Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia

Ilustrasi. (Istimewa)

Indonesia Emas 2045 merupakan investasi program 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 2045 diharapkan Indonesia menjadi negara yang Maju, Modern, Makmur, Madani. Program Indonesia Emas dicanangkan pada era Presiden ke 6 Indonesia yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Tepatnya pada tahun 2005, Pemerintah telah mempersiapkan perangkat aturan terkait itu. Undamg-undang tentang Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Guru dan Dosen telah dibuat di tahun tersebut. Pada tahun tersebut juga telah ada peraturan terkait PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini yang bertujuan dalam Pembangunan Karakter sejak dini.

Tetapi sejak berakhirnya masa kepemimpinan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, banyak sekali perubahan yang dilakukan pada dunia pendidikan sebagai dasar dari Pembangunan Karakter yang bertujuan untuk membangun Sumber Daya Manusia yang unggul lambat laun mengalami pengikisan. Sejak wacana tersebut disampaikan kepada publik, Indonesia Emas 2045 seolah menjadi euforia semata saja. Hampir tidak terdengar lagi sampai sekarang.

Penerapan dari wacana Indonesia Emas 2045 tersebut juga tidak menyentuh sampai ke pelosok Desa. Dimana Pendidikan yang menjadi modal utama dalam pembangunan Karakter di masa yang akan datang seakan akan tidak merata dalam pembangunannya. Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa tingkat pendidikan di Desa dan Kota menjadi seperti langit dan Bumi. Pemerataan Pendidikan dan Pembangunan Sekolah tingkat lanjutan juga menjadi tantangan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Selain itu, jumlah guru yang sesuai dengan kualifikasi saat ini dinilai masih belum merata di daerah. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Hamid Muhammad saat ini banyak sekolah dasar (SD) di Indonesia kekurangan tenaga guru. Jumlahnya diperkirakan mencapai 112 ribu guru. Di dunia Internasional, kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negara di seluruh dunia berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI) Indonesia berada di peringkat ke 69 dari 127 negara pada 2011.

BACA JUGA:  Sang Alang Rilis Lagu ‘Sontoloyo’ dengan Nuansa Karnaval

Dari paparan data dan fakta diatas, maka peningkatan mutu serta kualitas pendidikan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik perlu untuk ditingkatkan. Dengan ketentuan dari amanat Undang Undang dasar yang mengamanahkan 20% dana APBN dialokasikan untuk Pendidikan menjadi suatu peluang yang cukup besar untuk mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik dalam hal Pendidikan. Adapun tujuan dari penulisan Esai ini adalah penulis ingin memberikan opini serta mimpi untuk menju Indonesia 2045 seperti yang dicanangkan oleh Presiden ke-6 Indonesia yaitu Susilo Bamabang Yudhoyono.

Apa yang dicita citakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentunya mempunyai niat yang mulia. Menjadikan Indonesia sebagai Negara Maju yang bisa sejajar dengan Negara Adidaya dunia seperti Amerika Serikat beserta sekutunya. Sebagai mantan perwira TNI tentunya seorang SBY memahami betul apa yang menjadi tantangan Indonesia di masa yang akan datang. Mengetahui faktor apa saja yang menjadi nilai tambah bagi Indonesia sehingga bisa menyamai bahkan mengungguli negara adidaya yang ada di dunia.

Dengan luas wilayah Indonesia yang mempunyai lebih dari 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke dan berbagai keindahan lainnya yang belum terungkap keseluruhan menjadikan Indonesia mempunyai nilai tambah. Serta jumlah penduduk yang banyak dan dengan bonus demografi pada tahun 2030 sampai 2035 juga menjadi nilai tambah bagi Indonesia untuk bisa menggantikan Amerika Serikat menjadi negara adidaya di Dunia. Itulah yang menjadi harapan semua orang yang ada di Indonesia dan juga menjadi impian saya, anda dan kita semua.

