Masterpedia 2015, Tapak Tilas Sekolah Master dan Aksi Solidaritas #SaveMaster

Masterpedia 2015, Cahaya Dari Sudut Terminal. (des/depokpos)
Masterpedia 2015, Cahaya Dari Sudut Terminal. (des/depokpos)

Depokpos (22/9) – Tempat belajar anak miskin kota yang tak dipungut biaya ini, kini kondisinya semakin sempit.

Sebagai bentuk keperihatinan dan kepedulian, para siswa dan alumni serta simpatisan Sekolah Master menggelar “Masterpedia 2015”, sebuah napak tilas Sekolah Master berdiri sejak tahun 2000.

Dalam kegiatan ini, siswa dan undangan yang hadir diajak untuk keliling wisata menelusuri sekolah yang berbentuk kontainer warna-warni tersebut. Mereka menyebutnya Museum Master. Berbagai galeri prestasi alumni dan karya anak Master dipamerkan disini, Jalan Margonda Raya No.58 Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas Terminal Terpadu Kota Depok.

Masterpedia 2015 dengan tagline “Cahaya Dari Sudut Terminal” dirangkai dengan Talkshow oleh para alumni berprestasi, dan pembacaan Proklamaster menolak penggsuran Sekolah Master yang berada di bawah Flyover Jalan Arif Rahman Hakim dan Terminal Depok.

BACA JUGA:  Peringati Tahun Baru Islam, Wali Kota Sumbang Rp100 Juta Untuk Palestina

Terlihat  bentangan spanduk di sekolah anak jalan ini bertuliskan:  “Rakyat Butuh Sekolah Bukan Apartement!”, “Sekolah Master Digusur, Walikota Kemana?”, “Tolak Penggusuran Sekolah Master”, “Anak Master Menolak Penggusuran”, “RIP Hati Nurani PT. Andika Investa”, #Save Master.

Salah satu spanduk yang terbentang sebagai bentuk protes penggusuran sekplah master. (des/depokpos)
Salah satu spanduk yang terbentang sebagai bentuk protes penggusuran sekolah master. (des/depokpos)

Pendiri dan Pimpinan Sekolah Master, Nurrohim menjelaskan, dari luas area 6.000 meter, Sekolah Master terdiri dari 25 kelas, dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Sejak berdiri 15 tahun yang lalu (28 Oktober 2000), Sekolah Master telah menghasilkan lulusannya sebanyak 45.000 alumni.

BACA JUGA:  Penggantian Antar Waktu (PAW), Rudi Setiawan Dilantik Jadi Anggota DPRD Kota Depok

“Setiap tahunnya anak didiknya selalu mengikuti ujian Ujian Nasional yang telah disetarakan dengan sekolah negeri pada umumnya. Di antara alumninya, ada lolos seleksi masuk ke perguruan tinggi favorit, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Diponogoro (UNDIP), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Sudirman (UNSUD), dan sebagainya. Para alumni ini berkumpul untuk membahas solusi terbaik bagi sekolah master, tempat mereka menimba ilmu secara gratis,” kata Nurrohim.

(des/depokpos)
(des/depokpos)

Salah satu Alumni Sekolah Master Angkatan 2015, Dzulfikar Akbar Cordova, yang sehari-harinya pengamen jalanan, mengaku kecewa jika Sekolahnya tempat menimba ilmu harus digusur. Menurutnya, Sekolah Master adalah tempat kami merubah pandangan tentang masa depan. Jika sekolah ini tidak ada lagi, siapa yang akan menolong adik-adik kami yang masih hidup di jalanan.

BACA JUGA:  Persetujuan DPRD Kota Depok Terhadap Perubahan APBD Kota Depok Tahun 2017 dan Dua Raperda

“Sekolah Master adalah model pendidikan kaum tertindas yang termaginalkan yang harus tetap ada dan memperjuangkan pendidikan tersebut sebelum pendidikan kaum kapitalis merajalela. Sekolah Master bukan hanya tempat kami belajar, tapi sudah menjadi Istana kami. Disini kami sudah seperti saudara sendiri,” kata Dzulfikar yang diterima menjadi Mahasiswa UI Fakultas Ekonomi Islam ini bangga. (Desastian)

Komentar

komentar