Beranda Lingkungan Hidup XS Project, Menjual ‘Sampah’ Hingga ke Amerika Serikat

XS Project, Menjual ‘Sampah’ Hingga ke Amerika Serikat

Salah satu produk kreatif XS Project yang direproduksi dari sampah. (Foto San/DepokPos)

DEPOKPOS – XS Project adalah sebuah yayasan yang dengan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan terutama masalah sampah. Karena sistem persampahan di Indonesia yang dianggap masih kurang bagus sehingga menimbulkan masalah lingkungan, disamping itu juga kesadaran manusianya yang masih kurang dengan tidak menyortir atau memilah sampah sehingga munculah penumpukan sampah. Dari sini kemudian memunculkan orang-orang yang bekerja sebagai pemulung yang mengumpulkan sampah dan ternyata sampah plastk adalah salah satu yang tidak dikumpulkan oleh pemulung karena sulit dijual sementara jika dibarkan akan membutuhkan ratusan ribu tahun agar sampah bisa diurai oleh bumi. Dari sinilah kemudian berangkat gagasan untuk mereproduksi sampah plastik menjadi produk-produk kreatif yang siap dipasarkan hingga manca negara.

Demikian dijelaskan Direktur XS Project Retno Hapsari, saat DepokPos berkesempatan menyambangi kantor XS Project di bilangan Cilandak beberapa waktu lalu.

Retno Hapsari bersama staf bagian produksi di XS Project. (Foto San/Depokpos)

Lebih lanjut Retno mengatakan bahwa untuk menghilangkan sampah plastik yang berpotensi merusak lingkungan amatlah sulit, satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini adalah upaya mengurangi sampah-sampah plastik tersebut. “Dalam upaya membantu mengurangi sampah plastik ini kemudian kami membeli dari pemulung, jadi sampah yang tadinya tak dicari kemudian dicari dan dikumpulkan untuk dijual ke XS Project. Disini kami mencoba memperpanjang usia sampah plastik tersebut dengan mereproduksinya menjadi produk-produk kreatif,” jelas wanita yang akrab disapa Mbak Retno ini.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Depok Gelar Kelas Melukis Untuk Lansia
Dispay produk kreatif XS Project. (Foto San/Depokpos)

Retno juga menjelaskan bahwa yayasan yang sudah berjalan sejak tahun 2002 ini sebelumnya tak terpikir kalau sampah plastik ini bisa direproduksi menjadi produk kreatif. Saat ini tak hanya sampah plastik yang direproduksi, tapi juga sampah bekas-bekas banner iklan perusahaan seperti billboard atau karung beras. “Desain juga harus diperhatikan supaya produk jadi menark, kalau tak menarik orang-orang juga tak mau beli,” jelasnya .

Masalah yang selanjutnya muncul adalah bagaimana memasarkan produk-produk tersebut karena mindset masyarakat yang masih kurang kepedulian akan lingkungan dan menganggap produk-produk kreatif ini masih berstatus “sampah”. “Inilah ironisnya, kesadaran kita orang-orang Indonesia masih kurang. Jadi banyak kostumer kita yang berminat terhadap kegiatan-kegiatan seperti ini justru orang-orang asing atau anak-anak Inonesia yang bersekolah d sekolah-sekolah asing dimana dikurikulumnya sangat ditekankan masalah pelestarian lingkungan,” jelas Retno.

BACA JUGA:  Depok Terima Sertifikat Eliminasi Filiariasis dari Menkes
Salah satu proses pembuatan produk. (Foto San/Depokpos)

Dari situlah kemudian XS Project bekerja sama dengan beberapa personal dari luar negeri untuk memasarkan produknya, salah satunya adalah ke Amerika Serikat dimana saat ini XS Project sudah berhasil membuka cabang di Dallas, USA. Selain ke Amerika Serikat, XS Project juga memasarkan produk-produk kreatifnya ke negara-negara Eropa dan Asia.

Lilis, salah satu staf marketing XS Project mengatakan bahwa selain didistribusikan ke luar negeri, produk-produk kreatif ini juga dipasarkan melalui bazar-bazar sekolah internasional atau bazar yang dilakukan komunitas expat di Jakarta. “Bazar-bazar ini seperti American Woman Association, British Woman Association ataupun yang lainnya, hasil penjualan produk-produk kreatif ini kemudian didistribusikan untuk membantu pendidikan anak-anak pemulung melalui program beasiswa XS Project, jadi jadi program XS Project ini selain pada lingkungan hidup juga untuk masalah pendidikan,” jelas Lilis.

Selain itu, XS Project juga membuka outlet di Grand Indonesia walaupun dari segi bisnis, membuka outlet di Gran Indonesia jelas merugi karena cost yang dikeluarkan cukup besar. “Kenapa kita tetap bertahan walaupun merugi, karena ditempat ini banyak dikunjungi orang-orang asing yang baru datang ke Jakarta, dari situlah kemudian mereka mengerti tentang produk kita. Jadi lebih kepada brand awareness saja, mengenalkan produk XS Project ke orang-orang asing,” lanjut Lilis.

BACA JUGA:  Wali Kota Lantik Kepengurusan PPTI Depok Masa Bakti 2017-2022
Produk XS Project yang di export ke Singapura. (Foto San/Depokpos)

Untuk penjualan ke luar negeri, XS Project membidik sekoah-sekolah. Dia mencontohkan di Singapura ada dua sekolah yang secara rutin memesan produk XS Project setap tahunnya dalam jumlah yang cukup besar. “Jenisnya beragam, mulai dari ipad bag, tas laptop hingga produk-produk lainnya. Juga ada pemesanan dari negeri-negeri lainnya seperti di Taiwan dan negara-negara Eropa. Sementara untuk penjualan ke Amerika Serikat yang sudah ada perwakilan XS Project biasanya pesanan lebih banyak kepada tas-tas besar. Jadi kalau dibandingkan antara penjualan retail dan bulk, jelas jauh. Tapi penjualan retail ini tetap diperlukan sebagai display produk,” jelasnya.

Tentang program-program lanjutan XS Project ini bisa dilihat melalui situs resminya di www.xsproject-id.org (San/Depokpos)

Komentar

komentar