Diam yang Berkualitas

“Ingatlah,aku akan memberitahukan kepada kalian tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi tubuh (kalian) yaitu : berdiam dan berakhlak yang baik”.
(Riwayat Ibnu Abud Dunya melalui Shafwan ibnu Salim)

Yang dimaksud dengan diam ialah tidak bicara,melainkan hanya seperlunya saja,dan memelihara lisan. Hadist ditas mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga lisan bahkan ada sebuah pepatah mengatakan “Barang siapa yang menghendaki selamat,hendaknya ia memelihara lisannya”.

Masih banyak lagi hadist yang menjelaskan larangan bebohong, bercanda berlebihan, dan lagi-lagi ini semua berkaitan dengan bahayanya lisan. Sungguh banyak malapetaka yang diakibatkan oleh ulah lisan ini, bisa berupa perpecahan, pertengkaran antar individu atau bahkan kelompok, perceraian, dan malapetaka terbesar ialah dapat menjerumuskan pelakunya itu kedalam neraka,seperti yang telah di jelaskan oleh Nabi SAW. yang mengatakan : ”Tiadalah yang menjerumuskan mereka kedalam neraka,melainkan ulah lisan-lisan mereka”.

Sebelum membahas bahaya lisan lebih jauh lagi. Perlu teman-teman fahami bahwa,aku seperti ini bukan berarti aku merasa ilmu sudah cukup,sehingga merasa paling pintar menjaga lisan.Tapi aku mau sama-sama belajar biar jadi pribadi yang lebih baik lagi.

BACA JUGA:  Sombong Sebagai Sebuah Penghalang

Ustadzah di sekolahku bilang kalo ingin selamat dari bahaya lisan maka hindarilah beberapa hal berikut ini :

Pertama,berkata bohong(dusta). Apabila kita pernah berbohong maka seandainya dikemudian hari kita berkata benar maka orang-orang masih akan meragukan kebenaran yang kita katakan. Disinilah nilai kejujuran itu terbukti sangat berharga.

Kedua,tidak banyak bercanda. Bercanda boleh saja tapi asal jangan berlebihan. Karena ditakutkan saking asyiknya bercanda sehingga kita tidak bisa mengontrol kata-kata yang kita ucapkan. Bisa jadi apa yang kita anggap itu lucu tapi bagi teman lawan bercanda kita itu adalah sesuatu yang menyakitkan.

Ketiga,menceritakan aib/rahasia orang lain. Untuk mengindarinya maka kita sebisa mungkin memilah pembicaraan dengan lawan bicara takutnya saking asyik bicara ini itu akhirnya rahasia orang lain di bongkar,aib di beberkan,dan ujung-ujungnya jadi gosip disana-sini.

Keempat,hindari perdebatan. Kita sendiri tahu bahwa perdebatan biasanya akan menimbulkan kerenggangan persaudaraan atau bahkan menyimpan dendam di hati karena merasa tersakiti oleh perkataan satu sama lain dari perdebatan itu. Tapi kita bisa lihat dalam al-quran bahwa berdebat di perbolehkan untuk berdakwah “wajaadilhum billati hiya ahsan”,namun dalam dakwahpun Allah menyertakan kata ahsan yang artinya baik. Jadi dakwah boleh dengan cara berdebat namun dengan debat yang baik. Menurut aku kalo untuk sehari-hari apabila kita menemukan sesuatu yang janggal jangan lantas kita jadikan alasan untuk berdebat apalagi kalau kita belum begitu faham bagaimana debat ahsan seperti yang Allah maksud. Ingatlah masih ada jalan lain untuk mengingatkan seseorang tanpa harus berdebat apalagi ingin merasa argumen kita didengar dan merasa paling benar. Naudzubillah apabila debat sampai dijadikan sebagai hobi.

BACA JUGA:  Indahnya Bersyukur

Kelima,memanggil teman dengan panggilan yang tidak menyenangkan. Kita tidak pernah tau bagaimana perasaan teman ketika kita panggil dengan panggilan yang kita anggap biasa, apalagi sampai memanggilnya dengan nama-nama binatang,itu sudah keluar dari etika berkomunikasi. Untuk menghindari itu semua alangkah lebih baik jika kita bertanya terlebih dahulu pada teman kita ia sukanya dipanggil apa. Kita bisa mengambil pelajaran dari kebiasaan Rosululloh ketika memanggil putri tercintanya yaitu fathimah Az-zahra dengan panggilan humairo yang memiliki arti pemilik pipi kemerah-merahan.

BACA JUGA:  Sombong Sebagai Sebuah Penghalang

Sebenarnya masih banyak hal yang harus kita hindari dari bahaya lisan. Namun karna menurut aku lima point diataslah yang seiring perkembangan zaman ini semakin nampak dan bahkan hampir di anggap suatu hal yang sepele. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa bermanfaat umumnya buat teman-teman semua yang membacanya dan menjadi pembelajaran khusus buat aku dan kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam menjaga lisan.

Buat teman-teman yang merasa lebih suka dengan kedamaian atau kesendirian maka buktikanlah kalau diam kita berkualitas. Terakhir dari aku : Ketika kita belum mampu memberikan banyak kebahagiaan untuk orang tersayang yang ada di sekeliling kita maka jangan beri mereka kesedihan.

“seorang hamba belum sempurna imannya sehingga ia meninggalkan dusta sekalipun dalam bergurau,dan meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar”.(HR. Ahmad)

Neni Nuraeni – STEI SEBI

Komentar

komentar