Ketika Cinta di Uji

Ilustrasi. (Istimewa)

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, “kami telah beriman” sementara mereka tidak di uji lagi? (Al-Ankabut:2). Ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan timpakan ujian baginya, karena ujian adalah tolak ukur cinta, para nabi dan rasul adalah orang orang yang paling berat ujiannya. Tanda agungnya cinta yang terjalin antara hamba dengan Sang Pencipta.

Seperti Nabi Ibrahim yang Allah uji cintanya. Ujian tersebut bukanlah ujian yang mudah, saat masih muda Nabi Ibrahim di uji demi menegakkan Laa Ilaa Ha Illa Allah ia harus menghadapi raja Namrud bahkan ayahnya Azar. Hingga pada akhirnya ia diikat lalu dibakar. Dari sini kita bisa belajar, bahwa kita hanya boleh tawakkal setelah ikhtiyar. Seperti Ibrahim setelah ikhtiarnya menegakan tauhid, diantara kobaran api barulah ia bertawakkal menyerahkan semuanya kepada Allah. Ia tidak tahu api itu tidak akan membakarnya, tapi dengan cinta, Allah selamatkan dia.

Tak sampai disitu, Allah lalu menguji Ibrahim dengan anak. Bukankah memiliki anak adalah kesenangan kehidupan di dunia?sampai usianya renta Allah belum memberikan anak baginya. Tapi Ibrahim tak pernah berhenti berdoa “Ya Rabb ku, anugrahkan padaku (seorang anak) yang termasuk orang orang sholeh” (Ash Shaffat:100).

Nabi Ibrahim tak kehilangan rasa percaya akan doa doa yang selama ini dilantunkannya, bahwa dibalik doa doa dengan balasan tertunda, akan ada sebuah balasan yang istimewa, lalu dengan cinta, Allah anugrahkan Siti Hajar baginya, lalu dengan pernikahannya lahir Ismail, anak soleh yang selama ini di doakannya.

BACA JUGA:  Indahnya Bersyukur

Tapi lagi lagi Allah menguji cinta hamba-Nya, sekarang bukan hanya Ibrahim, Hajar juga diuji cintanya, Allah memerintahkan Ibrahim meninggalkan Hajar ditanah tandus jauh dari tempat tinggal mereka. Palestina Makkah adalah jarak keduanya berpisah nantinya, sedangkan Ismail masih dalam persusuan ibundanya. Apa yang dikatakan Hajar? Wahai suamiku, Apakah ini perintah Rabb mu? Lalu Ibrahim berkata “iya”. “Sesungguhnya Rabb ku tidak akan meninggalkanku”, begitulah hajar menanggapinya, Allah menguji karena cinta, maka dengan cinta pula Hajar menjawabnya.

Setelah Hajar berkata, “Sesungguhnya Rabb ku tidak akan meninggalkanku”, dia tidak pasrah dan menunggu. Ia taruh Ismail, lalu berlari kecil ditengah padang pasir mencari air diantara bukit Safa dan Marwa hingga 7 kali mengelilinginya, bayangkan ditengah padang pasir yang mata air hanyalah fatamorgana, lalu anaknya Ismail menangis tiada hentinya, seorang wanita yang cinta kepada Allah percaya bahwa yang dicintaninya tidak mungkin meninggalkannya, lalu ia membuktikan cintanya melalui ikhtiar yang dilakukannya, berlari lari kecil dengan keyakinan “Allah pasti menolongku”. Hingga keajaiban itu dating dari bawah telapak kakinya Ismail, mata air yang kita kenal dengan air zam zam, air yang tak akan pernah surut sampai hari kiamat, buah cinta seorang waninta yang mencintai Rabb nya .

Allah kembali menguji cinta keluarga kecil ini. Setelah Ibrahim dan Ismail terpisah antara Palestina dan Makkah. Allah kembali mempertemukan mereka setelah terpisah lama tak berjumpa, betapa cintanya Ibrahim ketika melihat Ismail yang tumbuh sehat. Begitupun Ismail bahagianya ketika bertemu ayahnya tercinta, karena cinta kepada-Nya, Allah uji cinta keduanya. Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Dialog ini pun diabadikan dalam surat Ash Shaffat 102 : “Maka tatkala ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama sama Ibrahim, Ibrahim berkata “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”.

BACA JUGA:  Indahnya Bersyukur

Dan seperti biasa setelah dilakukan ikhtiyar, maka tinggak menjalankan tawakkal (berserah diri) kepada-Nya, maka lanjutan ayat tersebut menggambarkan tawakkal keduanya, “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)” (Ash Shaffat:103), maka berakhirlah ujian cinta yang dijalani Ibrahim bersama keluarganya, buah cinta itu pun kian manis dirasa.

“Dan kami panggil dia, Hai Ibrahim”, “sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah kami memberikan balasan kepada orang orang yang berbuat baik”, “Sesungguhnya ini benar benar ujian yang nyata”, “dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”, “kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang orang yang datang kemudian”, (yaitu) “kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. “Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang orang yang berbuat baik”. “Sesungguhnya Ia termasuk hamba hamba kami yang beriman (percaya)” (Ash Shaffat: 104-111).

BACA JUGA:  Indahnya Bersyukur

Kita belajar bahwa cinta berarti percaya. Percaya bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, kita diajarkan bahwa untuk cinta kita harus percaya. Barulah kita akan merasakan manisnya Iman, ketika kita menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai cinta yang utama, ada yang bilang cinta bukan hanya kata kata , tapi cinta itu perbuatan dan aksi nyata.

Apa yang membuat Hajar berlari kecil di tengah teriknya padang pasir ketika ia tahu tak mungkin baginya air? Apa yang mendasari Sumayyah rela ditusuk dari kemaluan hingga kepalanya dengan besi? Apa yang mendasari Bilal rela ditimpa badannya dengan batu besar ditengah padang pasir? Apa yang mendasari Zaid saat maut dihadapanya tak rela Rasul menggantikannya walau hanya tertusuk duri?

Cinta yang mendasarinya. Cinta karena percaya bahwa yang dicintainya suatu saat pasti akan mengujinya. Seberapa besar hamba-Nya mencintai-Nya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyiayiakan cinta hamba. Karena Allah telah menyiapkankan balasan yang tak terkira untuk kita yang berhasil melewati ujian cinta-Nya. Yaitu kenikmatan di dunia sampai balasan tertinggi bernama syurga.

Dari sini kita belajar bahwa cinta adalah apresiasi, Wallahu A’lam Bisshowaab.

Syu’bah Ishmatullah – STEI SEBI

Komentar

komentar