Demokrasi, yang ‘Kau’ Penjarakan di Bawah Laut

Ilustrasi.

Oleh: Reni Marlina (Writer Executive Media)

Indonesia yang dengan segala potensi nya. baik dalam sektor rill maupun sektor Sumber Daya Manusia nya. Indonesia yang memiliki corak kepribadian yang berbeda dari Negara lain. Sikap dan sifat lemah lembut ramah terhadap orang lain, seolah sudah menjadi corak tersendiri. Indonesia yang memiliki beragam budaya dan bahasa, yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Sudahlah, jika kita berbicara Indonesia maka dapat saya katakana ‘takan habis’ potensi yang melimpah ini untuk hanya di bicarakan.
Negara dengan landasan atau orang bilang, ini adalah Negara ‘Pancasila’ ini adalah Negara ‘Demokrasi’ ini adalah Negara ‘Hukum’ ini adalah Negara ‘konstitusi’ dan sebagai nya. demokrasi yang semakin hari semakin hangat di perbincangkan, menjadi salah satu ajang untuk kita menagih janji-janji para penguasa di Negara ini. Kasus-kasus Negara, mulai dari KKN, Penipuan, Kenaikan harga BBM, Perpolitikan yang semakin semraut, hak asasi manusia yang tak pandang bulu,penistaan agama dan sebagai nya.

Berbicara demokrasi, yang pada hakikat nya merupakan demokrasi yang dijiwai dan diintegrasikan dengan sila-sila yang terkandung pada Pancasila sebagai dasar negara. Hal itu berarti bahwa hak-hak demokrasi haruslah selalu disertai dengan rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabat manusia, haruslah menjamin dan mempersatukan bangsa, dan haruslah pula dimanfaatkan untuk mewujudkan keadilan social. Begitulah para aktivis mengatakan penegakkan demokrasi, namun pada realita yang ada saat ini. Demokrasi bagai di penjara bawah laut. Seakan tak terlihat, pura-pura tak mendengar, pura-pura tuli akan hal-hal yang terjadi di Negara kita saat ini.

BACA JUGA:  Wali Kota Minta Camat dan Lurah Lebih Dekat dengan Warga

Pesta demokrasi yang kita gelar setiap 5 tahun ini haruslah memiliki visi kedepan yang jelas untuk membawa perubahan yang fundamental bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini, Bukan hanya bualan saat kampanye, dekat dengan masyarakat hanya sesaat. Kemudian kalian sesatkan kami kedalam jurang-jurang kemiskinan yang carut marut. baik dari segi perekonomian, pertahanan, dan persaiangan tingkat global. Oleh karena itu, sinkronisasi antara demokrasi dengan pembangunan nasional haruslah sejalan bukan malah sebaliknya demokrasi yang ditegakkan hanya merupakan untuk pemenuhan  kepentingan partai dan sekelompok tertentu saja.

BACA JUGA:  Ijtima Ulama II Siap Digelar Akan Hadirkan Prabowo dan Sandiaga Uno

Demokrasi yang kita terapkan sekarang haruslah mengacu pada sendi-sendi bangsa Indonesia yang berdasarkan filsafah bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945. Meski pada kenyataannya UUD 1945 dan Pancasila saat ini di Penjarakan di bawah laut, seakan kau lupa akan penegekan-penegakan hukum yang seharus nya kau tegakkan! Kau bela! Bukan kau sembunyikan rapat-rapat. Wahai para penguasa!

“Janganlah demokrasi kita itu demokrasi jiplakan.”

Masih teringat jelas, pesan bung karno. Bahwa demokrasi janganlah demokrasi jiplakan, demokrasi yang di tuntut seperti Negara Negara luar. Demokrasi kita memiliki corak, memiliki keunikan, dan tentu nya memiliki integritas yang berbeda dengan Negara-negara lainnya. Menurut Soekarno dan Hatta, demokrasi yang diinginkan negara Indonesia yang pada waktu itu sedang diperjuangkan kemerdekaannya, yakni, bukan demokrasi liberal yang biasanya memihak golongan yang kuat social ekonominya. Selain itu,Bung Karno menandaskan bahwa negara Indonesia tidak didirikan sebagai tempat merajalelanya kaum kapitalis.

BACA JUGA:  SBR Konsep Perayaan HUT ke-73 TNI dengan Ide Inspiratif untuk Tingkatkan Ekonomi Negara

Melihat sejarah diatas, begitu dekat pemimpin kita dengan rakyat nya. begitu tegas penegakan yang hukum dalam pengimplementasiannya. Untuk mewujudkan budaya demokrasi seperti pesan bung karno diatas, memanglah tidak mudah. Pada realita sekarang bahwa demokrasi memang bagai di penjarakan di bawah laut. Mereka seolah olah diam, pura-pura tak melihat dan tak mendengar.

Yang paling utama, tentu saja, adalah adanya niat untuk memahami nilai-nilai demokrasi. Mempraktekanya secara terus menerus, atau membiasakannya. Memahami nilai-nilai demokrasi memerlukan pemberlajaran, yaitu belajar dari pengalaman negara-negara yang telah mewujudkan budaya demokrasi dengan lebih baik dibandingkan kita.Dalam usaha mempraktekan budaya demokrasi, kita kadang-kadang mengalami kegagalan disana-sini, tetapi itu tidak mengendurkan niat kita untuk terus berusaha memperbaikinya dari hari kehari. Suatu hari nanti, kita berharap bahwa demokrasi telah benar-benar membudaya di tanah air kita, baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Comments

comments