Nikmat yang Terlupakan

Ilustrasi.

Ditulis oleh: Maesya Bani

Diciptakan sebagai manusia merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kita. Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna. Sesuai dengan kalamNya dalam Al-Qur’an surah At-Tin ayat 4 “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”. Dengan anggota tubuh, akal, jiwa dan dengan segala nikmat lainnya. Berbeda dengan makhluk Allah yang lain, salah satunya hewan tidak memiliki akal seperti manusia.

Namun nikmat ini seringkali dilupakan oleh manusia. Dalam keseharian, banyak sekali ditemukan manusia yang mengeluhkan kehidupannya. Merasa bahwa diri paling tidak beruntung dibanding yang lain. Merasa tidak memiliki kemampuan apapun sehingga timbul rasa minder dan putus asa. Permasalahan ini banyak dialami oleh kalangan remaja.

Usia remaja merupakan saat dimana manusia mencapai tahap paling produktif dalam hidupnya. Berbagai prestasi dan bakat ditemukan dalam masa remaja ini, baik akademik maupun non akademik. Namun tak jarang masih banyak remaja yang belum menemukan bakatnya. Bahkan ada yang mengklaim dirinya adalah manusia yang tidak memiliki bakat. Padahal setiap orang memiliki potensi dan bakat masing-masing. Hanya saja belum menemukan di bidang apa bakat yang ada dalam diri.

Setiap insan memiliki bakat yang berbeda-beda. Dari mulai menulis, berhitung, bernyanyi, menari, bermain alat musik, dan lain sebagainya. Tidak semua orang menguasai semua bakat tersebut, tetapi pasti menguasai salah satunya. Termasuk diri kita pasti memiliki bakat yang mungkin belum diketahui. Tidak ada kata putus asa karena segala sesuatu ada porsi dan posisinya.

Sebelum berputus asa, marilah kita simak bakat yang ada dalam diri para sahabat. Hasan bin Tsabit adalah seorang sahabat yang tidak mahir berperang. Dia terkesan sangat penakut karena tidak berani mengambil ghanimah yang melekat pada orang kafir yang terkapar. Tetapi dia memiliki bakat lain yang luar biasa yaitu syair. Dengan bakatnya tersebut Hasan bin Tsabit berhasil membalas ejekan dan sindiran dari kaum Quraisy.

Jangan lupakan nama yang tertera indah dalam sejarah yaitu Zaid bin Tsabit. Seorang anak berumur 13 tahun yang bersemangat untuk ikut dalam barisan tentara Rasulullah pada perang Badar. Namun dengan kondisi fisik dan kemampuan berperangnya yang belum matang, maka Rasul tidak mengizinkannya. Dibalik kekecewaannya, sang bunda menghibur dan mendukungnya untuk berjihad di jalan lain. Karena kepiawaiannya dalam menulis dan membaca, maka jadilah Zaid sebagai penerjemah di daulah islamiyah.

Dua kisah inspiratif diatas dapat dijadikan cambuk untuk muhasabah diri. Kisah tersebut dapat menjadi salah satu pembakar semangat, khususnya para remaja. Perlu dibangkitkan kembali semangat untuk mengambil posisi terdepan dan melalukan perubahan. Singkirkan rasa minder, temukan potensi diri dan jadilah anak muda yang luar biasa! (Maesya Bani)

Komentar

komentar