Dahsyatnya Kekuatan Do’a

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Maesya Bani

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang sempurna. Namun tidak menutup kemungkinan manusia juga memiliki keterbatasan. Banyak hal yang terjadi diluar kemampuan manusia untuk mengatasinya. Jika sudah seperti itu seringkali manusia menjadi putus asa. Lalu bersandar pada orang lain ataupun benda-benda yang dianggap dapat memberi solusi atas permasalahan. Hal tersebut membuat manusia lupa bahwa sang pencipta selalu ada bersamanya.

Ada sebuah kekuatan yang dapat menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mewujudkan kata semoga, mendinginkan api yang panas, jugamembelah lautan yang membentang. Kekuatan dahsyat itu adalah do’a yang dipanjatkan oleh seorang hamba. Seperti yang tertulis dalam surat cintaNya : “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mukmin:60).

Fenomena yang terjadi saat ini adalah seringnya manusia lalai dalam berdo’a kepadaNya. Terburu-buru meninggalkan sajadah selepas shalat, padahal itu adalah waktu yang mustajab untuk memanjatkan do’a. Bahkan tak jarang ketika berhadapan dengan suatu masalah, manusia lupa akan penciptaNya. Sehingga mereka berpaling dan berlindung kepada selainNya. Padahal sudah banyak kisah yang menegaskan dahsyatnya kekuatan sebuah do’a.

Ada sebuah kisah yang diambil dari hadits riwayat At-Thabari. Kisah dari seorang pebisnis yang taat bernama Abu Ma’laq. Suatu hari dalam perjalanan bisnisnya, Ia dihadang oleh seorang penyamun. Semua hartanya dirampas, bahkan nyawa pun ingin direnggut oleh penyamun tersebut. Di tengah kondisi mendesak tersebut, Abu Ma’laq tetap berserah diri pada Allah. Ia meminta izin pada sang penyamun untuk shalat terlebih dahulu sebelum penyamun tersebut membunuhnya.

Sang penyamun mengizinkan, dengan segera Abu Ma’laq mengambil air wudhu kemudian shalat empat raka’at. Usai shalat, Abu Ma’laq mengadahkan kedua tanggannya seraya berdo’a. Do’a yang dipanjatkan Abu Ma’laq diulang sebanyak tiga kali dengan sangat khusyu’. Dengan tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang membawa tombak langsung membunuh sang penyamun. Sang penunggang kuda pun memperkenalkan dirinya dihadapan Abu Ma’laq. Lalu bercerita bahwa dia lah malaikat yang diutus oleh Allah untuk menolong Abu Ma’laq.

Dari kisah diatas sudah jelas terlihat bahwa Allah selalu ada untuk hambaNya. Allah selalu menghadirkan solusi atas setiap permasalahan manusia. Manusia hanya perlu berdo’a karena melalui do’a seorang hamba dapat berinteraksi dengan penciptanya. Rasulullah SAW bersabda: “Do’a adalah senjata kaum muslimin dan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi”.

Karena itu sebagai manusia haruslah senantiasa memanjatkan do’a pada Allah. Melalui do’a, manusia dapat bercerita dan mengadukan segala keluh kesahnya. Meminta pertolongan dan solusi dari sebuah permasalahan. Segera dimulai dari sekarang dan dimulai dari diri sendiri. Do’a tidak hanya untuk diri sendiri, jauh lebih baik kalau mendo’akan orang lain pula.Karena kita tidak akan tau do’a mana yang akan dikabulkan olehNya. Dikabulkan saat ini, ditunda, atau diganti oleh yang lebih baik? Wallahu a’lam. (Maesya’bani-Mahasiswi STEI SEBI Depok)

Komentar

komentar