KUA Sukmajaya: Nikah Itu Murah, yang Mahal Pestanya

(Desastian/Depokpos)

“Yang mahal itu bukan nikahnya, yang mahal itu pesta pernikahannya. Islam itu mengajarkan kemudahan, jangan karena uang, nikah dipersulit.”

Demikian dikatakan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Sukmajaya Depok, Drs. H. Yayat Ruhiat, M.M saat “Nikah Massal” di Masjid Al Huda, Perum Griya Depok Asri, Jl Tole Iskandar, Depok ll Tengah – Depok, Ahad (25/12) lalu.

H. Yayat dalam tausyiahnya mengatakan, dalam mengarungi bahtera rumah tangga, jujurlah pada diri sendiri. Jangan pernah pernah berbohong. “Jangan ngaku bujang, padahal sudah punya istri. Begitu juga, jangan ngaku belum punya anak, padahal anaknya segudang. Jika dirinya tidak jujur pada dirinya sendiri, orang lain pun akan dibohongi.”

Kegiatan sosial “Nikah Massal Syar’i Gratis” bagi masyarakat muslim ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pendengar Radio FAJRI 99.3 FM Wilayah Depok (Fokus Fajri Depok). Hadir dalam program sosial itu, diantaranya: Dulhadi (Ketua DKM Masjid Al Huda), Dwiki S (Direktur Radio Fajri 99.3 FM).

Ada 6 pasang yang ikut Nikah Massal Syar’i, Ahad (25/12/2016) pagi lalu. Berikut adalah pasangan nikah massal: Achmad Ridwan (32)-Nasyiroh 22), Fery Nurhayadi (28)-Megasari (17), Suranto (34) – Vicho Wulandary (25), Tusmanto (24) – Siti Rahyana Yasmin (18), Zaenudin (26) – Dhea Yuliyanti (19), Abdul Latif (35) – Anggi Safitri (26).

BACA JUGA:  Bersama ZIS Indosat, Rumah Zakat Hadirkan Desa Berdaya di Kota Cimahi

Mas kawin yang diberikan oleh mempelai pria bervariasi. Ada yang memberi mas kawin berupa seperangkat alat shalat, cincin emas 1 gram, hingga uang Rp. 250.000. “Ini bukan kegiatan sosial yang pertama. Selain nikah massal, sebelumnya, pernah mengadakan bekam massal dan sunnat massal.”

Sementara itu, Ketua Panitia dan Forum Komunikasi Pendengar Radio FAJRI 99.3 FM Wilayah Depok (Fokus Fajri Depok), Ustadz Eko Trisno Widodo atau yang akrab disapa Abu Asha saat memberi sambutan mengatakan, nikah massal ini untuk menyelamatkan umat Rasulullah agar tidak mendekati zina.

“Kami ingin mengoreksi budaya pacaran. Dalam Islam, pacaran itu dilakuan setelah nikah. Kami juga ingin mengoreksi budaya pesta yang mubazir. Seperti kita ketahui, budaya di masyarakat kita, kalau nggak ada pesta nggak afdhol rasanya,” kata Abu Asha.

BACA JUGA:  1.200 Lebih Mahasiswa Ikuti #IndonesiaNext Wilayah Jabotabek

Dari 100 yang mendaftar, tapi cuma 6 pasang yang ikut nikah massal. “Untuk nikah, jangan nunggu nabung dulu, tapi pacaran jalan terus. Jangan karena tidak punya uang, nggak nikah-nikah.

Sementara itu, Ketua Ketua DKM Masjid Al Huda, Dulhadi, menyambut baik kegiatan sosial Nikah Massal Syar’i Gratis yang dilakukan oleh Fokus Fajri Depok. Apalagi dilakukan di masjid. “Makmurkanlah masjid. Karena masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat sujud, melainkan juga kegiatan sosial lainnya.”

Khutbah Nikah yang bertema “Nikah Lebih Baik daripada Pacaran” disampaikan oleh Ustadz Fachri Fahrudin, S.H.I, M.E.I. dalam tausyiahnya, ustadz yang merupakan pemateri tetap Radio Fajri ini, berpesan, saat ini nikah mut’ah telah merebah di masyarakat. Bahkan masih SD sudah pacaran dan sayang-sayangan.

“Niatkan, nikah itu sebagai ibadah. Gandengan dan pelukannya itu ibadah. Maka, nikahlah karena agamanya. Setelah nikah, pertahankan rumah tangga, jangan pernah ada kata bubar. Nikahlah hingga nyawa memisahkan, dan masuk surga pun sama-sama. Itulah kebahagiaan yang sempurna.”

BACA JUGA:  Ini Kondisi Pensiunan PNS yang Tinggal di "Kandang Kambing"

Ustadz Fachri berpesan, suami-istri saling jujurlah. Nikah itu butuh kesabaran. Carilah rezeki yang halal. Lalu bertawakal lah. Cinta yang tulus, jika suami relah bekerja apa saja, asalkan halal. Jangan pernah gengsi.

Saat ditemui Arqom.net, salah satu pengantin pria, Fery Nurhayadi, mengaku terharu dengan pernikahannya. Ia sudah mendaftar sejak dua bulan yang lalu di Radio Fajri. “Selama ini saya sibuk dengan pekerjaan saya. Jujur, saya merasa berat dengan biaya nikah di KUA, sebesar Rp. 600 ribu. Alhamdulillah saya bisa nikah gratis,” kata warga Tapos, Depok, senang.

Lucunya, saat menghadirkan saksi dari pihak pengantin mempelai wanita, yang bersangkutan belum bangun. Saat dibangunkan, tidak mau diganggu. Akhirnya, panitia menyediakan saksi dari panitia.

Nikah Massal yang diikuti 6 pasangan ini berlangsung pagi hari, sejak pukul 07.00 WIB. Cara menikahnya pun dipisah, antara mempelai laki-laki dan perempuan. Begitu juga dengan tamu yang hadir. Ikhwan dan akhwat dipisah. Inilah nikah syar’I yang diajarkan Rasulullah Saw. (Desastian)

Komentar

komentar