Hati-hati Kena Istidraj!

Ilustrasi. (Istimewa)

Apa itu istidraj?

Bisa jadi ada yang mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan –lewat ritual pesugihan- misalnya, dan mungkin ia dalam mencari dan mendapatkan rizki serta nikmat dari allah bukan melalui jalan yang baik dan sesuai dengan syari’at mungkin ia dalam pencarian rezkinya justru melalui jalan kemaksiatan danmemang benar ia cepat kaya akan tetapi Ketahuilah bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj.Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi rezki itu dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).
Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan seberat-beratnya secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.” (Tafsir As Sa’di, hal. 260).

Kesimpulannya istidraj ialah suatu keadaan manusia yang di berikan nikmat berupa Rezki yang banyak sementara ia terus bermaksiat kepada Allah swt,dan sungguh allah sedang menumpuk azabnya bagi orang tersebut.

Nah setelah mengetahui pengertian tentang istidraj dan landasan dalilnya mari kini kita kenali apasajakah ciri-ciri istidraj itu..

Apakah Ciri Ciri Istidraj?

Istidraj bisa terjadi pada hal apa saja. Semua kenikmatan dan apa apa yang disenangi oleh manusia bisa menjadi istidraj. Jadi kapankah sesuatu itu bisa menjadi  istidraj? Bagaimanakah kita membedakan bahwa kesenangan dan kenikmatan yang kita dapat itu adalah karunia Allah, ujian atau kah istidraj?

*1. Jika ia adalah orang kafir, maka semua kelimpahan harta, kesenangan  dan kenikmatan duniawi adalah semata kemurahan Allah karena dunia ini remeh di sisi Allah. ”seandainya dunia ini sama nilainyawalau hanya sekecil sayap nyamuk di sisi allah maka tidak akan ku biarkan orang-orang kafir itu minum walau hanya seteguk air”dan apabila orang kafir ituterus dalam kekafirannnya maka itu adalah istidraj.

Dan janganlah sekali-kali orang kafir mengira bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka melainkan supaya bertambah tambah dosa mereka (Q.S. Ali Imran [3]:178)

Sayid Qutb menjelaskan ayat di atas berkata : “itu hanyalah fitnah dan itu hanyalah tipu daya yang kuat dan istidraj yang jauh” (Fhizilalil Qur’an Jilid 2 Hal 532) Maka harta, kekuasaan, kenikmatan duniawi itu bagi orang kafir sudah pasti adalah istidraj.

Namun jika ia merenungkan kebesaran Allah dan mendapat hidayah masuk Islam maka hal itu bukanlah istidraj. Hal ini tidak bisa terjadi kecuali memang ada kejernihan hati, kebersihan jiwa dan keunggulan akal dari orang itu, minimal orang itu peduli dengan benar atau tidaknya keyakinannya  selama ini. Contoh nya adalah Raja Negus (Najsyi) dari Ethiopia (Habasyah) yang waktu itu beragama Nasrani dan dia masuk Islam ketika dibacakan Q.S. Maryam oleh Dja’far bin Abi Thalib r.a. Atau Sir Lauder Brunton dan Archibakd hamilton, yang walaupun mereka seorang bangsawan terkemuka Inggris namun nuraninya terusik dengan kejanggalan keyakinan yang dianutnya selama ini, dan berusaha mencari kebenaran.

*2. Jika ia adalah orang muslim, maka  kesenangan, keinginan, dan kenimatan duniawi adalah karunia sekaligus ujian. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa kenikmatan itu juga ujian.

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Q.S. Al-Anbiya[21] : 35)

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Q.S. Al-Anfaal [8] : 28)

Jika ia lolos dari ujian ini, yaitu ia memanfaatkan harta sebaik-baiknya, dan menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai akhirat, maka harta itu menjadi keberkahan dan karunia baginya.

