Indonesia Harus Lebih Produktif

Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong dalam acara peringatan Hari Konsumen Nasional 2016 di Lapangan Banteng, Selasa, 26 April 2016 mengatakan 50% masyarakat di Indonesia sangat konsumtif, dalam lima tahun terakhir tingkat konsumsi masyarakat Indonesia sangat tinggi. Jika volume konsumsi masyarakat Singapura mencapai US$ 84 miliar, Malaysia US$ 147 miliar, maka Indonesia mencapai US$ 481 miliar.

Kusumaningtuti S. Soetiono (Anggota Dewan Komisioner OJK) dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Sabtu (8/8/2015) menyatakan bahwa masyarakat Indonesia semakin konsumtif dan mulai meninggalkan kebiasaan menabung. Tingginga Marginal Prosperity to Consume (MPC) menunjukkan saat masyarakat memiliki uang, mereka akan lebih mengutamakan belanja atau konsumsi daripada ditabung. Kemudian berdasarkan data yang diolah dari World Bank menunjukkan bahwa budaya konsumsi masyarakat Indonesia terus meningkat. Oleh karena itu, sejak tahun 1970-an, Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang konsumtif di dunia. Bahkan pada saat krisis ekonomi global melanda dunia di tahun 1998 dan 2008, nilai belanja masyarakat Indonesia tetap meningkat.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh GFK (Society for Consumer Research) Asia terhadap penjualan Smartphone di wilayah Asia Tenggara tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat pertama pembeli Smartphone terbanyak dibandingkan negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Dengan total akumulasi nilai pembelian Smartphone sebesar US$ 10.8 Miliar, penjualan Smartphone di Indonesia mencapai US$ 3.33 milyar (30.8%). Selain itu Organisasi Pangan dan Pertanian Internasional (FAO) menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara pengimpor pangan terbesar di dunia.

BACA JUGA:  Wali Kota Depok Turut Salati Jenazah Korban Lion Air

Heppy Tranggono (Ketua Indonesian Islamic Business Forum) dalam acara sosialisasi “Gerakan Beli Indonesia” dan rencana “Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia” di Hotel Riyadi Palace, Senin (2/5/2011). Mengatakan masyarakat Indonesia sangat konsumtif, Terbukti bahwa saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke dua sebagai negara paling konsumtif di dunia, setelah Singapura. Sedihnya lagi banyak orang Indonesia yang menghabiskan uangnya dengan berbelanja di Singapura. Indonesia juga kalah nilai ekspornya dibanding Singapura. Pada tahun 2009 nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 11,5 miliar kemudian pada Tahun 2010, naik menjadi US$ 14,5 miliar dolar Amerika. Tetapi itu tidak ada setengahnya dibanding nilai ekspor Singapura. Indonesia tidak bisa bersaing dengan Singapura yang hanya negara kecil.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara peresmian Badan Layanan Umum Lembaga Manajemen Aset Negara (BLU LMAN) di Jakarta, Jumat (23/12). Juga berpendapat selama ini pemerintah hanya terkonsentrasi pada bagaimana membelanjakan anggaran belanja modal seoptimal mungkin tanpa memikirkan pengelolaan pasca-pembelian aset. “APBN 2005-2010 aset negara berdasarkan belanja modal pemerintah diperkirakan ada Rp1.300 triliun. Aset belanja modal itu tidak akan hilang kecuali untuk konsumsi, dan akumulasinya tiap tahun akan naik.”

BACA JUGA:  Depok Canangkan Pembuatan 1 Juta Lubang Resapan Biopori

Hary Tanoesoedibjo (Ketua Umum Partai Perindo) dalam acara pelantikan GRIND Jumat (13/1/2017) menyatakan dua pertiga dari pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi. Indonesia harus bergeser dari konsumtif menjadi produktif. Tantangan Indonesia ke depan mempercepat pendidikan, meningkatkan lapangan kerja, beralih dari konsumtif menjadi produktif, di era globalisasi kebutuhan dasar pendidikan bukan lagi SD, SMP, SMU, tapi perguruan tinggi, pendapatan per kapita Indonesia sekitar US$ 3.600 per tahun, artinya penghasilan masyarakat sekitar Rp. 4.000.000 per bulan. Penghasilan tersebut tak cukup untuk masyarakat bisa menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Pendidikan Indonesia pun tertinggal dibanding negara-negara lainnya, sebagai pembanding lulusan perguruan tinggi di Taiwan hampir 100%, Korea Selatan 86% sementara Indonesia masih di bawah 10%.

Salah satu cara untuk merubah Indonesia dari konsumtif menjadi produktif adalah dengan menciptakan entrepreneur, karna lapangan kerja yang ada terbatas sedangkan setiap tahun jumlah tenaga kerja terus meningkat, Hary Tanoesoedibjo (Ketua Umum Partai Perindo) juga mengatakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 5 juta entrepreneur produktif yang menciptakan lapangan pekerjaan. Jumlah yang kini dimiliki jauh di bawah angka tersebut. Akibatnya, banyak pengangguran. Generasi muda yang baru lulus pun sulit mencari pekerjaan, bila pertumbuhan entrepreneur produktif tak digenjot, angka pengangguran akan terus meningkat karena jumlah penduduk di Tanah Air bertambah 5 juta jiwa setiap dua tahun. berdasarkan data Badan Pusat Statistik Februari 2016, angka pengangguran terbuka sebesar 5,5 persen. Artinya, ada sekitar 7 juta orang menganggur dari total 127,7 juta orang angkatan kerja.

BACA JUGA:  Taufiek Bawazier: 80% Bahan Baku Plastik di Indonesia Masih Impor

Presiden Joko Widodo dalam acara Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Perguruan Tinggi Se-ASEAN 2016 juga menyatakan jumlah enterpreneur yang ada saat ini jumlahnya baru mencapai 1,56 % padahal standar bank dunia menyaratkan 4%. Menuju 4% kita butuh 5,8 juta pengusaha muda”. Sehingga Indonesia harus terus mengembangkan entrepreneur muda agar Indonesia berubah menjadi produktif tidak lagi konsumtif.

Dani Ramdani

Comments

comments