Kapolri: Jangan Ada yang Ganggu Aksi Bela Islam III di Monas

kapolri_2.jpg

DEPOKPOS – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengapresiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfasiltasi pertemuan dengan GNPF-MUI hingga melahirkan kesepakatan terkait Aksi Bela Islam Jilid III, 2 November 2016 mendatang.

“Sebelumnya GNPF-MUI akan melaksanakan aksi dan kegiatan zikir, tausyiah, dan shalat Jum’at di Bunderan HI hingga Sudirman. Jika dilaksanakan di tempat itu akan menganggu ketertiban umum dan menganggu Hak Asasi orang lain,” kata Kapolri dalam konferensi pers di Gedung MUI, Senin (28/11) siang.

Hadir dalam jumpa pers tersebut, sejumlah pengurus MUI, seperti Anwar Abbas, Zaitut Tauhid, dan Amirsyah Tambunan. Sedangkan ulama yang tergabung dalam GNPF-MUI, diantaranya: Ustadz Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Syihab, Ustadz Zaitun Rasmin, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’I, ulama ternama KH. Abdullah Gymnastiar.

BACA JUGA:  Lebih Transparan dan Akuntabel, MCA-Indonesia Dukung Modernisasi Pengadaan

Dikatakan Tito, Ada Undang-undang yang mengatur terkait larangan mengganggu ketertiban umum, yakni UU No 9 tahun 1998. Pasal 6 menyebutkan, bahwa pelaksanaan unjuk rasa tidak boleh menganggu ketertiban umum dan hak asasi orang lain. Kemudian Pasal 15 menjelaskan, bila Pasal 6 dilanggar, maka pihak aparat dapat melakukan pembubaran.

“Polri akan menjadi preseden buruk, jika ada unjuk rasa dari kalangan elemen dilakukan dengan modus yang sama, dengan mengatasnamakan kegiatan keagamaan, lalu mengambil jalan protokol, sehingga mengganggu ketertiban umum,”ungkap Tito.

BACA JUGA:  Pemerintah Blokir Situs Resmi HTI

Lebih lanjut Kapolri menegaskan, jika setiap Jum’at, kegiatan keagamaan dilaksanakan di Bunderan HI dan sepanjang jalan Sudirman, akan mengganggu ketertiban umum. Bahkan, bukan hanya di Jakarta, tapi juga daerah dan kota besar lainnya.

“Saya pernah jadi Kapolda di Papua. Seperti diketahui, jalan yang menghubungkan Jayapura ke Santani itu cuma satu. Kalau akses jalan ditutup dengan kegiatan keagamaan seperti KKR, katakanlah seribu orang saja, kota itu sudah lumpuh dan berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Tito mengingatkan, kegiatan lain diluar Aksi Bela Islam III, sebaiknya ditunda, diganti dengan hari lain. Jangan sampai mengganggu kesucian ibadah di Monas dan peserta aksi yang berzikir. “Kalau ada kegiatan aksi buruh, lalu di sebelahnya ada aksi buruh yang berteriak, tentu akan menganggu kesucian dan ibadah umat Islam di Monas.”

BACA JUGA:  Wali Kota Lantik Sejumlah Pejabat Baru di Lingkungan Pemkot Depok

Tito memastikan, diluar arena kegiatan ini bukan tanggungjawab GNPF lagi. Polri akan melakukan pengamanan, dan meminta warga untuk tertib. Jadi bukan hanya peserta aksi yang berzikir, polisi pun akan ikut berzikir. “Kami ingatkan, jangan ada yang menganggu acara ini, dengan aksi kriminal, ataupun menganggu warga lain.” (desastian)

Komentar

komentar