. Allah menjaganya dari perbuatan tercela, sehingga penduduk Makkah menjulukinya sebagai At-Taharah “ wanita yang suci”

Setelah menikah dengan Muhammad, Khadijah menyerahkan semua perdagangannya dan pengolahan financial kepada suaminya yang terkenal cerdas dan jujur. Ia juga mendukung keputusan suaminya untuk bersedekah kepada fakir miskin dan membantu orang-orang yang tertimpa kesulitan. Sejak awal Khadijah memang memiliki karker yang mulia. Tentu saja karakter dan keputusan Khadijah itu merupakan bagian dari rencana Allah yang Maha Agung.

Satu yang harus kita kagumi dari Khadijah adalah ketika Allah melalui malaikat Jibril menyampaikan salam kepada Khadijah. Suatu hari , malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan berkata,” wahai Muhammad, sebentar lagi Khadijah akan membawakan makanan dan minuman untukmu, kalua ia datang, sampaikan salam kepadanya salam dari Allah, dan salam dariku.
Cara Khadijah menjawab salam itupun menunjukan keluasan pandangan dan kedalaman perasaannya. Jawabannya itu mengandung pengagungan terhadap Allah menganugerahkan kepadanya keselamatan dan kedamaian serta salam untuk jibril yang telah menampaikan kepadanya salam dari Allah. Khadijah berkata,” Allahlah pemelihara kedamaian dan sumber segala damai, salamku untuk jibril.

Muhammad merupakan pemuda yang teguh menjaga kehormatan dirinya. Ia tidak pernah mengenal wanita lain sebelum Khadijah, ketika meikah, Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun. Ketika Muhammad kemudian diangkat menjadi rasul, Khadijah lah yang berperan penting dalam menghilangkan keraguan dan ketakuatan dari diri Muhammad. Khadijah pula yang pertama mengimani dan mempercayainya. Ditengah kerasnya intimidasi dan tekanan kaum Quaraisy kepada Rasulullah, Khadijah juga yang dengan setia mendampingi dan membelanya. Benarlah pernyataannya bahwa “ Muhammad tidak pernah menerima pengingkaran dan pendustaan yang menyakiti hatinya kecuali Allah meringankannya melalui Khadijah.

Peran ituterus dijalankan Khadijah selama sepuluh tahun, sejak ia berusia 55 tahun hingga ia meninggal dunia di usia 65 tahun. Kekuatan fisik dan kecantikan Khadijah sesemakin lama semakin pudan dimakan usia. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah berubah didalam dirinya : kekuatan spiritual dan kejernihan cinta. Ia selalu dan selamanya beriman kepada Allah serta meyakini kebenaran risalah suaminya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah pada masa hidup Khadijah tidak pernah berikir untuk menikah lagi dengan perempuan lain atau menjadikan hamba sahaya wanita sebagai istri. Begitu berarti Khadijah bagi beliau hingga tak ada seorangpun yang bisa menggangtikan posisinya.

Betapa sempurnanya sifat Khadijah sebagai wanita muslim, kesetiaanya kepada suami, kecerdasannya dalam berfikir dan kejernihannya dalam menentukan sikap membuat ia mendapatkan salam langsung dari Allah melalui malaikat jibril, membuktikan bahwa Allah pun menhormati Khadijah. Bukan hanya itu Allah memberikan kabar gembira kepada Khadijah tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untuknya di surga, Rasulullah bersabda,” Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya disurga sebuah rumah dari permata; taka da hiruk pikuk dan rasa lelah disana.

Kecintaan Rasulullah kepada Khadijah membuat khadijah adalah satu-satunya istri yang tidak pernah dimadu oleh rasulullah. Pernah suatu ketika Rasulullah memuji dan mendo’akan Khadijah didepan istri-istrinya yang lain. Aisyah , wanita yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis, pernah meras sangat cemburu, ia bercerita “ aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar cemburuku kepada khajidah, aku tidak pernah melihatnya tetapi rasulullah sering menyebut dan mengingatnya.”

Masya Allah sebegitu sempurnanya kah Khadijah sehingga wanita setaraf Aisyahpun sangat cemburu kepada Khadijah.

Kembali pada,

saat ini…

Kita adalah wanita-wanita akhir zaman, yang hidup ditengah-tengah kebobrokan moral, seperti tak ada aturan dibumi ini sehingga orang-orang bebas melakukan apa yang ia inginkan, dan apatis terhadap aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Sebagai wanita muslim tak ada tempat bergantung kecuali kepada Allah. Menjadi sebaik-baik perhiasan atau seburuk-buruk fitnah dunia?

Itu adalah pilhan kita sebagai seorang wanita. Menjadi wanita yang selalu meneladi kesempurnaan Khadijah sebagai seorang muslimah sejati, wahai muslimah jadilah wanita yang lembut namun memiliki komitmen yang kuat dalam hidupnya, komitmen hidup dalam keadaan islam seperti Khadijah istri Rasulullah, walaupun perbedaan yang sangat amat jauh antara kita dan Khadijah semoga kita dapat dipertemukan dan dapat berbincang dengan ibunda Khadijah di Surga FirdausNya. Aamiin..

Komentar

komentar