Tangan-tangan Kreatif Pahlawan Lingkungan, Berkah Dibalik Sampah

(Foto San/Depokpos)

DEPOK – Dibalik sampah terdapat berkah karena adanya tangan-tangan kreatif yang mampu menjadikan dirinya sebagai pahlawan lingkungan, dengan pendekatan-pendekatan kreatif dalam membangun masyarakat yang paham akan kebersihan serta mengurangi jumlah sampah yang bertumpuk.

Adalah Hermansyah, ketua bank sampah induk Depok bersih yang kini membawahi sekitar 250-an titik bank sampah unit yang tersebar di delapan kecamatan di Kota Depok telah memulai kiprahnya sejak Juni 2013 justru dengan ketidaktahuan. Bermula dari insiatifnya bersama beberapa rekan, Hermansyah mengaku pertama kali melihat program bank sampah ini bisa menjadi solusi penanganan sampah di Kota Depok dan juga mempunyai peluang ekonomi ketika dikembalikan ke masyarakat.

“Awalnya kita justru hanya ingin mensosialisasikan saja, karena ketidaktahuan masyarakat bahwa sampah juga bisa dijadikan peluang bisnis. Mereka butuh edukasi, sementara penampung (sampah) hanya tahu menampung, akhirnya dengan tumbuhnya ketahuan masyarakat ini kita memulai mengumpulkan sampah dari mereka,” jelas pria yang disapa Herman ini.

Lebih lanjut, Herman menjelaskan bahwa pada enam bulan pertama pengumpulan sampah mereka mengalami kesulitan dalam menjual sampah tersebut karena tak tahu harus menjual kemana, Herman mengaku sudah bertanya kebanyak orang tapi tak diberitahu.

“Akhirnya setiap kali saya melihat mobil yang membawa barang penuh saya ikuti untuk mengetahui titik-titik jualnya, tapi berikutnya ketika kami bawa barangnya juga tak lantas diterma karena ternyata sampah-sampah tersebut masih harus dipilah lagi sesuai dengan maunya pembeli. Nah dari situlah proses belajarnya, hingga akhirnya saat ini pembeli datang sendiri,” Herman menjelaskan.

Hingga pada pertengahan tahun 2014 mulai ada kemitraan dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok sehingga akhirnya Herman mendapatkan kesempatan untuk belajar masalah pemilahan sampah ke Osaki, Jepang. Sejak itulah akhirnya Hermansyah mulai menularkan pengetehauan yang didapatnya dengan mensosialisasikan masalah bank sampah pada event-event yang diadakan Pemkot Depok.

BACA JUGA:  Laporan Pansus 5 Soal Raperda Kota Depok tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD
Hermansyah bersama sampah yang telah diolah menjadi produk kreatif siap jual. (Foto San/Depokpos)

Sementara untuk kemitraan dengan masyarakat, Herman mengaku masih terus memperbaiki sistem kemitraannya dengan berbagai inovasi untuk pembayaran tabungan sampah masyarakat.

“Saat ini kita coba menerapkan sistem pembayaran dengan metode tabungan seperti di bank konvensional, jadi kalau sebelumnya masyarakat menerima pembayaran langsung melalui koordinator cabang di kecamatan atau kelurahan, saat ini kita coba membuat sistem seperti tabungan perbankan, jadi pembayaran bisa dilakukan langsung melalui rekening masyarakat,” jelasnya.

Dengan sistem pembayaran seperti ini, Herman mangatakan dirinya berharap bisa mendapatkan kepercayaan lebih dari masyarakat serta mampu mengedukasi masyarakat.

“Kami juga berharap semua nasabah-nasabah bank sampah ini bisa mendapatkan asuransi kematian dengan hanya pembayaran dua ribu rupiah per bulan yang diambil dari tabungan bank sampahnya. Untuk hal ini sudah kami persiapkan dengan asuransi takaful dan insya Allah akan segera diterapkan,” jelas Herman.

Herman menjelaskan ketika keadministrasian sudah diambil alih di pusat, maka di titik-titik bank sampah bisa lebih fokus untuk masalah edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Bank Sampah Mutiara Berkah, jadi kawasan percontohan pemilahan sampah

Lain lagi dengan apa yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga di RW 13 Perumahan Mutiara Depok, Sukmajaya, dimana warganya diwajibkan memilah sampahnya sendiri. Setiap rumah punya tiga tempat sampah organik, residu, dan daur ulang.

Demikian dikatakan Hj. Endah Winarti SH. ketua RW 13 yang juga anggota Komisi B DPRD Kota Depok dari partai Demokrat ini. Endah mengatakan bahwa hal tersebut dterapkan di 13 RT dengan sekitar 600 KK.

Hj. Endah Winarti SH. Anggota Komisi B DPRD Kota Depok.
Hj. Endah Winarti SH. Anggota Komisi B DPRD Kota Depok.