Janganlah kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan. (H.R. Ad-Dailami)

*3. Namun jika seorang  muslim itu tidak kuat jiwanya dan kemudian menjadi lupa diri, tidak bersyukur, dan gara-gara kesenangan dan  kenikmatan  itu kemudian menjauhkan dirinya dari Allah, maka ada dua kemungkinan. Harta itu menjadi musibah bagi dirinya dan kemudian Allah menarik kenikmatan itu agar ia kembali ke jalan yang benar. Itu berarti Allah masih sayang pada dirinya dan berarti Allah menghendaki kebaikan bagi dirinya.

*4. Kemungkinan kedua, jika Harta itu menjadi musibah bagi dirinya namun Allah justru semakin melimpahinya dengan berbagai kesenangan, kemudahan, segala keinginannya terkabul dan segala kenikmatan mampu diraihnya maka itu adalah istidraj.

Rasulallah s.a.w bersabda: “Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hambaNya di dunia ini apa yang hamba itu suka atau inginkan, sedangkan hambaNya itu selalu berbuat kemaksiatan, maka itulah ISTIDRAJ“. Kemudian Rasulullah s.a.w pun membaca surah (Q.S. Al-An’am: 44- 45)

*5. Sedangkan jika ia lupa diri, tidak bersyukur, dan menyalahgunakan hartanya itu di jalan yang tidak dirihodi Allah, bahkan menjadi berkubang kemaksiatan dengan harta itu, sementara Allah tak juga menarik kenimatan itu bahkan sebaliknya semakin bertambah-tambah dibukakan dunia oleh Allah maka sudah bisa dipastikan itu adalah situasi istidraj.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Jagalah agar engkau tidak tertipu oleh kaum pemuja dunia yaitu mereka yang merasa aman dan tenteram dengan kehidupannya. Kemudian mereka terlunta lunta tersesat dalam hutan rimbanya dan terbenam dalam kenikmatannya”. (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 58)

*6. Namun terkadang Allah memberikan peringatan bukan dengan ditariknya kenikmatan itu melainkan didatangkanlah peringatan berupa orang shaleh yang menasehati, atau peristiwa di sekeliling yang bila direnungkan bisa diambil hikmahnya. Namun jika ia tak kunjung mengerti dengan peringatan Allah itu dan tak kunjung bertaubat, maka harta dan kenikmatan yang tetap tak berkurang bahkan semakin bertambah itu jelas merupakan istidraj.
Maka dapat kita simpulkan bahwa situasi istidraj itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Keimamanan dan ibadah semakin menurun namun kesenangan makin melimpah
2. Terus Melakukan Kemaksiatan Namun Kesuksesan Justru Semakin Melimpah
3. Semakin Kikir Justru Harta Semakin Melimpah
4. Jarang Pernah Sakit,namun kesehatan nya justru membawa pada kemaksiatan
5.Semakin Sombong dan kikir Namun Harta Semakin Melimpah

Nah para pembaca yang budiman setelah kita baca tulisan saya ini ,mari kita renungkan dalam diri kita apakah kita termasuk orang-orang yang tergolong mendapatkan istidraj Dari allah swt ,yang mana rizki yang kita terima selama ini bukan malah tambah mendekatkan diri kita ini kepada ALLAH swt akan tetapi malah semakin menjaukan diri kita dari ALLAH SWT, namun ALLAH SWT masih terus berikan kita kenikmatan itu, maka itu berarti mungkin kita termasuk orang-orang yang terkena ISTIDRAJ nya ALLAH SWT ,naudzubillah min dzalik.

Dan setelah kita menyadari itu mari sama-sama kita bertaubat dan memohon ampunan dari ALLAH SWT, dan memohon agar rizki yang kita terima selanjutnya bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita kpd Allah swt…

Karana sesungguhnya “uang 1000 rupiah yang di ridhoi ALLAH akan lebih bermanfaat ketimbang uang MILYARAN rupiah Yang di dalam nya terkandung ISTIDRAJ”

Sekian tulisan saya kali ini semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian

Wallahua’lambisshowaab. (fachmi fazri/STEI SEBI)

Komentar

komentar