Zakatku Hartaku

Oleh: Haryati
Mahasiswi STEI SEBI Depok

Zakat adalah ibadah maaliyyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun (rukun ketiga) dari rukun islam yang lima, sebagaimana diungkapkan dalam berbagai hadits Nabi, sehingga keberadaannya dianggap sebagai ma’luum minad-diin bidh-dharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.

Salah satu sebab belum berfungsinya zakat sebagai instrument pemerataan dan belum terkumpulnya zakat secara optimal di lembaga-lembaga pengumpul zakat, karena pengetahuan masyarakat terhadap harta yang wajib dikeluarkan zakatnya masih terbatas. Padahal Al-Qur’an dan hadits secara eksplisit menyebutkan beberapa jenis harta yang wajib dizakati seperti emas, perak, hasil tanaman dan buah-buahan, barang dagangan, hewan ternak dan barang temuan.

Zakat adalah ibadah dalam bidang harta yang mengandung hikamah dan manfaat yang demikian besar dan mulia, baik yang berkaitan dengan orang yang berzakat (muzakki), penerimanya (mustahik), harta yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat keseluruhan . Hikmah dan manfaat tersebut antara lain sebagai perwujudan keimanan kepada Allah Swt, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir, rakus dan matrealistis, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Mustahik akan meningkat kesejahteraan hidupnya, akan terjaga agama dan akhlaknya,, sekalihus termotivasi untuk meningkatkan etos kerja dan ibadahnya. Dengan bersyukur, harta dan nikmat yang dimiliki akan semakin bertambah dan berkembang. Firman Allah dalam surah Ibrahim : 7

“Dan (ingatlahh juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab;Ku sangat pedih”

Ketentuan ajaran islam selalu menetapkan standar umum pada setiap kewajinban yang dibebankan kepada umatnya, maka dalam penetapan harta menjadi sumber atau objek zakatpun terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Ketentuan itu antara lain, harta tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan halal, harta tersebut berkembang atau berpotensi untuk dikembangkan seperti melalui kegiatan usaha, perdagangan, pembelian saham, atau ditabungkan.

Kemudian milik penuh, yaitu harta tersebut dibawah kontrol dan didalam kekuasaan pemiliknya, harta tersebut harus mencapai nisab yaitu jumlah minimal yang menyebabkan harta terkena kewajinban zakat. Sumber-sumberzakat tertentu seperti perdagangan, peternakan, emas, dan perak, harus sudah dimiliki ioleh muzakki dalam tenggang waktu satu tahun, dan zakat dikeluarkan setelah terdapat kelebihan dari kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Berbagai pendapat kini berkembang dikalangan masyarakat tentang persamaan dan perbedaan antara zakat dan pajak. Sebagian mempersamakan secara mutlak, yaitu sama dalam status hukumnya, tata cara pengambilannya, maupun pemanfaatannya. Sebagian lagi membedakannya secara mutlak, berbeda dalam pengertian, tujuan, tata cara pengambilan, sekaligus penggunannya.

Dari sisi persamaan antara keduanya antara lain Unsur paksaan, yaitu seorang muslim yang memiliki harta yang telah memenuhi syarat persyaratan zakat jika tidak mau menunaikaannya maka petugas zakat wajib memaksanya, demikian pula seseorang yang sudah termasuk kategori wajib pajak dapat dikenakan tindakan paksaan baik sewcara langung maupun tidak lansung jika wajib pajak melalaikan tugasnya. Dari unsur pengelola baik zakat maupun pajak sama-sama dikelola oleh sebuah lembaga khusus yang menanganinya, dalam halini zakat dikelola Badan Amil Zakat dan pajak dikelola oleh negara. Kemudian sama-sama bertujuan mensejahterakan masyarakat.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Terdapat beberapa perbedaan pokok antara keduanya, yang menyebabkan keduanya tidak mungkin secara mutlak dianggap sama meskipun dalam beberapa hal terdapat persamaan diantara keduanya. Perbedaan itu antara lain dari segi nama zakat berarti suci dan bersih, sedangkan pajak berasal dari kata al-dharibah yang berarti beban. Zakat ditetapkan berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan hadits yang bersifat qathi’ sehingga kewajibannya bersifat mutlak sepanjang masa, sedangkan pajak keberadaannya sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam bentuk undang-undang. Zakat memiliki nishab dan persentase yang baku seperti nishab zakat emas perak adalah senilai 85 gram dan presentase zakatnta adalah 2,5%. Sedangkan aturan besar dan pemungutan pajak sangat bergantung pada peraturan yang ada serta tergantung pula pada obyek pajaknya.

Dengan segala maslahah yang terkandung didalamnya marilah kita bersama-sama menunaikan kewajiban rukun islam yang ketiga yakni menunaikan zakat karena didalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain didalamnya. Jangan sampai kita terlena dengan nikmat-Nya sehingga kita lupa mengeluarkan kewajiban yang harus dipenuhi atas nikmat-Nya tersebut.

Komentar

komentar