Konsepkan Kampung Pembauran, Pemkot Depok Gandeng Fisip UI

Ilustrasi Fisip UI. (Istimewa)
Ilustrasi Fisip UI. (Istimewa)

DEPOK – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melalui  Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Depok bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (Fisip UI) dalam upaya penguatan konsep dan indikator terkait Kampung Pembauran.

Guna membahas hal tersebut, Kesbangpol dan Fisip UI mengadakan pertemuan yang berlangsung Aula Nuraini, Fisip UI, Rabu (16/11/2016).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Kantor Kesbangpol, unsur Beppeda, unsur Disporaparsenbud, Lurah Limo, perwakilan Dosen Fisip UI, Ketua FPK, sejarawan, Ketua RT Cisalak, serta perwakilan RW Limo.

“Kampung Pembauran merupakan sebuah rule model dan ini harus direncanakan dengan matang. Kampung Pembauran tidak hanya di-launching sebagai kampung biasa, tetapi harus punya basis keilmuan dan metodologi yang kuat,” ujar Kepala Kantor Kesbangpol, Dadang Wihana.

Pria yang pernah menjabat sebagai Camat Sukmajaya itu menyampaikan akan menentukan empat indikator dari Kampung Pembauran, seperti aspek sosial, budaya, kultur, serta simbol.

“Sub inilah yang akan kita kuatkan di sini. Bila indikatornya sudah sepakat, maka akan kita mulai dengan tingkatan strata, diantaranya mula, madya, nindya dan utama. Yang menentukan strata tersebut bisa dinilai dari etnis, agama dan sebagainya pada sebuah Kampung Pembauran,” tambahnya.

Target yang ingin dicapai, lanjutnya, adalah Depok untuk Indonesia 1, yang nantinya akan terintegrasi sosial dan pada akhirnya terintegrasi nasional.

“Tunjukkan bahwa Depok beragam suku, budaya, etnis, agama tapi saling menghargai dan tetap 1. Tagline Depok Kota Bersahabat, kita wujudkan dari Depok untuk Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu Dosen Fisip UI, Agnes yang kala itu hadir, merespon positif konsep yang dirancang oleh Kantor Kesbangpol. Dirinya memberi beberapa masukan untuk kebaikan dan demi terwujudnya Kampung Pembauran yang matang.

“Tradisi kebersamaan harus terus dilestarikan. Jangan sampai ada kesenjangan sosial antar satu suku dengan suku lainnya. Misal, nantinya akan ada peragaan budaya barongsai di tengah masyarakat. Hal inilah yang perlu dipertunjukan. Harus ada konsep humanisnya,” jelas Agnes.

Komentar

komentar