Bisnis yang Merugikan

Ilustrasi.

Allah SWT memaklumi manusia yang selalu di liputi rasa ingin akan kedudukannya, harta benda, anak-anak, wanita, dan berbagai kesenangan. namun, Allah swt juga mengingatkan bahwa tempat kembali yang terbaik adalah surga di akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Ali Imron (3):14

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang di inginkan yaitu :wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga)”.

Namun sangat di sayangkan kepada pengusaha yang bersikap pragmatis lebih memilih melanggar syariat islam demi kesenangan di duni. Apakah ini merupakan pilihan yang bijak?
Maknakesuksesan

Sukses di dunia bukan berarti harus mengorbankan akhirat. Karena logikanya, jika berorientasi pada tujuan jangka panjang, maka tujuan jangka pendek akan ikut tercapai. Jika jangka panjang sekali tercapai maka tujuan jangka panjang dan pendek akan tercapai juga.sebaliknya, jika kita berorientasi pada jangka pendek, maka tujuan jangka panjang dan panjang sekali tidak akan tercapai. Pilihan bijak adalah ketika kita memilih tujuan jangka panjang dan panjang sekali.

BACA JUGA:  IITCF Imbau Masyarakat Hati-hati Alokasikan Dana ke Travel

“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah di sempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan di masukan kedalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Qs. Ali Imron (3):185
jadi, sukses itu adalah masuk surga, terserah apa profesi kita hari ini, yang penting tujuan utamanya adalah Allah SWT.

Bisnis yang merugi

Dari pandangan di atas, bisnis yang merugi bukanlah bisnis yang rugi secara materi, tetapi bisnis yang rela mengorbankan akhirat demi mendapatkan keuntungan di dunia saja.nah, bisnis seperti inilah bisnis yang menjual akhirat untuk dunia, mengejar tujuan jangka pendek dengan mengorbankan tujuan jangka panjang dan panjang sekali. nash-nash al qur’an menjelaskan bahwa Allah swt menginginkan manusia mengutamakan kehidupan akhirat dan menukarkan dengan amal-amal shalih di kehidupan dunia. caranya, dengan memperhatikan betul setiap langkah kita di dunia agar selalu sejalan dengan memperhatikan betul perintah dan larangan-larangannya.

BACA JUGA:  Zizara Gagas Ajang Cari Bakat "Face Of Muslimah"

Surga itu mahal harganya, kenikmatan tak tertandingi, seperti sabda Rosululloh saw, “ ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga”. (HR. Al-tirmidzi) (mediaumat.com)

Manusia bodoh

Manusia bodoh adalah manusia yang menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia yang sementara ini, manusia yang sedikit bersukur dan tidak takut berbuat maksiat. manusia yang selalu mengikuti hawa nafsunya, sabda Rosululloh saw yang bermaksud. “ orang yang bodoh dan lemah ialah siapa yang mengikut hawa nafsu dan bercita-cita atas Allah dengan berangan-angan.”(diriwayatkan at-tarmidzi)

Banyak orang ingin mendapatkan kekayaan dunia, dengan melanggar syariat islam yang ada, pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk memuluskan usahanya, baik dengan cara menyuap, dan lain sebagainya. sesungguhnya orang-orang seperti inilah yang celaka dan merugi karena sebenarnya mereka menjual akhirat untuk dunia.

BACA JUGA:  Zizara Gagas Ajang Cari Bakat "Face Of Muslimah"

umar bin abdul azis r.a : ketika waktu dhuha umar bin abdul aziz duduk bersama beberapa orang yang gemar mendengarkan nasihat-nasihatnya. Umar berkata mengajarkan dan mendidik mereka :” sebutkan kepadaku orang yang paling bodoh di antara manusia?” mereka menjawab , “ seseorang yang menjual dunia untuk akhiratnya”. umar bin abdul azis berkata tetapi kesedihan terpancar dari raut wajahnya “ maukah saya beritahu orang yang lebih bodoh lagi darinya? “mereka menjawab, ya”. Umar abdul azis berkata “seseorang yang menjual akhiratnya untuk dunia orang lain”. Ada baiknya kita melihat nasihat dari umar bin abdul azis diatas.

(Muhammad Nur Kholis – STEI SEBI)

Comments

comments