Mengukur Akal

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Darihan Mubarak – Ketua Umum KSEI Islamic Economics Forum SEBI Depok | Musyrif Tahfizh Indonesi Qur’an Foundation

Alqur’an adalah kitab petunjuk yang di dalamnya sistem kebenaran tersusun dengan rapi. Jalan bagi siapaun yang ingin menempuh jalan yang diberikannya. Imam bagi siapapun yang ingin menjadi makmum darinya. Solusi bagi siapapun yang ingin menjadikannya pemecah dari setiap masalah dalam hidupnya. Ia adalah kitab petunjuk yang terdapat padanya begitu banyak tanda tanda kekuasaan empunya alam semesta, Allah Sang Maha Tinggi lagi Maha Mengalahkan. Di dalamnya Allah menawarkan jalan menanjak yang melelahkan, namun diatas sana ada ridha dan syurga menunggu untuk dijemput, pun di dalamnya Allah memberikan penjelasan bagaimana cara menghindari jalan menurun, maka siapaun yang terjerumus atau menjerumuskan diri, maka baginya murka dan Jahannam yang menyala. Oleh karena itu, barang siapa yang beriman silahkan ia beriman, barang siapa yang ingkar maka baginya keingkarannya.

Pada tuisan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk merenungkan siapakah yang sebenarnya dikatakan orang yang berakal seutuhnya? Siapakah yang sebenarnya menggunakan dengan semestinya karunia besar Allah ini ? Diamana karena karunia ini Allah menjadikan manusia sebagai makhluk spesial yang membedakannya dengan makhluk lain. Jika kita bandingkan definisi berakal menurut Alqur’an dengan apa yang difahami kebanyakan orang maka kita akan menemukan penyempitan makna yang cukup jelas. Karena kebanyakan orang menganggap bahwa ketika seorang memiliki pengetahuan yang luas maka ia pantas dikatakan berakal, benarkah demikian?

BACA JUGA:  Indahnya Bersyukur

Telah banyak kasus-kasus keburukan di media massa yang kita dengar belakangan ini. Mulai dari kasus penistaan agama, kasus korupsi para pejabat yang meugikan Negara triliunan rupiah tiap tahunnya. Kasus perzinahan yang tejadi di berbagai tempat dan terus meningkat dari tahun ketahun, dan begitu banyak kasus-kasus lain yang melanggar norma Agama dan Negara.

Ada apa ini? Sungguh kita telah jauh dari tujuan penciptaan yang sesungguhnya. Jika demikian masih pantaskah kita dikatakan berakal? Maka jawabannya akan kita temukan dalam muhkah Alqur’an

BACA JUGA:  Raperda Tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD Segera di Ajukan ke Gubernur

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata, “ Ya Tuhan kami tidaklah engkau menciptakan semua ini sia sia; Mahasuci Engkau, lindingilah kami dari azab neraka” (Ali ‘Imran: 190-191).

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu (Muhammad) dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak berakal” (Al-Hujarat: 4).

Perhatikan ayat pertama, Alqur’an menggambarkan syarat bagi orang yang berakal bahwa ia harus memiliki dua kecerdasan. Mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring merupakan bentuk dari kecerdasan spiritual. Memikirkan tentang proses penciptaan langit dan bumi merupakan bentuk dari keluasan wawasan, inilah kecerdasan intlektual.

Perhatikan ayat kedua, ayat tersebut membahas tentang bagaiamana seharusnya adab seseorang kepada orang lain. Ayat ini turun karena ada seorang sahabat memanggil Rasul dari luar kamar dan pada saat itu beliau sedang berada dalam kamar. Sahabat ini berteriak, “Muhammad, Muhammad…..”. Menariknya, ayat ini menghubungkan Adab dengan akal. “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu (Muhammad) dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak berakal (Al-Hujarat: 4)”. Artinya bahwa orang yang tidak beradab dan tidak mempunyai kemuliaan akhlaq adalah orang yang sebenarnya tidak berakal.

BACA JUGA:  Sombong Sebagai Sebuah Penghalang

Maka setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki seseorang sehingga ia pantas dikatakan berakal seutuhnya, (a) kecerdasan spiritual, (b) kecerdasan intlektual (c) kemuliaan akhlaq. Apabila ada satu dan atau dua apalagi tiga variable yang hilang pada diri seorang, maka tidak pantas ia dikatakan menggunakan akal dengan baik. Maka orang-orang yang katanya cerdas yang memakan uang rakyat sebenarnya tidak berakal. Orang-orang yang katanya tegas tapi tidak menjaga lisan dalam setiap ucapan, sebenarnya tidak berakal. Orang-orang yang kelihatannya sangat rajin beribadah namun tidak punya dasar dan pengetahuan dalam setiap ibadahnya sebenarnya tidak berakal.

Komentar

komentar