Beranda Oase Agar Terhindar Dari Perbuatan Dosa dan Maksiat

Agar Terhindar Dari Perbuatan Dosa dan Maksiat

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Izzatun Nissa – STEI SEBI

Setiap manusia tak luput dari yang namanya dosa, termasuk diri kita. Tidak sedikit manusia yang hidupnya penuh dengan perbuatan dosa dan maksiat bahkan ada yang melakukannya setiap saat seperti sebuah nikmat. Namun, bukan berarti lantas kita bebas melakukan apapun, sebaliknya kita harus takut atas apa yang kita lakukan karna semua pasti dipertanggung jawabkan. Sudah seharusnya kita sebagai Hamba berusaha terus menerus untuk ta’at dan berupaya semaksimal mungkin agar terhindar dari segala dosa dan maksiat. Berikut ini adalah 5 cara agar kita terhindar dari dosa dan maksiat yang mana merupakan sebuah kisah dari seorang sufi agung Ibrahim bin Adham.

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu dan tak pernah bosan berzina. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, “Wahai tuan guru,
aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.” Dengan rasa ingin tahu yang besar Jahdar bertanya “Apa saja lima ha itu tuan guru?”.

“Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu.” Jahdar terperangah, “Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Wahai jahdar, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?” Jahdar tertunduk, “katakanlah yang kedua, Tuan guru!”.

BACA JUGA:  Bertebaran Dalam Kebaikan

“Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah.” Pendosa itu kembali terperangah, “Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Wahai jahdar, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?” “Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru.”

“Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah.” Orang itu tersentak, “Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milik-Nya juga.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?” Jahdar kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya, “Katakanlah yang keempat, Tuan guru.”

BACA JUGA:  Nikmat yang Sering Terlupakan

“Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut.” Jahdir menjawab, “Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?” Ibrahim bin adham menjawab, “Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?” Air mata menetes semakin deras dari kelopak Jahdir, “Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima.”

“Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu.” Jahdir menjawab kembali, “Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali?” “Oleh karena hidup hanya sekali Jahdar, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?”, jelas Ibrahim bin Adham.

BACA JUGA:  Nikmat yang Sering Terlupakan

Jahdir langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, “Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya.” Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari
perbuatan-perbuatan tercela.

Begitu menkjubkan kisah Ibrahim bin Adham diatas. Lima hal yang beliau berikan kepada Jahdar sang pendosa betul-betul membuat kita sebagai hamba Allah tak bisa berkata-kata. Namun, kelima hal tersebut harus didasari dengan keimanan yang kokoh dalam diri, karna jika tak ada iman dalam diri kelima hal tersebut atau bahkan dengan cara apapun tak kan mampu menjadikan kita menghindari kemaksiatan kecuali dengan hidayah dari Allah SWT.

Mari kita terus berusaha meningkatkan kadar keimanan dalam diri karna keimanan adalah kekuatan pengontrol dan selalu mengingat kelima hal pesan Ibrahim bin Adham diatas ketika ingin berbuat maksiat, insya Allah diri kita akan terjaga dari perbuatan dosa dan maksiat dengan perlindungan Allah.

Komentar

komentar