BACA JUGA:  Pasien Rawat Jalan RSUD Depok Sekarang Bisa Daftar Online, Ini Caranya!

Yang menjadi permasalahan di Indonesia adalah sistem Pendidikan yang selalu berubah-ubah dari tahun ke tahun sesuai dengan keinginan dari pemangku kekuasaan pada saat itu. Jenjang Pendidikan yang berkelanjutan adalah menjadi suatu keniscayaan agar dapat tercapai harapan yang telah dicanangkan sebelumnya. Dengan arah Pemerintahan sekarang yang lebih berfokus pada pembangunan Infrastruktur, tentu saja cita-cita mulia yang dicanangkan oleh Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bisa disinergikan tanpa tumpang tindih dengan program Presiden Jokowi yang memilih membangun Infrastruktur.

Ditambah lagi dengan Dana Desa yang dicanagkan oleh Pemerintah Jokowi, Menjadikan peluang sinergitas antara Pemerintah Pusat dan Desa menjadi lebih mungkin. Dana Desa dengan alokasi yang mencapai Rp. 47 T pada 2016 dan bertambah menjadi Rp. 60 T dalam RAPBN membuat peluang sinergitas membangun lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai lembaga pembangunan karakter sejak dini dapat ditingkatkan kualitasnya dengan bantuan dari Dana Desa.

Dengan alokasi Dana Desa yang mencapai Rp. 47 T, maka kurang lebih setiap desa mendapat dana dari Pemerintah Pusat sekitar Rp. 600 juta per desa. Dari Dana Desa juga Pemerintah Pusat bisa mengontrol dana tersebut supaya bisa dipakai untuk hal-hal yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga bisa meningkatkan pendidikan dan karakter dari masyarakat sekitar. Meskipun dalam Undang-Undang dan Perarturan Pemerintah secara tidak tersirat tidak disebutkan penggunaannya untuk sektor Pendidikan, Tetapi dana desa tersebut dapat dibangun Lembaga Keuangan Mikro yang bergerak dalam sektor rill yang tentunya bisa menghasilkan keuntungan. Kemudian dari keuntungan yang dihasilkan dari Lembaga Keuangan Mikro tersebut bisa disisihkan untuk pembangunan Lembaga Pendidikan Anak juga bisa membiayai guru yang mengajar pada Lembaga Pendidikan tersebut untuk bisa meningkatkan kualitas pengajar sehingga akan berdampak pada meningkatnya pendidikan karakter anak yang menjadi penopang masa depan dan Sumber Daya Manusia yang unggul dalam menghadapi persaingan dengan negara lain serta cita-cita untuk menjadi Indonesia Emas di tahun 2045 bukan lagi sekedar mimpi tanpa langkah yang pasti.
Dari pemaparan yang disampaikan oleh penulis diatas dapat penulis simpulkan bahwa permasalahan yang sedang melanda Indonesia dari sistem pendidikan yang selalu berubah ubah setiap pergantian kekuasaan, perbedaan prioritas program yang sedang dijalankan dapat menjadi celah yang bisa kita manfaatkan untuk menjadi Indonesia yang lebih baik menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan Infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah serta Dana Desa yang dikucurkan oleh Pemerintah Pusat bisa disinergikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Penulis juga menyarankan Pemerintah Pusat tidak lepas tangan begitu saja dalam pengelolaan Dana Desa yang terbilang besar untuk sebuah desa. Kemudian Dana Desa yang nantinya digunakan dalam membangun sektor rill di Desa tidak melupakan kebutuhan Pendidikan yang berkualitas yang bisa dibiayai sebagian dari keuntungan sektor rill dari Dana Desa tersebut. Dan pada akhirnya penulis juga berharap Indonesia Emas 2045 bisa terwujud dan bisa kita nikmati sebagai buah perjuangan kita dari detik ini.

BACA JUGA:  Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Dikri Rizaldi

Comments

comments