Endang Tarot Fortune Teller Melukis Terinspirasi dari “Ekspresi Batin”

Endang Tarot dengan Lukisan Penari yang diberi judul “Sang Dewi” sudah banyak orang yang mau beli bahkan ditawar 35 Juta. (foto. Dok. Pribadi)

Kesibukan dari sosok Fortune Teller ini tak hanya expert di bidang konsultasi, tapi disisi lain Endang Tarot disaat senggang selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya yaitu sebagai pelukis. Dijumpai, pada Rabu siang (12/1/2017) bertempat di bilangan Menteng Dalam, perempuan super ramah yang memiliki nama lengkap Endang Widiastuti R ini berbagi cerita, bagaimana ia mengawali menjadi pelukis, hingga lukisan itu banyak yang membelinya.

“Sebenarnya dari Sekolah Dasar sudah senang melukis tapi sudah lama saya ingin melukis tidak pakai cat air lagi tapi pakai cat minyak. Cat minyak itu tidak murah, akhirnya dengan menabung peralatan bisa lengkap. Begitu sudah mulai, pertama kali melukis bunga Crisant, ternyata lukisan itu banyak yang suka. Dan mulai terasa kenapa tidak melukis lagi saja, pikirku waktu itu,” tutur Endang membuka ceritanya.

Tentang munculnya inspirasi yang menjadi ide awal untuk setiap kegiatan melukisnya, Endang pun menjelaskan bahwa ia kalau melihat sesuatu yang indah baik itu tanaman, maupun melihat orang yang sedang menari atau binatang kecil (kupu-kupu, ikan) langsung dilukis. Pernah juga ia melihat ulat bulu, yang menurutnya ia tidak suka maka ia melukis kupu- kupu karena mengikuti getaran batin dan terasa seperti ada keanehan yang nyata.

BACA JUGA:  Wanita Era 45 Hingga Milenia

“Ini ulat bulu seperti hama, dan saya mencoba mengusirnya dengan melukis kupu-kupu. Lucu juga sih, kadang terbesit pikiran yang aneh. Ternyata benar ulat bulu pada minggir. Karena selama melukis kupu-kupu itu banyak doa dan zikir. Pas sudah selesai dilukis, dikasih pigura ulat bulunya seperti menjauh. Sungguh ajaib, seperti ada suatu kekuatan yang membuat ulat bulu pergi dan saya yakin bahwa itu adalah perlindungan dari Tuhan. Mungkin cahaya atau energi yang terpancar dari lukisan kupu-kupu buat dia tidak nyaman sehingga frekwensinya tertangkap dan semua ulat bulu itu menjauh,” ungkap Endang Tarot.

BACA JUGA:  Raperda Tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD Segera di Ajukan ke Gubernur
Lukisan bunga karya Endang Tarot di arena Pameran (foto: Dok. Pribadi)

Lebih lanjut Endang Tarot menerangkan biasanya kalau mau melukis itu inspirasi muncul setelah ia melakukan tirakat (habis puasa). Tiba-tiba ada keinginan yang kuat untuk menuangkan sesuatu yang tidak jelas ekspresinya. “Ada lukisan penari dengan ukuran yang besar dan diberi judul Sang Dewi itu sudah banyak yang mau, tetapi seperti ada bisikan tidak boleh dilepas…, sampai suatu hari nanti mungkin baru dilepas. Sudah ada orang luar dari Australia yang menawar sekitar 35 juta rupiah,” terang Endang.

Lukisan kupu-kupu karya Endang Tarot yang berada di ruang kerjanya. (foto: Dok. Pribadi)

Endang Tarot, dalam menyalurkan hobinya melukis tergantung dari mood dan inspirasi. Terkadang ia dapat mengerjakan satu lukisan hanya satu jam, satu malam, ada juga lukisan tahun lalu yang belum selesai. Sebanyak 35 lukisan yang pernah dilukisnya dari berbagai tema, antara lain: lukisan Mawar, Padi, Sang Dewi, Kupu-kupu, penari berdoa, ikan arwana, cahaya diatas cahaya, kunci, bunga teratai, Bunga Kamboja, lukisan Rama Shinta, Ballerina in column lights, dll.

BACA JUGA:  Laporan Pansus 5 Soal Raperda Kota Depok tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD

Memasuki tahun 2017, pekerja keras yang tak kenal lelah ini, ada keinginan untuk melanjutkan lukisannya mengingat ada beberapa lukisan yang pada tahun sebelumnya belum juga rampung. Menurut Endang tiap lukisan yang ia buat itu mempunyai arti tersendiri, yaitu “Ekspresi dari Batin”. “Menyampaikan apa yang kita rasakan dalam pandangan spiritual dan kita bisa tuangkan dalam bentuk gambar. Seperti gambar ikan arwana ini belum kelar, yang kurang semangatnya jadi belum kelar, belum muncul, ” kata Endang tertawa kecil sambil menunjuk gambar yang dimaksud. (BKarmila/Depokpos)

Komentar

komentar