Hukum Sebab Akibat

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Riezqie Ayu Samodraningtyas – STEI SEBI

Tanpa kita sadari sejak kecil kita telah diajarkan untuk mengerti, memahami, dan mengaplikasikan hukum sebab akibat dalam setiap perbuatan kita. Dimulai dari orang tua kita yang mengajarkan konsep sederhana tentang baik dan buruk, kemudian surga dan neraka. Lalu orang tua menjelaskan apa saja perbuatan yang menjadi sebab timbulnya akibat surga dan neraka. Hukum tersebut merupkan sunnatullah yang terjadi pada setiap kejadian, mulai kejadian yang sederhana hingga kejadian yang rumit.

Pada dasarnya konsep hukum sebab akibat adalah “setiap kejadian merupakan akibat yang ditimbulkan dari serangkaian perbuatan yang saling berkaitan yang menjadi penyebab timbulnya akibat”

Dalam bahasa sederhananya, siapa yang melakukan suatu perbuatan harus bertanggung jawab atas resiko yang muncul akibat perbuatan tersebut.

Dalam Islam sendiri hukum sebab akibat merupakan pemahaman Islam yang berkaitan dengan perilaku keseharian umat muslim. Dan islam sangat menjunjung tinggi konsep tersebut, namun tidak bersifat mutlak karena ditambah dengan keyakinan bahwa semua kejadian terjadi atas izin Allah. Karena pada dasarnya meskipun hukum sebab akibat ini kuat pengaruhnya, sesungguhnya tetap terikat dengan takdir Allah dan tidak akan terlepas darinya.

Segala kejadian buruk yang terjadi bukan merupakan kehendak Allah, tapi Allah menghendaki berlakunya hukum sebab akibat itu sendiri. Apabila kita termasuk orang yang beriman dan Allah memberikan ujian dalam kehidupan kita, maka yang terbaik adalah mencari sebab dari akibat yang terjadi, introspeksi diri, kemudian bertaubat dan memeperbaiki kesalahan di masa lalu.

Di dalam Al-Qur’an sendiri ada ayat yang menjelaskan konsep tersebut secara detail, salah satu potongan ayat dalam QS. Al-Isra : 7 yang artinya :
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri……………”

Dalam ayat ini telah dijelaskan bahwa akibat kebaikan akan timbul apabila penyebabnya adalah kebaikan, begitu pula sebaliknya akibat keburukan akan timbul apabila penyebabnya adalah keburukan.

Jadi kesimpulannya, hukum sebab akibat ini berpengaruh kuat namun tetap terikat dengan takdir Allah. Ketika Allah menghendaki akibat yang ditimbulkan oleh sebuah sebab yang berkaitan, maka sesungguhnya Allah menghendaki kita untuk belajar mengambil hikmah atas kejadian tersebut.

Namun ketika Allah menghendaki akibat yang ditimbulkan bukan dari penyebab yang berkaitan, maka sesungguhnya Allah ingin menunjukkan bahwa kita tidak boleh bergantung terhadap hukum tersebut agar kita mengetahui kesempurnaan kekuasaan Allah.

Comments

comments