“Kami saat itu menyambangi warga dari rumah kerumah, dari pengajian ke pengajian untuk sosialisasi pemilihan sampah. Jadi mulai saat itu, ibu-ibu mulai menempelkan selebaran didapur-dapur mereka bagaimana cara-cara memilah sampah untuk diterapkan keluarga mereka,” jelas Endah.

Endah mengatakan setelah dipilah-pilah, sampah organik diambil tim sampah untuk dibuat kompos. Kemudian sampah residu akan diangkut petugas kelurahan untuk dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Sedangkan sampah jenis daur ulang, katanya, akan dijual yang uangnya bisa diambil menjelang lebaran.

BACA JUGA:  Raperda Tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD Segera di Ajukan ke Gubernur

Sosialisasi juga tak terhenti sampai disitu, beragam kreativitas seperti membuat video kreatif dan disebar ke sosial media hingga menarik minat anak-anak hingga akhirnya jika biasanya RW 13 menghasilkan 6 truk sampah, setelah adanya pemilahan ini hanya 1 truk sampah residu yang dibawa ke TPA.

“Salah satu kreativitas awal sosialisasi pemilahan sampah ini adalah dengan mengadakan lomba mewarnai bak sampah untuk anak-anak disini. Dan akhirnya program kita ini bisa ditiru untuk diterapkan daerah-daerah lain, ada belasan bahkan puluhan yang sudah mendatangi kita, bahkan dari Jepang dan yang terakhir adalah Dirjen KLH, ini kebanggaan tersendri buat kita,” jelas Endah.

Sementara ibu-ibu dari bank sampah mutiara berkah ini juga kerap melakukan edukasi ketempat lain termasuk kesekolah-sekolah untuk mensosialisasikan pemilahan sampah ini.

“Prinsip kami, kami berbuat untuk dunia dan akhirat. Kami, tim bank sampah mutiara berkah selalu bersedia hadir untuk memberikan ilmu kami, kami juga bersedia diundang keluar jika ada masyarakat yang ingin beajar pemilahan sampah ini termasuk ke sekolah-sekolah, karena anak-anak juga perlu di edukasi sejak dini untuk masalah sampah ini,” tegas Endah.

Bank Sampah Trustling, kerap juarai lomba.

Sama seperti bank sampah lainnya, Bank Sampah Trustling yang berada di wilayah kecamatan Tapos ini juga mengedukasi warga untuk memilah sampah menjadi tiga bagan yakni sampah organik  yang dikiriim ke UPS untuk dijadikan kompos, sampah non organik (dimasukkan ke bank sampah) dan sampah residu yang dibuang ke TPA.

Bank sampah trustling yang telah berdiri sejak Okober 2013 ini pernah mendapat 20 nominasi pada ajang CSR PT TAM yang diikuti 200 peserta dan berhasil mendapatkan hadiah sebesar Rp 10 juta, dari 20 nominasi tersebut kemudian dperlombakan kembali dan berhasil meraih juara II dengan kembali mendapatkan hadiah sebesar Rp 10 juta.

BACA JUGA:  Wanita Era 45 Hingga Milenia

Sementara di tahun 2016 ini, bank sampah trustling berhasi menjadi juara 1 pada lomba 3R (Reduce, Reuse, Recycle) tingkat Kota Depok yang diadakan BLH Depok yang diadakan pada Agustus lalu.

Ketua bank sampah trustling, Hefianingsih kepada depokpos mengatakan bahwa kendala utama yang dihadapinya saat ini adalah masih kurangnya kesadaran warga dalam memilah sampah hingga sebagian masih enggan mengkuti program pemilahan.

“Sehingga kadang-kadang memusuhi kita, jadi kita terus sosialisasi setiap ada acara apapun atau sosialisasi dari rumah ke rumah,” jelas wanita yang akrab disapa Hefi ini.

Termasuk kendala belum adanya kesadaran memilah sampah dimasing-masing rumah menjadi tiga bagian.

Di Kota Depok sendiri saat ini telah berdiri sekitar 500 bank sampah sementara yang terdaftar di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok ada sekitar 330-an. Demikian dijelaskan Jono, salah seorang staf BLH Depok melalui pesan singkat kepada depokpos. Jono juga mengatakan bahwa bank-bank sampah di Kota Depok ini sudah mendapatkan beberapa penghargaan di tingkat Kota dan mampu meminimalisir sampah yang masuk ke TPA.

Sementara Kasubid Pengawasan LB3 dan Penataan Hukum Lingkungan BLH Kota Depok, Indra Kusuma Cahyadi, ST. mengatakan bahwa Pemkot Depok saat ini sedang menggenjot pemilahan atau pengurangan sampah mulai dari hulu yakni sumber sampah dari rumah tangga dan pertokoan.

“Yang harus kita genjot saat ini adalah pengurangan sampah muai dari sumbernya yakni dari tiap rumah dan sumber-sumber sampah lainnya seperti pertokoan dan kawasan. Makanya Depok ngejarnya disitu, sejak era Pak Nurmahmudi hingga sekarang, karena kita ingin mengurangi sampah yang masuk ke TPA,” jelas Indra. (San/Depokpos)

Komentar

komentar