Gas Melon Langka, Warga Memasak Gunakan Kayu Bakar

Ilustrasi. (Istimewa)
Ilustrasi. (Istimewa)

DEPOKPOS – Sejumlah warga di wilayah Sukadana Kabupaten Ciamis memilih kembali menggunakan kayu bakar akibat elpiji ukuran 3 Kg kerap langka di pasaran.

“Elpiji si melon kerap langka di pasaran, daripada tidak memasak lebih baik pakai kayu bakar saja, kembali ke tungku,” kata Ny Enok (60) warga di Sukadana Kabupaten Ciamis, seperti dilansir Antara Jabar, Sabtu (3/12/2016).

Ia menyebutkan, elpiji bersubsidi tersebut beberapa kali terjadi kekosongan di tingkat agen maupu pengecer. Akibatnya warga yang kehabisan elpiji harus menunggu lama untuk mendapatkan pasokan.

Terutama menjelang akhir tahun, kelangkaan si melon lebih sering terjadi.

BACA JUGA:  Nongkrong Asik di Koti Coffee, di Tengah Kota Depok Tapi Jauh dari Bising Lalulintas

“Dulu sih hanya saat lebaran saja elpiji sulit di dapat, ini pada saat lebaran aman, justru pada akhir tahun sering tidak ada pasokan,” katanya.

Oleh karena itu, warga di sekitar itu memutuskan kembali ke kayu bakar. Menggunakan kembali tungku dan anglo yang selama ini jarang digunakan, dan baru digunakan saat elpiji habis.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ny Unilah yang juga belakangan lebih sering menggunakan kayu bakar dari pada elpiji.

“Mau apa lagi, kalau nggak ada kan ada kayu bakar. Tapi memang beberapa bulan ini lebih sering menggunakan kayu bakar karena elpiji melon sering tidak ada di warung,” katanya.

BACA JUGA:  Bersama ZIS Indosat, Rumah Zakat Hadirkan Desa Berdaya di Kota Cimahi

Kelangkaan elpiji si melon juga kerap terjadi di wilayah Kabupaten Bandung dan merepotkan ibu rumah tangga di daerah itu.

“Bayangkan pekan lalu, elpiji tidak ada di agen hingga sepekan. Bahkan di rumah saya sampai tak bisa memasak hingga dua hari. Untuk gunakan kayu bakar, saya sudah tidak punya tungku lagi,” katanya.

Sejumlah penjual elpiji malah memperkenalkan ukuran 5,5 kilogram atau elpiji tabung berwarna ‘pink’. Namun warga enggan membeli lagi tabung pink itu karena harganya mahal.

BACA JUGA:  Kawal Pembangunan, Sekber Wartawan Depok Intens Diskusi dan Tukar Pendapat dengan OPD

“Ada juga yang sistem barter, dua si melon tambah uang Rp150 ribu jadi satu tabung elpiji 5,5 kg. Tapi saya masih pikir-pikir, takut tabung 5,5 kg juga nanti sulit seperti si melon,” katanya.

Sementara itu sejumlah agen penyaluran elpiji 3 kg juga mengeluhkan pasokan yang dibatasi, sehingga banyak tabung kosong yang menumpuk di kiosnya.

“Silakan lihat di gudang saya, semuanya kosong, warga sering tidak percaya padahal pasokan memang dibatasi,” kata salah seorang pedagang elpiji 3 Kg di Cipara Kabupaten Bandung menambahkan.

Sumber: Antara Jabar

Komentar

komentar