Sekolah Master Digusur, Pengelola: Jangan Adu Kami Dengan Pemkot

180614_201463819864280_981321_n

Depokpos (4/9) – Digusurnya 12 kelas di  sekolah Masjid Terminal (Master)  oleh developer terminal terpadu Depok berakibat terbengkalainya proses belajar ratusan siswa di sekolah tersebut. Ratusan siswa terpaksa belajar ditempat seadanya, bahkan hingga pelataran masijd.

Nurrohim, Ketua Yayasan Bina Insan Mandiri mengatakan pihak Master sejak awal kooperatif dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok ataupun developer. Lahan yang dibongkar tersebut disadarinya menjadi bagian fasos (fasilitas sosial) Terminal Depok walaupun di dalamnya ada bukti hibah dari PT Purnama, sebelum beralih ke PT Andika Investama.

Dalam kesepakatan bersama dengan PT Andika Investama dan Pemkot Depok tertanggal Februari 2015, mereka akan melakukan pembongkaran setelah 12 ruang sekolah yang selama ini diperuntukkan bagi SD dan SMP selesai dibangun kembali.

Nurrohim juga menyayangkan adanya pihak-pihak dan pemberitaan media yang mengatakan bahwa Sekolah Master berhadapan dengan Pemkot terkait masalah penggusuran ini.

“Jangan adu kami dengan Pemkot, sering diberitakan kalau Master berhadapan dengan Pemkot. Yang berurusan itu Master dan Andhika” katanya.

“Atau jangan kami dihadapkan dengan preman yang sebenarnya bagian dari kami, orang-orang yang dibesarkan dan memperoleh manfaat dari Master juga. Mereka itu adik dan anak-anak kami, juga isu yang menyatakan Master menyerobot dan menguasai lahan negara,” tegasnya menyikapi pihak developer yang menggunakan jasa sekelompok massa tak dikenal.

Dia mengatakan, lahan yang digunakan untuk menjadi rumah dan bernaungnya masyarakat dan orang jalanan di kawasan Terminal Depok sejak 1999 ini resmi bersertifikat. Pihaknya membeli dari warga seluas 4.000 meter persegi, ditambah 2.000 meter persegi yang di dalamnya termasuk 680 meter persegi berupa hibah dan sisanya diklaim sebagai fasos, dari seluruh area terminal seluas 2,5 ha.

“Dan, 2. 000 meter persegi itu kami persilakan, dan jangan coba untuk malah mengambil garis jalan masuk sampai musholla, yang resmi bersertifikat beli dari warga,” tegas Nurrohim.

Sementara itu, pengurus Sekolah Master, Gufron, mengatakan bahwa kelas yang digusur memang berada di atas lahan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Namun, pihak pengurus Sekolah Master dan Pemkot Depok telah sepakat untuk membangunkan terlebih dahulu ruang kelas baru di lahan milik yayasan sebelum dilakukan penggusuran.

“Kami maunya diganti dulu ruangannya baru dibongkar enggak apa-apa. Jangan seperti ini, dibongkar tapi enggak ada ruang kelas pengganti,” kata Gufron di Sekolah Master Depok, Jumat (4/9).

Komentar

komentar