Memaknai Kata Ikhlas

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Tatu Rahmawati

Terdapat Sebuah kata yang berakar dari kata خلص yang memiliki arti murni atau jernih. Mengacu kepada Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 2 dan 3 dan juga dalam istilah ilmu akhlaq diartikan sebagai kemurnian hati seseorang dengan tujuan untuk meraih ridho Allah swt atau mencari perhatian Allah swt dalam setiap aktivitas hidup yaitu kata ikhlas. Ikhlas adalah kata yang sangat familiar ditelinga kita.

Namun bagaimanakah kita semua dalam memaknai kata ikhlas itu sendiri? Apakah seseorang yang ikhlas itu adalah orang yang tidak mau dibayar setelah melakukan sesuatu? Ataukah ikhlas itu adalah orang yang tidak suka tampil didepan publik? ataukah ikhlas itu adalah seseorang yang menerima keadaan dan tidak mau berusaha?

Melihat dari penjelasan yang disebutkan sebelumnya dapat disimpulkan kembali bahwa dalam makna ikhlas itu tidak ada dalam perbuatan yang menyalahi aturan Allah swt. Tidak ada pula keikhlasan dalam melakukan maksiat kepada Allah. Ketika seseorang mendapatkan imbalan dalam bentuk pujian atau materi sebagai konsekwensi atas perbuatan yang dilakukan bukanlah merupakan perbuatan tidak ikhlas.

Namun hal itu akan menjadi perbuatan yang tidak ikhlas ketika seseorang menjadikannya sebagai sebuah tujuan. Sama halnya dengan seseorang yang ditugaskan untuk tampil dimuka publik bukanlah merupakan perbuatan yang tidak ikhlas, namun hal itu akan menjadi perbuatan yang tidak ada keikhlasan didalamnya manakala tampil didepan publik itu menjadi keinginan atau tujuan seseorang.

Yang menjadi ciri-ciri keikhlasan itu sendiri ialah dimana seseorang yang selalu berantusias ketika mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang sebagaimana disebutkan dalam Q.S Al-Anfal ayat 2. Selain itu seseorang yang senantiasa berkontribusi dalam segala hal yang dibenarkan oleh syari’at Islam sebagaiman yang Allah firmankan dalam Q.S Al-Anbiya ayat 90.

Juga seseorang yang tidak keberatan untuk memuji orang lain dan orang yang tidak melupakan jasa orang lain atas dirinya sebagaiman Al-Qur’an sebutkan dalam Q.S An-Nisa ayat 86, dan seseorang yang melupakan kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain seperti dalam Q.S Ali Imran ayat 88 juga merupakan seseorang yang senantiasa memegang aturan syariat yang sebagaimana disebutkan dalam Q.S Ali Imron ayat 103.
Wallahu’alam bisshowab..

Comments

comments